oleh

Sekolah Kebudayaan Dibangun, Sembalun Diharap Jadi Poros Peradaban Nusantara

banner 300500

Wabup Rumaksi hadiri acara Penyawek pembangunan Sekolah Kebudayaan di Sembalun. Diharapkan dengan keberadaan Sekolah Kebudayaan itu, Sembalun akan menjadi poros Kebudayaan Nusantara.

LOMBOK TIMUR, Corongrakyat.co.id- Wakil Bupati Lombok Timur, H. Rumaksi SJ, S.H menghadiri acara penyawek (awalan, red) pembangunan Sekolah Kebudayaan yang diinisiasi oleh Yayasan Peneleh Yang Utama di Desa Sembalun Bumbung.

Hadir dalam acara itu Ketua Yayasan Peneleh Utama, Dr. Dedi Munawarman dan Prof. Gatot selaku Ketua Yayasana Peneleh Utama NTB, Ketua Lembaga Adat Sembalun, semua unsur Forkopimca Sembalun, seluruh Kepala Desa se-Kecamatan Sembalun berserta segenap tokoh agama, adat dan masyarakat di Sembalun.

Wabup Rumaksi yang juga dimandatkan sebagai pengraksa adat Sembalun dalam kesempatan itu menyatakan jika Sekolah Kebudayaan sangat dibutuhkan. Mengigat dikatakan dia budaya adalah identitas yang mencerminkan karakter, di mana hal itu terancam tergerus oleh arus modernisme yang tidak jarang bertentangan dengan nilai kearifan lokal.

“Kalau kita berbicara budaya, itu artinya kita berbicara adab. Dari itu pemahaman kita terhadap agama dan budaya harus komprehensif, karena keduanya tidaklah bertentangan,” kata dia, Jum’at (18/06/2021).

Masih kata Rumaksi, dirinya selaku pimpinan daerah sangat berterimakasih atas kepedulian pihak eksternal (Yayasan Peneleh Yang Utama, red) atas konsentrasinya dalam menjaga kelestarian kebudayaan lokal. “Sembalun sebagai pusat pariwisata tidak boleh kehilangan jati diri. Dari itu kami sangat berterimakasih, kami pun siap untuk berpartisipasi dalam ikhtiar ini,” lanjut dia sembari mengatakan jika masyarakat Sembalun harus andil berpartisipasi dalam hal itu.

“Pak Camat harus mendorong semua kepala desa untuk mengajak warganya bergotong-royong,” tegasnya.

Sementara itu, Dr. Dedi selaku Ketua Yayasan Peneleh Yang Utama memaparkan jika Sekolah Kebudayaan yang akan dibangun akan terintegrasi dengan Masjid Kampus, sebab kebudayaan diterangkan dia harus di internalisasi melalui nilai budaya dan religi. Sebab dua hal itu dianggap sebagai roh peradaban.

“Berfikir tentang kebudayaan, maka harus ada tempat untuk kita berinteraksi dengan kebudayaan. Masjid dan Sekolah tidak boleh terpisah,” tegasnya.

Dari itu dikatakan dia, pembangunan Sekolah Kebudayaan yang akan dimulai (29/07, red) itu tidak akan menanggalkan konsep harmonisasi antara ritual budaya dan ritus agama sedikitpun, karena ditegaskan dia perpaduan dari dua hal itulah yang menjadi spirit utama nilai kebangsaan.

“Kami berharap Sembalun akan menjadi pusat kebudayaan Nusantara. Kami berharap dengan adanya Sekolah Kebudayaan menjadi awal untuk mencapai itu,” harapnya. (Cr-Pin)

BERITA TERKAIT