oleh

Petani Tembakau Menjerit, APTI Dituding “Calo Kuota” di Situasi Krisis

banner 300500

Beberapa petani tembakau menilai APTI tidak pernah memperjuangkan nasib petani. Malahan menuding APTI sebagai tempat berkumpulnya para mafia yang memanfaatkan dan memperkosa nasib petani untuk kepentingan pragmatis.

LOMBOK TIMUR, Corongrakyat.co.id- Para petani tembakau virginia Lombok Timur pada masa musim tanam tahun ini menjerit. Pasalnya sampai dengan hampir habisnya tahap produksi tembakau (omprong, pengopenan, red) nilai beli perusahaan masih belum stabil (sangat rendah, red) padahal biaya yang dikeluarkan oleh para petani mulai dari tahap budidaya hingga pengopenan meningkat jika dibanding tahun sebelumnya.

Sontak saja, hal itu mengakibatkan petani tembakau terancam merugi, terlebih bagi petani swadaya (tidak bermitra dengan perusahaan, red), yang bermitra pun menjerit dan masih menyimpan hasil produksinya, menunggu nilai beli dari perusahaan mitranya tergolong layak.

Terkait keadaan itu, salah seorang petani tembakau virginia, Sawaludin menduga Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Lombok Timur selaku wadah yang menaungi petani tidak pernah memperjuangkan nasib petani, dan malahan menduga APTI menjadikan nasib petani sebagai alat untuk mencari keuntungan oleh para pengurusnya.

“Kami menduga kalau APTI minta jatah pembelian tembakau di perusahaan tembakau,” katanya, Kamis (02/09/2021).

Masih kata dia, dirinya mempertanyakan apa kontribusi kongkrit APTI dalam memperjuangkan nasib petani, dan menilai selama ini pengurus APTI menutup mata dan tidak peduli dengan petani. “Apa hasil APTI memperjuangkan nasib petani tembakau, buktinya petani tembakau terus menjerit teriak masalah harga yang sangat tidak layak,” sebutnya.

“Jangan kemudian APTI berteriak atasnama petani tembakau tapi hasil teriakannya belum berhasil memperjuangkan petani,” sambung dia lagi.

Lanjut dia, jika APTI betul memperjuangkan petani, kenapa tidak mengadvokasi petani sejak awal musim tanam, kenapa harus di saat masa penjualan, dan menilai pengurus APTI hanya omong kosong. “Apa APTI itu, mereka hanya omong kosong dan tidak pernah ada advokasi yang nyata, agar daya tawar petani itu kuat di perusahaan,” tegasnya.

Selain Sawaludin, salah seorang petani tembakau lainnya, Mastur juga mengatakan hal senada, jika perusahaan tidak pernah mau memperdulikan resiko petani, malahan dia menyatakan perusahaan berbisnis dan menindas petani dalam skema produksi yang selalu memberatkan petani.

“Perusahan malah saat ini posisinya menjadi bumerang, dia menindas petani dengan skema produksi yang meningkatkan chost produksi, sementara harga beli rendah,” tegasnya, dan mempertanyakan juga fungsi dari APTI yang dia nilai tidak pernah mengambil peran membela petani.

“APTI malahan jadi pengusaha, oknum pengurus APTI sering saya liat menjadi saudagar. Ayo pertemukan saya dengan Budi itu, kalau dia berani,” katanya.

Malahan kata dia, beberapa waktu yang lalu telah terbentuk forum yang katanya tujuannya akan memperjuangkan petani, di mana dalam forum itu juga terdapat pengurus APTI, tapi katanya forum itu berisikan para mafia yang mempermainkan dan menggerayangi nasib petani.

“Kemarin ada forum terbentuk, isinya ada pengurus APTI, HIPTAL dan lainnya, tapi mohon maaf di sana isinya mafia semua yang memperkosa nasib petani,” tegas sosok yang juga pernah menjadi bagian dari pengurus HIPTAL itu.

Ditempat terpisah Ketua APTI Lotim, L. Sahabudin seperti yang dikutip dari media gledek.com dengan tegas membantah tuduhan tersebut, karena pihaknya tidak pernah bermain apalagi sampai minta jatah pembelian ke perusahaan tembakau.

” Tidak benar tuduhan tersebut, tapi yang jelas APTI tetap memperjuangkan nasib petani tembakau agar mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah maupun perusahaan,” tegasnya. (Cr-Pin)

BERITA TERKAIT