oleh

Hampir 70 Ruang Kelas Hancur, Siswa SD Banyak Belajar di Teras Sekolah

banner 300500

Miris, 70 ruang belajar di 20 sekolah dasar rusak berat. Sejauh ini belum bisa diperbaiki, dan akan diusulkan nanti tahun 2022 melalui DAU.

LOMBOK TIMUR, Corongrakyat.co.id- Wajah dunia pendidikan dasar di Lombok Timur bisa dibilang sedikit buram, utamanya menyangkut kondisi bangunan (ruang kelas, red) yang cukup memprihatinkan. Sebenarnya pemerintah telah melakukan beberapa skema untuk memperbaiki hal itu, salah satunya dengan kucuran dana segar sebesar Rp 12 M lebih di tahun 2021 melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) guna merehabilitasi bangunan sekolah yang maksimal persentase kerusakannya 65 persen.

Menjadi miris kemudian, bagi beberapa sekolah yang tingkat kerusakannya lebih dari 65 persen atau 100 persen (rusak berat, red), secara otomatis tidak bisa dianggarkan melalui DAK, sekalipun menjadi prioritas pengusulan ke Kemendikbud dan Ristek.

“20 sekolah kita rusak berat, termasuk SDN 2 Selebung Ketangga, dan itu membutuhkan penanganan segera,” kata Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar, pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lotim, Hadi Jayari, (02/09/2021).

Masih kata dia, dari 20 sekolah yang alami kerusakan berat bangunannya itu, terdapat 70 ruang, yang di dominasi oleh ruang kelas, dan sebagian kecilnya ruang guru. Di mana berdasarkan hitungan kasar, akan menelan dana sekitar Rp 10,5 M. “Hampir 70 ruangan, estimasi beserta perabotannya 212 juta untuk ruang kelas dan 167 juta untuk rumah dinas, jadi total yang dibutuhkan 10,5 M,” jelasnya.

Dikatakan dia, pihaknya akan mengusulkan perbaikan bagi 70 ruang di 20 sekolah itu melalui Dana Alokasi Umum (DAU) atau di APBD Induk tahun anggaran 2022, dan secara khusus akan melayangkan surat ke Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) untuk segera disikapi.

“Kami akan bersurat ke Bupati dan TAPD, semoga dialokasikan kepada 20 sekolah itu,” sebutnya.

Lanjutnya, mengingat memasuki musin penghujan, pihaknya nanti akan mengusulkan pembangunan ruang kelas sementara pada sekolah yang memang sangat tidak laik bagi proses belajar mengajar, di mana per satu ruangan membutuhkan dana Rp 20 juta. “Pakai spandek nanti, biayanya sekitar 20 juta, nanti kita usulkan di perubahan,” ujarnya.

Terkait dengan kondisi itu, Kepala Sekolah SDN 2 Selebung Ketangga, L. Kertawireya berharap secepatnya bangunan sekolahnya segera diperbaiki, karena sangat menggangu proses pembelajaran siswa. “4 ruang kelas kami tidak dapat digunakan, itu memaksa 132 siswa kami belajar di teras dan musholla,” katanya.

Dirinya pun mengakui, sejak dia menjabat kepala sekolah 2018 lalu, telah beberapa kali melaporkan keadaan itu kepada pihak Dikbud, begitu pun dengan kepala sekolah sebelumnya, tapi tidak pernah digubris sama sekali. “Bahkan saya sudah kirimkan Pak Kabid foto dan lampiran lampiran yang diminta itu,” tandasnya. (Cr-Pin)

BERITA TERKAIT