oleh

Ratusan Peserta Pelatihan Diduga Kena Tipu, Disnaker Lotim akan Polisikan LPK Palapa

banner 300500

Kasus dugaan penipuan yang dilakukan oleh lembaga pelatihan kerja di Lotim kembali terjadi. Kali ini ratusan peserta menjadi korban, di mana masing-masing dari mereka mengeluarkan dana hingga jutaan rupiah.

LOMBOK TIMUR, Corongrakyat.co.id- Dugaan kasus penipuan oleh lembaga kursus kembali terjadi di Lombok Timur. Kali ini dilakukan oleh pengelola Lembaga Pelatihan dan Keterampilan (LPK) Palapa yang beralamat di Kelurahan Tanjung, Labuhan Haji, di mana menimbulkan tidak kurang 100 korban yang menjadi peserta dari pelatihan.

Disampaikan oleh Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial pada Dinas Ketenagakerjaan Lotim, Mulki jika pihaknya telah menerima aduan dari 50 orang perwakilan peserta pelatihan. Dikatakan dia juga, pihaknya telah berupaya untuk memediasi antara para korban dengan pengurus LPK Palapa guna sesegera mungkin memenuhi kewajibannya kepada para korban, tapi sejauh ini pihak LPK Palapa masih belum beritikad baik.

“Kami sudah terima aduan korban, kami juga sudah berupaya untuk menghubungi pengelola dari LPK Palapa, dia janji dari kemarin, sekarang juga, tapi dia tunda lagi,” katanya saat menerima kedatangan dari korban, Kamis (26/08/2021).

Diakui dia juga, pihaknya akan tetap berupaya melakukan langkah advokasi, agar hak dari korban segera dipenuhi, bahkan jika tidak ada itikad baik, pihaknya akan langsung mengawal kasus itu ke pihak kepolisian. “Kita pasti akan advokasi, bahkan sampai ke APH,” tegasnya.

Dijelaskan dia juga, pihaknya mengakui jika LPK Palapa memiliki izin operasional dari Dinas Tenaga Kerja, di mana izin itu terbit pada tahun 2017, namun saat ini LPK Palapa sudah tidak lagi beroperasi di Lotim. “Benar ada izinnya di tahun 2017, itu diterbitkan oleh Disnaker melalui Bidang Bina Latas,” ujarnya.

Apa yang disampaikan oleh Mulki selaras dengan yang disampaikan oleh mantan manajer LPK Palapa, Habiburrahman, bahkan dikatakan dia sejak dirinya masuk menjadi manajer di LPK itu pada bulan
Maret 2020, tidak pernah mendapatkan haknya berupa gaji, dari itu dia juga menuntut pengelola untuk membayar haknya. Bahkan selain itu, dirinya juga merasa memiliki beban moral, karena dirinya juga turut serta mencari calon peserta untuk mengikuti pelatihan, tapi nyatanya setelah peserta menyerahkan sejumlah dana dan selesai mengikuti pelatihan, hingga satu tahun lamanya, para peserta itu tak kunjung mendapat pekerjaan seperti yang dijanjikan sebelumnya. Dari itu ia juga menuntut pihak pengelola untuk memenuhi janji dan hak para peserta.

“Saya tidak pernah menerima hak saya. Para peserta juga demikian, padahal dijanjikan mereka langsung diterima kerja setelah selesai pelatihan. Untuk jurusan perhotelan dana yang diserahkan Rp 4,5 juta dan untuk kebandaraan Rp 9,5 juta, itu include janjinya dulu di dalam surat perjanjian,” jelasnya dan menyatakan jika terdapat juga pungutan lain berupa pungutan uang wisuda sebesar Rp 2 juta yang wajib disetorkan oleh setiap peserta, sehingga itulah salah satu alasan dia berani mengungkap kebijakan dari pengelola yang ia nilai melakukan penipuan.

“Itu juga alasan saya, begitu aneh kebijakannya dan memang itu penipuan karena fasilitas yang ada juga tidak sesuai. Maka saya siap menjadi saksi dalam kasus ini,” tegasnya.

Peserta pelatihan di LKP Palapa juga menuntut apa yang menjadi janji dari pengelola LKP, dua diantaranya adalah M. Resa Harianto dan Rofika Septiana. Saat diwawancarai, baik Resa dan Rofika meminta janji pengelola untuk segera dipekerjakan sesuai dengan jurusan di saat mereka menjalani pelatihan selama 6 bulan lamanya.

“Saya angkatan pertama dan mengambil jurusan perhotelan, saya sudah berikan uang 4,5 juta. Tapi ternyata sudah satu tahun belum juga kerja,” kata Resa.

Demikian juga diakui Rofika, ia sudah menyetorkan uang sebanyak Rp 9,5 juta, dan sudah menjalani training 3 bulan sebagai staf chek ini di Bandara Zainuddin Abdul Madjid, tapi nyatanya setelah itu selesai dia lalui, pekerjaan sesuai dengan bidangnya tidak kunjung dia dapatkan.

“Saya dijanjikan kerja sebagai staf chek ini bandara, tapi nyatanya itu tidak juga saya dapatkan pekerjaan itu,” sesalnya.

Terkait dengan itu, pihak pengelola LKP Palapa, Muhyadi saat dicoba untuk dihubungi oleh media ini melalui sambungan seluler nomor kontaknya tidak dapat dihubungi. (Cr-Pin)

BERITA TERKAIT