oleh

Peredaran Miras di Lotim Meningkat di Masa Pandemi

banner 300500

 

Satpol PP Lotim gelar operasi Pekat dengan menyasar tempat penginapan dan peredaran Miras. Dikatakan selama pandemi, peredaran miras di Lotim cukup tinggi.

LOMBOK TIMUR, Corongrakyat.co.id- Kepala Bidang Penegakan Peraturan Daerah, Pada Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Lombok Timur, Sunrianto menyatakan pihaknya telah melakukan operasi yustisi dengan menyasar tempat penginapan (hotel, red) guna mencegah tindakan asusila dan peredaran minuman keras (penyakit masyarakat, pekat, red) di Lombok Timur.

Di Kecamatan Selong kata Sunrianto difokuskan untuk operasi tempat penginapan yang tidak kurang dilakukan pada 3 titik dan tidak tidak ditemukan praktek asusila atau tindakan lain yang melanggar hukum.

“Penginapan di Selong seperti wisma Karina, hotel Green Hayaq dan penginapan bunga tidak ada praktek asusila,” katanya, Kamis (23/09/2021).

Lanjut dia, operasi pekat di Pringgabaya menyasar 10 titik yang telah dipetakan sebagai lokasi produksi dan peredaran Miras tradisional jenis brem dan tuak, namun setelah dilakukan operasi pada titik yang telah dipetakan itu, hanya didapati 2 titik yang melakukan kegiatan ilegal dengan jumlah barang bukti Miras sejumlah 197 liter.

“Kita berhasil amankan Miras tradisional pada 2 lokasi, yaitu di Pohgading dan Pringgabaya. Brem 100 liter dan tuak 97 liter, totalnya 197 liter,” bebernya.

Masih kata dia, sepanjang tahun 2021, dari seluruh operasi pekat yang telah dilakukan, total berhasil diamankan ,3.958 liter Miras, baik itu Miras pabrikan dan tradisional, dan menyatakan jika sepanjang tahun 2021 jumlah peredaran Miras alami peningkatan di Lotim.

“Total dari awal tahun, Miras yang kita amankan cukup banyak. Bir bintang 180 liter, tuak 2529 liter, brem 1249 liter. Di masa Pandemi penjual Miras semakin banyak,” bebernya.

Berdasarkan proses hukum dari penindakan yang telah dilakukan, dijabarkan dia, hampir sebagian besar pelaku dikenakan pidana denda dari pada pidana kurungan, seperti yang diatur pada Perda No. 8 tahun 2002, sehingga dikatakan kurang menimbulkan efek jera.

“Ini kan masuk Tipiring. Ancamannya kurungan badan 5 bulan dan denda 5 juta, tapi hampir semua kasus kena pidana denda dan itu tidak mengakibatkan efek jera,” sebutnya.

Dari itu dia berharap kepada pelaku dan masyarakat umumnya untuk tidak melakukan atau terlibat dalam praktek ilegal semacam itu, karena berdampak negatif terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat umum.

“Harapan kita masyarakat sadar, karena dampaknya negatif bagi generasi muda dan masyarakat kita,” tandasnya. (Pin)

BERITA TERKAIT