Otak Koko’ Joben Minim Perhatian, Dispar Terkesan Tutup Mata

 

Pengunjung destinasi wisata Otak Koko’ Joben keluhkan minimnya fasilitas pendukung di tempat wisata itu. Terlihat jelas, sampah plastik berserakan, hingga terkesan objek wisata kenamaan itu tidak terurus oleh Dispar Lotim selaku pengelola.

LOMBOK TIMUR, Corongrakyat.co.id- Dinas Pariwisata Lombok Timur nampaknya terkesan tidak serius dalam mengelola destinasi wisata, padahal hal itu merupakan sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang mestinya harus ditata dan dimaksimalkan untuk optimalisasi realisasi PAD.

Salah satu destinasi wisata yang tampak kurang terurus adalah objek wisata pemandian Otak Koko’ Joben yang berada di Desa Pesanggrahan Kecamatan Montong Gading.

Salah seorang pengunjung asal Jerowaru, Mugani menyatakan fasilitas yang tersedia di lokasi wisata Otak Koko’ sangat minim, seperti contohnya tong sampah, yang mengakibatkan plastik berceceran di sekitar lokasi.

“Di sini banyak sampah plastik, tempat sampah minim. Padahal setiap pengunjung dikenakan tiket masuk Rp7 ribu,” katanya.

Belum lagi yang dikeluhkan oleh Wiwin, pengunjung asal Sakra Timur, menurutnya destinasi Otak Koko’ Joben tidak mempertimbangkan kebutuhan khusus bagi perempuan, semisal ruang ganti pakaian, sehingga diakui dia, pengunjung perempuan kesusahan (risih, red) jika akan mengganti baju, sesaat setelah berendam di kolam pemandian Otak Koko’.

“Lokasi ini kurang ramah bagi perempuan mas. Kami risih kalau mau ganti baju. Memang ada, tapi kotor. Kenapa itu gak diperhatikan. Kalau bisa ada tempat jemur pakaian basah juga,” harapnya.

Lain lagi yang dijelaskan oleh salah satu pedagang di dalam lokasi destinasi wisata, sebut saja Inak Bunga (bukan nama sebenarnya, red), diakui dia para pedagang tetap ditarik retribusi oleh petugas Dispar Lotim sebesar Rp 5 ribu setiap hari, tapi diakui Dispar ataupun dinas terkait tidak pernah menata atau memperbaiki lapak para pedagang, sehingga tampaknya serampangan.

“Tetap kami keluarkan Rp 5 ribu, tapi kita tidak pernah dibantu diperbaiki, apalagi dikasi bantuan,” tuturnya dalam bahasa Sasak.

Diakui dia juga, saat ini pengunjung di destinasi Otak Koko’ sudah meningkat, setelah sebelumnya sempat lesu hampir 2 tahun sejak Pandemi Covid-19. Dari itu dia sangat mengharapkan, Pemda Lotim memperbaiki dan menambah fasilitas pendukung, agar para pengunjung betah dan nyaman, sehingga kunjungan terus meningkat. Terlebih katanya, saat ini Lombok akan menjadi tuan rumah even berskala internasional.

“Kami harap diperbaiki, paling tidak ada tambahan tempat sampah, agar pengunjung tidak buang sampah sembarangan,” harapnya.

Dihubungi terpisah melalui aplikasi percakapan, Kepala Dinas Pariwisata Lotim, Dr. Mugni membenarkan apa yang dikeluhkan oleh pengunjung. Sebab kata dia, sejak tahun 2015 Pemda Lotim tidak diperbolehkan melakukan perbaikan atau membangun fasilitas pendukung di kawasan itu, lantaran tersangka sengketa dengan pihak Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR).

“Kita ada konflik dengan TNGR, jadi terjadi status quo. Tapi selama itu tetap dikelola oleh Pemda untuk sumber PAD,” jelasnya.

Dijanjikan oleh dia, pada tahun 2022 nanti, pihaknya akan melakukan pembenahan infrastruktur pendukungnya di Otak Koko’ Joben. Hal itu, bisa dilakukan karena per Februari 2021, sengketa berkepanjangan antara Pemda Lotim dengan TNGR telah ditemukan titik penyelesaian, di mana disepakati Otak Koko’ Joben adalah destinasi wisata terpadu.

“Nanti tahun 2022 Pembangunan fasilitas akan dimulai oleh Pemda lotim dan BTNGR serta Semua faslitas yg dikeluhkan akan dilengkapi terkait adanya sampah plastik yg tidak tertangani kita akan segera evaluasi para petugas lapangn yang salah satu tugas meraka yakni membuat joben bersih. (Pin)