Puasa adalah “Riyadah” bagi pelakunya agar terbiasa disiplin dan bertanggung jawab, mampu mengontrol diri terhadap setiap perilakunya terlebih di saat sendiri tanpa orang lain yang terus menerus memandang mereka.
LOMBOK TIMUR, Corongrakyat.co.id -Perasaan saya kurang enak saat membahas kamuflase sekali lagi ,tetapi inilah judul yang paling elegant dan beresiko paling sedikit. Betapa tidak, seorang yang berpuasa dengan yang tidak sulit di bedakan, “Puasa itu untuk ku dan akulah yang akan memberikan imbalan” kurang lebih begitu terjemah haditsnya.
Dari aksioma semacam ini maka Shoimìin dan Shoimah (Orang yang berpuasa), Istilah ini perlu saya pertebal, agar persepsinya bukan juri Di Liga Dangdut yang di sorot. Lanjut orang yang berpuasa dituntut untuk jujur dengan identitasnya yakni bertanggung jawab dihadapan sang pemilik alam.
Puasa adalah “Riyadah” bagi pelakunya agar terbiasa disiplin dan bertanggung jawab, mampu mengontrol diri terhadap setiap perilakunya terlebih di saat sendiri tanpa orang lain yang terus menerus memandang mereka.
Puncak kesadaran orang yang berpuasa adalah keberanian untuk mencoba menempati posisi dimana orang lain merasakan sakitnya tidak makan dan minum bahkan tingkat “afdhalnya” ketika seseorang terikat oleh aturan yang tidak dikehendakinya seperti mencela dan dengki terhadap sesama.
Resultan yang di bentuk oleh “Tirakat” Puasa bukan vertikal semata dan tidak pula melulu menarik garis diagonal yang sejajar, adakalanya tuhan membolehkan seseorang untuk jeda dan menikmati hidup.
Logikanya menderita itu tidak selamnya atau senang, bahagia itu tidak dijamin abadi selamnya, Prototipe puasa adalah merasakan dan menarik kesimpulan tentang perasaan pada satu kondisi begitu prermis awalnya.
Masyarakat dengan latar belakang sosial yang beragam, lebih lagi dengan tingkat kesejahteraan yang tidak semua orang mampu meraih dan menempatinya menjadi bagian yang harus “dirolling” begitu tata tertib kehendak tuhan. Metode rolling semacam ini sangat adil. Hampir tidak ada lubang atau celah untuk mengorek ketimpangan sosial akibat keterbatasan akses bisnis dan karir politis.
Semua harus merasakan pahitnya menelan ludah dari rasa ingin, lapar, dahaga dan menahan diri dari perbuatan tercela lainnya. Puasa harus mampu menjadi kontestasi bagi ummat manusia entah dia kaya atau tidak sejahtera.
Rivalitas yang dibangun dari lomba puasa bukan menang atas orang lain tetapi berperang melawan diri sendiri, keangkuhan pribadi dan “takabbur” terselubung semua harus terkubur dikala lemah menahan lelah seharian selama “Puasa”. Adakah diantara kita yang dapat bersembunyi dari kondisi ini? hakikat semacam ini bukan “Milik” orang miskin saja, yang terbiasa hidup dalam kelaparan tetapi orang kaya mesti merasakan lapar.
Kamuflase yang dibangun oleh Eskalator kaya miskin menjadi pudar dan tidak berdaya di hadapan “Terminologi puasa” atau kuat lemah menjadi Tawar dikukus siang ramadhan yang lengang. (CR-Wenk).
OLEH : Charil Anwar, Jurnalis Kampung Media.







