oleh

Pemuda, Antara Sampah dan Iman

banner 300500

ADAGIUM pemuda adalah pesta dan candu bagi pemilik dan pelaku kuasa, pejabat, dan politisi, pemuda sebagai komoditi memiliki nilai jual tinggi yang hampir sama dengan masyarakat miskin di Desa atau kota, sebagai alat meraih kuasa dan pendongkrak popularitas.

Popularitas sebagai sebuah prestise dan hasil kerja politik kemudian dikamuflase menjadi barang antik dengan multi khasiat, diracik, sesuai kebutuhan tampa didasari pertimbangan maslahat dan mafsadat. Pemuda akhirnya tumbuh dan berkembang seperti kehendak penguasa, politisi dan pemegang kuasa, pemuda tidak lagi hidup dan berkembang dengan naluri dasarnya sebagai Agen of change.

Dalam literatur kepemudaan, kemajuan dan kemandirian suatu bangsa diukur dengan kifrah dan peran pemudanya, semakin pemudanya berkiprah semakin maju bangsa itu, ada banyak indikator penting sebagai alat ukur kemajuan bangsa dilirik dari pemuda, salah satunya adalah keseimbangan antara pemahaman keilmuan dan kesadaran implementasi dari disiplin keilmuan Pemuda.

Kesadaran pemuda adalah estafet perjuangan bangsa yang kuat dan penting, lemah dan abai terhadap kesadaran pemuda akan berakibat runtuhnya loyalitas pemuda kepada bangsanya.

Bangsa yang ingin maju kuat dan besar harus memiliki savety sistem dan detektor untuk menyadap informasi yang berkeliaran disekitar mereka kemudian merubahnya menjadi umpan untuk membangkitkan kembali gairah pemuda.

Indonesia sendiri secara umum dan lombok timur secara khusus memiliki masalah yang sama yaitu menghasilkan 0,7 kg/ hari sehingga apabila dikalkulasikan dengan jumlah penduduk maka dalam seharinya sampah yang dihasilkan di Lombok timur sebanyak 500.000 ton perhari. Kondisi ini oleh pemuda akan diubah oleh detektor sensorik mereka, kemudian disimpan dalam savety sistemnya lalu diolah menjadi umpan balik untuk melahirkan kesadaran kaum muda dalam hal penanganan sampah.Inilah yang dimaksud oleh Q.S 18:13.

Kondisi pemuda yang hari ini lebih memilih tinggal dalam gua yang sepi tanpa bising adalah bukti ketumpulan mereka dalam menyikapi suatu persoalan, mereka adalah pemuda yang gagal faham kecuali mereka akan terbangun dan menyadari betapa zaman telah merampas masa lalu mereka dan terhempas jauh kebelakang.

Ditinggal oleh zaman dan peradaban sebelum mampu berbuat. Pemuda yang beriman sebagaimana maksud ayat diatas haruslah merespon positif masalah yang terjadi di lingkungan dan mengubahnya menjadi hal hal yang bisa bernilai ekonomis, bukan tidur dan merasa nyaman didalam persembunyiannya.

Akhir kata selamat kepada Forum Bajang Sakra Barat yang sukses menggelar acara Temu Silaturrahmi sekaligus sosialisasi penanganan sampah di kecamatan Sakra Barat yang berlangsung di Aula UPTD Sakra Barat pada Sabtu malam 11/09/2021.

Penulis: Khairil Anwar (Pemuda NWDI Sakra Barat)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA TERKAIT