Pemkab Lombok Timur (Lotim) tengah mengantisipasi kemungkinan timbulnya kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Musim kemarau yang sedang melanda saat ini tidak hanya menimbulkan bencana kekeringan di 15 kecamatan, bahkan warga di Lotim bagian selatan mengalami kesulitan air bersih.
LOMBOK TIMUR, Corongrakyat.co.id- Kabid Kedaruratan dan Logistik pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lotim, Iwan Setiawan, Kamis (24/9) mengatakan, bersama dengan ratusan relawan yang saat ini terkonsentrasi di kantor BPBD dan di kecamatan-kecamatan, pihaknya mengantisipasi karhutla. ‘’Kita tidak ingin karhutla terjadi, tetapi langkah antisipasi harus diambil sejak dini,’’ katanya.
Manakala kasus karhutla terjadi, menurut Iwan, pihaknya akan menggerakkan atau menggeser relawan menuju tempat kejadian perkara (TKP).
‘’Bersinergi dengan Babinsa dan Bhabinkamtibmas di setiap desa, tentu saja kami akan berbuat maksimal untuk memadamkan api,’’ katanya.
Tidak hanya mengerahkan armada pemadam kebakaran (PMK), masyarakat sekitar TKP juga tentu akan membantu dengan mengerahkan kemampuannya.
Karhutla terjadi bisa disebabkan karena gesekan daun kering, terutama di padang savanna. ‘’Tetapi bisa juga karhutla terjadi karena penduduk tepi hutan sengaja membakar ilalang untuk membuka lahan pertanian,’’ katanya.
Bagi sebagian penduduk tepi hutan, membakar lahan untuk membuka lahan pertanian tentu lebih efisien ketimbang menggunakan mesin atau mengeluarkan biaya yang cukup mahal dengan mempekerjakan warga.
Satu hal yang menjadi atensi yakni mengupayakan agar ekonomi warga tepi hutan diperhatikan. ‘’Kalau ekonomi mereka bagus, tentu saja mereka tidak akan merusak hutan,’’ katanya.
Salah satu ikhtiar yang sedang dilaksanakan sebagai pemecahan masalah sosial ekonomi itu, yakni dengan memprioritaskan penduduk tepi hutan untuk memperoleh berbagai kemudahan menumbuhkembangkan ekonomi.
Melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) berupa ternak sapi kepada warga yang digagas oleh Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) diharapkan dapat menumbuhkembangkan ekonomi warga.
‘’KUR sapi itu telah berjalan, sambil kita terus melakukan pendataan,’’ kata Iwan yang juga Sekretaris HKTI NTB ini.
Atas persoalan ini, Iwan mengimbau kepada masyarakat untuk lebih waspada terhadap bahaya kebakaran, baik di lahan maupun di hutan. Warga diimbau untuk tidak sembarangan membuang puntung rokok di lahan kering. Termasuk juga bagi para pendaki Rinjani, agar lebih berhati-hati untuk tidak membuang puntung rokok dalam perjalanan pendakian. (*)










