Lombok Timur — Dr. Drs. H. M. Juaini Taofik, M.AP menegaskan bahwa pemuda memiliki peran strategis dalam menjaga persatuan bangsa di tengah derasnya perkembangan teknologi digital dan arus informasi global. Hal itu disampaikannya dalam dialog Hari Kebangkitan Nasional bertajuk “Peran Strategis Pemuda dalam Menjaga Persatuan Bangsa di Era Digital” yang diselenggarakan Komunitas Literasi dan Diskursus Politik (Narasi Politik), Jumat Malam (29/5/2026) di Kedai Teduh, Kembang Sari, Selong.
Dalam forum yang dihadiri mahasiswa, pemuda, dan masyarakat umum tersebut, Juaini Taofik menyoroti pentingnya kesiapan generasi muda menghadapi bonus demografi Indonesia. Menurutnya, sekitar 60 persen penduduk Indonesia saat ini berada pada usia produktif dan mayoritas pengguna internet berasal dari kalangan anak muda.
“Ini adalah peluang besar bagi bangsa Indonesia. Pemuda harus kreatif, adaptif, dan mampu memanfaatkan teknologi digital secara positif,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa banyak negara mengalami kemunduran karena tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, termasuk perkembangan digital yang sangat cepat. Oleh sebab itu, generasi muda diminta tidak menyia-nyiakan masa produktif hanya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.
“Jangan waktu muda hanya digunakan untuk foya-foya. Masa muda harus dimanfaatkan untuk belajar, membangun kapasitas diri, dan berkontribusi bagi bangsa,” tegasnya.
Dalam pemaparannya, Juaini Taofik juga menjelaskan fenomena echo chamber di media sosial, yakni kecenderungan seseorang hanya menerima informasi yang sejalan dengan pandangan pribadi atau kelompoknya. Kondisi tersebut dinilai dapat melahirkan fanatisme sempit dan intoleransi apabila tidak disikapi dengan bijak.
Menurutnya, Indonesia sebagai negara majemuk membutuhkan generasi muda yang terbuka, toleran, dan mampu menjaga harmoni sosial di tengah perbedaan.
“Pemuda tidak boleh menutup diri dan kurang pergaulan. Anak muda harus aktif berinteraksi, berdialog, dan memperluas wawasan agar tidak mudah terjebak pada sikap intoleran,” katanya.
Ia menambahkan, pemuda memiliki sejumlah peran strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, mulai dari agen persatuan nasional, pelopor literasi digital, hingga penggerak perubahan sosial melalui komunitas maupun organisasi kepemudaan.
Selain itu, pemuda juga dinilai memiliki tanggung jawab besar sebagai benteng terhadap radikalisme dan disinformasi di ruang digital.
Tidak hanya berbicara mengenai isu sosial dan kebangsaan, Juaini Taofik turut menekankan pentingnya keterlibatan pemuda dalam proses kebijakan publik. Menurutnya, kebijakan publik sejatinya hadir untuk menyelesaikan persoalan masyarakat sehingga partisipasi generasi muda dalam proses penyusunan kebijakan menjadi sangat penting.
Ia menjelaskan bahwa pemuda harus mulai memahami proses agenda setting atau penentuan isu prioritas dalam kebijakan publik, sebab tahapan tersebut menentukan arah pembangunan dan penyelesaian masalah di masyarakat.
“Peran pemuda dalam agenda setting sangat penting. Anak muda harus berani terlibat dalam proses penyusunan kebijakan agar kebijakan yang lahir benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat,” jelasnya.
Dialog berlangsung interaktif dengan berbagai tanggapan dan pertanyaan peserta terkait tantangan persatuan bangsa, perkembangan media sosial, hingga peran pemuda dalam menjaga demokrasi dan kebhinekaan di era digital.
Melalui kegiatan tersebut, Narasi Politik berharap lahir ruang diskusi yang mampu meningkatkan kesadaran politik, literasi digital, serta semangat kebangsaan di kalangan generasi muda.

