oleh

Bupati Harap Desa Segera Tetapkan Perdes untuk Cegah Pernikahan Dini

Bupati mengarahkan semua desa segera menetapkan Perdes untuk mencegah pernikahan usia dini. Sebab diketahui dalam rapat koordinasi antara Bupati Lotim, Kepala BKKBN NTB, dan Kepala DP3AKB Lotim pernikahan dini adalah faktor utama timbulnya masalah kesehatan dan sosial di lingkup keluarga.

                                           
LOMBOK TIMUR, Corongrakyat.co.id- Bupati H.M Sukiman Azmy menghadiri sekaligus membuka acara Sosialisasi Pencegahan Pernikahan Dini dan Optimalisasi Kampung KB yang dilaksanakan di ruang rapat utama Kantor Bupati Lombok Timur (Lotim).

Sosialisasi ini bertujuan menekan angka pernikahan usia anak dan dampaknya bagi kesejahteraan masyarakat. Sosialisasi  ini diikuti seluruh camat, UPT P3AKB, dan semua Kantor Urusan Agama (KUA) di Lotim, Kamis (04/03/2021).

Bupati dalam kesempatan tersebut menyampaikan, terdapat 3 unsur pokok yang berkaitan dengan pernikahan usia anak. Tiga unsur tersebut adalah camat, Kepala KUA dan UPTD KB, karena itu Bupati memberi instruksi kepada camat agar segera menyampaikan kepada desa untuk membentuk Peraturan Desa (Perdes) paling lambat  31 Maret 2021.

Bupati juga mengharuskan pada akhir April semua desa menjadi Kampung KB. Bupati mengharuskan pula agar pada tanggal 31 Mei 2021 seluruh Posyandu di Lotim sudah menjadi Posyandu Keluarga.

Menutup arahan tersebut, bupati berharap semakin banyak peserta KB di masing-masing wilayah, menurunnya angka kematian bayi dan ibu melahirkan, serta berkurangnya angka putus sekolah.

Sementara itu, Kepala BKKBN Provinsi NTB mengakui pernikahan usia dini merupakan salah satu penyebab timbulnya berbagai masalah kesehatan pada ibu dan anak. Hal ini dikarenakan reproduksi perempuan pada usia di bawah 20 tahun dikatagorikan belum siap.

Selain dapat menyebabkan kematian pada ibu dan anak, dampak lain yang ditimbulkan antara lain stunting pada anak dan kanker leher rahim pada ibu. Selain itu, kontribusi ibu dibawah usia 20 tahun pada kelahiran bayi dengan berat lahir rendah (KBBLR) juga sangat tinggi.

Setali tiga uang dengan sebelumnya, Kepala DP3AKB Lotim, Ahmat menyoroti kualitas SDM Lotim yang  masih rendah. Hal tersebut ditandai peringkat  IPM Lotim yang berada di posisi 8 dari 10 kabupaten dan kota di NTB. Menurutnya, hal ini tidak lepas dari berbagai permasalahan di bidang pendidikan dan kesehatan.

Masalah yang masih dihadapi dalam bidang kesehatan antara lain tingginya angka kematian ibu, angka kematian bayi, dan status gizi balita termasuk stunting.  Menurutnya, hal ini disebabkan masih tingginya angka pernikahan dini di Lotim, dari itu hal tersebut harus dicegah guna mewujudkan anak yang berkualitas, dan mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. (Cr-Pin)

BERITA TERKAIT