SUMBAWA—Kementerian Pertanian melalui Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, terus memperkuat kapasitas sumber daya manusia (SDM) Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) di Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai bagian dari upaya mendukung percepatan Program Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT).
Penguatan tersebut dilakukan melalui kegiatan Sosialisasi dan Bimbingan Teknis Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT) Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Kabupaten Sumbawa yang dilaksanakan pada 27-28 Agustus 2026 di Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sumbawa.
Dalam laporan Ketua Panitia, hilirisasi ayam terintegrasi dinilai penting untuk meningkatkan produksi ayam pedaging maupun petelur, memperkuat kemandirian protein hewani, mengoptimalkan bahan baku pakan dalam negeri, serta membuka kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Pemerintah juga mengembangkan program HAT di enam provinsi, termasuk Nusa Tenggara Barat.
Bimtek diikuti 23 peserta, terdiri atas dokter hewan dan paramedik veteriner dari Puskeswan Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Bima, di Provinsi NTB. Selama dua hari, peserta mendapatkan materi mengenai pengembangan HAT, manajemen kesehatan unggas, biosekuriti, deteksi dini penyakit, surveilans, pengambilan sampel, pelaporan penyakit melalui ISIKHNAS, hingga komunikasi risiko.
Salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut, Drh. Baiq Yunita Arisandi, M.AP., menekankan pentingnya penguatan kompetensi SDM di tingkat lapangan sebagai salah satu kunci keberhasilan hilirisasi. Petugas Puskeswan di wilayah sasaran perlu dibekali pemahaman dan kemampuan teknis yang memadai untuk menghadapi berbagai tantangan kesehatan hewan.
Program Hilirisasi Ayam Terintegrasi sendiri memiliki sejumlah sasaran strategis, di antaranya meningkatkan produksi dan produktivitas ayam pedaging dan ayam petelur melalui integrasi sistem budidaya, pembibitan, pakan, kesehatan hewan dan pengolahan hasil. Program ini juga diarahkan untuk mewujudkan kemandirian protein hewani nasional, mengoptimalkan penggunaan bahan baku pakan dalam negeri seperti jagung dan bungkil sawit, serta memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan Masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, pemerintah berharap hilirisasi ayam terintegrasi tidak hanya mampu meningkatkan kapasitas produksi dan nilai tambah sektor peternakan, tetapi juga menciptakan ekosistem perunggasan yang sehat, produktif dan berkelanjutan. Pada akhirnya, penguatan sektor perunggasan di NTB diharapkan dapat berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional, ketersediaan protein hewani, pembukaan lapangan kerja, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

