oleh

Desa Lelet Serap DD, Bupati Khawatir Penanganan Covid-19 Tak Optimal

banner 300500

Dalam rapat dengan beberapa Kepala OPD dan para camat, Bupati Lotim kecewa dengan rendahnya serapan DD di Lotim. Alasan kecewanya bupati cukup beralasan, sebab dengan lambannya penyerapan DD oleh desa, maka penanggulangan Covid-19 akan tidak optimal, mengingat DD adalah salah satu stimulus dalam upaya itu.

LOMBOK TIMUR, Corongrakyat.co.id- Disebutkan Bupati Lombok Timur (Lotim) H.M Sukiman Azmy dalam rapat bersama dengan sejumlah Kepala OPD dan Camat guna percepatan pencairan Dana Desa (DD) untuk penanggulangan Pandemi Covid-19, Kamis, (18/02/2021).

Dalam rapat itu, bupati menyatakan serapan DD di Lotim sampai saat ini masih belum maksimal, bahkan ia mencatat baru 8 dari 239 desa yang sudah mencairkan DD-nya. Menurutnya hal itu sangat disayangkan, mengingat DD diharapkan menjadi stimulus untuk menggerakkan ekonomi masyarakat di tengah Pandemi Covid-19.

Pesan bupati, para camat diharapkan mampu mendorong desa untuk segera memenuhi persyaratan pencairan dana desa ini. Bupati meminta Camat dan OPD terkait seperti BPKAD, Inspektorat, dan DPMD berkoordinasi dan bersinergi untuk menuntaskan persoalan tersebut. Salah satunya dengan menyederhanakan prosedur, tentunya dengan pertanggungjawaban jelas.

Dalam kesempatan yang sama, bupati juga membahas kasus Covid-19 yang masih fluktuatif. Berdasarkan rilis terakhir Gugus Tugas Covid-19 Lotim, per-17 Februari 2021 kasus terkonfirmasi Covid-19 di daerah ini sebanyak 39 masih isolasi, 914 sembuh, dan 33 meninggal. Itu merupakan angka yang relatif tinggi sehingga pemerintah tidak boleh diam.

Bupati meminta seluruh OPD terkait segera mengambil langkah demi mencegah semakin meningkatnya kasus Covid-19 di Lotim.

Bupati meminta semua masyarakat tidak abai menerapkan protokol kesehatan mulai dari desa. Bupati juga meminta agar camat tidak memberikan izin untuk pelaksanaan acara tradisi seperti nyongkolan dan tradisi lainnya.

Selain itu ditekankan pula agar para camat dan jajarannya mengecek pelaksanaan protokol kesehatan di fasilitas publik, termasuk masjid dan sekolah. Bupati bahkan meminta diadakan test swab dengan metode sampling. Hal ini terkait munculnya kasus baru di Pondok Pesantren yang umumnya merupakan kasus tidak bergejala.

Contac tracing yang cepat dan tepat juga dituntut untuk mencegah penyebaran lebih luas. Penggunaan metode rapid antigen diharapkan dapat mempercepat proses. Metode ini dapat dilakukan oleh petugas Puskesmas yang ada di masing-masing wilayah dan telah diberi pelatihan memadai. (Cr-Pin)

BERITA TERKAIT