Penelitian Dokter RSUD Soedjono Tentang Diagnosa Talasemia Jadi Terbaik Nasional

Salah satu tenaga kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. R. Soedjono kembali menorehkan prestasi yang patut dibanggakan bersama, karena objek kajian di penelitian itu sangat progresif untuk kemajuan dan peningkatan layanan kesehatan di Lombok Timur.

LOMBOK TIMUR, Corongtakyat.co.id- Kali ini raihan prestisius itu diraih oleh dr. Resna Hermawati, Sp.PK (K). Seorang dokter spesialis di rumah sakit kebanggaan masyarakat Lombok Timur itu berhasil menjadi juara pada lomba penelitian ilmiah tingkat nasional.

Kabar gembira itu langsung disampaikan oleh Direktur RSUD dr. R. Soedjono, dr. H. Tantowi Jauhari, Sp.B. Dijelaskan olehnya, dr. Resna jadi terbaik di lomba Scientific Paper Indonesia Mirah 2022 yang berlangsung di Jakarta awal November lalu.

Masih kata dia, dr. Resna yang juga kandidat doktor Universitas Airlangga itu, berhasil jadi juara, setelah mengangkat tulisan dengan judul “Nilai Diagnostik Panel Pemeriksaan Skrining Sederhana Talasemia Pada Daerah dengan Sumber Daya Terbatas di Lombok Timur”.

“Alhamdulillah dr. Resna menjadi yang terbaik di lomba tingkat nasional itu dengan membuat karya ilmiah yang sangat bermanfaat bagi Lombok Timur,” kata dr. Tantowi, Selasa (29/11/2029).

Lanjut dia, karya tulis ilmiah dari dokter spesialis patologi klinik dan konsultan hematologi itu sangat penting untuk diterapkan, khususnya pada fasilitas kesehatan tingkat pertama (Puskesmas-red) dengan keterbatasan peralatan laboratorium.

“Dengan penelitian dr. Resna itu, kedepan kita mampu melakukan diagnosa awal pada anak penderita penyakit Talasemia (gangguan darah genetik, red) dengan melakukan tracking ke orang tua dan keluarga pasien. Karena selama ini pasien kerab datang saat penyakitnya relatif berat, bahkan alami komplikasi,” bebernya.

Masih sambung dr. Tantowi, anak-anak pengidap penyakit Talasemia alami kekurangan hemoglobin (Hb), dengan gejala lemas, mudah lelah, mengantuk, bahkan terkadang sampai mengalami sesak nafas.

“Gejala itu memang tidak spesifik, karena ketika terlihat lemas, pucat, tidak ada tenaga, orang bisa saja mengatakan bahwa ini kurang asupan gizi. Padahal mungkin dia Talasemia,” kata Tantowi.

Menjadikan fasilitas kesehatan tingkat pertama, sebagai sampel dan lokus (tempat, objek-red) penelitian, menurut Tantowi, hasil penelitian itu ia nilai sangat progresif untuk mendukung perkembangan dunia kesehatan dan kualitas pelayanan kesehatan di Lombok Timur.

Dengan proses diagnosa dini di tingkat pertama, menurutnya, dipastikan akan banyak nyawa yang bisa diselamatkan. “Diagnosa awal akan mempermudah penanganan, termasuk proses rujuk ke rumah sakit, untuk mendapat penanganan lebih awal sehingga tidak sampai berkomplikasi pada jantung, hati dan organ lain. Karena kalau sudah komplikasi akan sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup, dan berdampak kepada IPM kita,” jelasnya.

Dia pun berharap, sumbangsih dr. Resna dengan penelitiannya itu, dapat dimanfaatkan oleh tenaga kesehatan dan laboran di fasilitas kesehatan tingkat pertama dengan maksimal, sehingga bdapat lebih cepat melakukan diagnosa awal gejala Talasemia di tengah keterbatasan fasilitas.

“Penelitian itu adalah sumbangsih yang besar. Jika ini bisa kita terapkan di faskes pertama, akan sangat membantu pasien, agar lebih cepat terdeteksi dan tertangani. Skrining ini dapat pula untuk memutus mata rantai Talasemia Mayor melalui pemeriksaan skrining pra nikah terutama pada pembawa gen Talasemia,” tandasnya. (Pin)