Selong- Acara buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Selong dan Himpunan Pengusaha KAHMI (HIPKA) NTB berlangsung penuh hikmat dan inspirasi. Dalam acara ini, Ketua Badan Pengurus Wilayah (BPW) HIPKA NTB, Akhmad Roji, S.E., hadir sebagai pembicara utama. Beliau membahas pentingnya pola pikir kreatif dan mandiri dalam pengembangan kewirausahaan, khususnya bagi kader-kader HMI yang akan menjadi pemimpin masa depan.

Budaya Berpikir dan Kedisiplinan di HMI
Dalam pemaparannya, Akhmad Roji menyoroti minimnya inovasi dalam beberapa periode kepemimpinan HMI. Menurutnya, pola pikir kreatif merupakan kunci utama dalam membangun kemandirian ekonomi, tetapi masih banyak kader yang enggan berpikir secara inovatif.
Beliau juga menyoroti masalah kedisiplinan di HMI. Di eranya, bersama senior-senior seperti Bang Oji, Bang Coeng, dan Bang Ali Rafsanjani, kader HMI sudah bersiap sejak pagi, bahkan sebelum ada agenda khusus. Namun, kini ditemukan banyak kader yang masih tidur hingga pukul 08.00 pagi.
“Dulu, kami selalu siap sedia pukul 07.30, rapi dengan sepatu terpasang, walaupun belum ada agenda. Yang terpenting adalah kesiapan dan kedisiplinan,” ujar Akhmad Roji.
Pentingnya Ide dan Gagasan dalam Kewirausahaan
Menurut Akhmad Roji, seseorang tidak bisa tiba-tiba menjadi pengusaha sukses tanpa memiliki pola pikir yang matang. Di HMI sendiri, perangkat organisasi telah disediakan, termasuk badan kewirausahaan yang dirancang untuk melatih kader agar memahami teori bisnis.
Sebagai langkah nyata, HMI berencana meluncurkan Program Demonstrasi Bisnis Akademi, di mana para pelaku UMKM yang sukses akan berbagi pengalaman secara langsung dengan kader HMI.
“Saat ini, banyak tulisan di media yang tidak benar-benar menampilkan sejarah perjuangan seseorang dalam membangun usaha. Kita bisa belajar dari pedagang rambutan di Lombok Barat, bagaimana mereka menyusun strategi pencahayaan dagangan agar lebih menarik,” tambahnya.
Program ini juga akan menunjukkan tantangan nyata yang dihadapi oleh para pengusaha kecil, seperti menghadapi cuaca buruk dalam bisnis makanan dan strategi pemasaran yang efektif.
UMKM dan Akses Permodalan: Tantangan dan Solusi
Bendahara BPW HIPKA, Marsoan, menjelaskan bahwa akses permodalan sebenarnya sudah tersedia melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang diberikan tanpa agunan bagi usaha yang berjalan. Namun, banyak UMKM justru lebih memilih bank informal seperti bank rontok atau bank subuh, karena proses pencairannya lebih cepat dan tanpa administrasi yang berbelit.
“Tidak ada alasan bagi pengusaha untuk kesulitan mendapatkan modal, karena negara telah menyediakan perangkat pendukungnya. Tapi kenyataannya, banyak UMKM yang justru lebih memilih bank rontok,” kata Marsoan.
Hal ini menunjukkan adanya masalah dalam distribusi KUR di bank-bank resmi. Bahkan, dalam beberapa kasus, terjadi kredit fiktif, seperti yang terjadi di BNI Kebon Roek Mataram, di mana terjadi pembobolan bank hampir Rp13 miliar oleh pihak internal.
Muhammadiyah sendiri berencana menarik dana Rp1,3 triliun dari BRI untuk mendirikan bank sendiri karena BRI dianggap gagal dalam menyalurkan KUR dengan baik.
Strategi Pengembangan UMKM di NTB
Sebagai upaya mendukung UMKM, di Pemdalaman Timur telah dialokasikan dana besar untuk mendukung usaha kecil. Dana ini dibagi menjadi tiga klaster:
1. Klaster pertama untuk usaha kecil dengan omzet antara Rp1-2,5 juta per bulan.
2. Klaster kedua untuk usaha yang mulai berkembang, baik individu maupun kelompok.
3. Klaster ketiga untuk usaha yang lebih besar dan siap berkembang dengan dukungan finansial lebih signifikan.
“Kita akan melakukan verifikasi langsung ke desa asal pengusaha sebelum memberikan bantuan, misalnya jika ada kader yang memiliki usaha telur asin, maka harus ada dokumentasi desa sebagai bukti,” ujar Akhmad Roji.
Membangun Kemandirian Ekonomi di HMI
Ketua Umum HMI Cabang Selong, Muhammad Junaidi, menegaskan bahwa organisasi harus memiliki lembaga profesional untuk membangun kemandirian ekonomi. Salah satu langkah konkret yang akan dilakukan adalah pendirian koperasi yang dikelola secara profesional agar organisasi dapat membiayai dirinya sendiri.
“Koperasi ini harus dikelola dengan transparan agar tidak terjadi konflik dalam pembagian keuntungan,” ujar Junaidi.
Junaidi juga menyoroti pentingnya disiplin dalam organisasi, terutama dalam citra dan etika kader. Menurutnya, kader HMI harus berpenampilan rapi dan menjaga etos kerja agar tidak merusak marwah organisasi.
Peluang Usaha bagi Kader HMI
Akhmad Roji memberikan contoh peluang usaha yang bisa dimanfaatkan oleh kader HMI, seperti Repackaging produk: membeli kerupuk dalam jumlah besar dan mengemas ulang dengan harga lebih tinggi. Produksi sambal kering: mahasiswa bisa membuat sambal dengan varian rasa unik dan menjualnya secara online. Bisnis sablon kaos: mencetak desain menarik pada kaos polos dan memasarkannya melalui media sosial.
Ada pula kisah sukses pengusaha seperti Pak Yusuf, yang mencoba 200 jenis usaha sebelum akhirnya menemukan bisnis yang benar-benar berhasil. Ini menunjukkan bahwa kegagalan adalah bagian dari proses menuju kesuksesan.
“Jangan takut gagal dan terus berinovasi. HMI harus melahirkan kader yang tidak hanya aktif di organisasi, tetapi juga mandiri secara finansial,” tutup Akhmad Roji.
Acara buka puasa ini menjadi momentum bagi kader HMI untuk merenungkan peran mereka dalam membangun kemandirian ekonomi. Dengan sinergi antara HIPKA dan HMI, diharapkan kader dapat memahami realitas dunia usaha serta memanfaatkan peluang yang ada untuk berkembang.
Sebagai generasi penerus, kader HMI harus memiliki pola pikir kreatif, disiplin, dan pantang menyerah dalam menghadapi tantangan bisnis. Dengan semangat dan dedikasi tinggi, HMI diharapkan mampu melahirkan kader-kader pengusaha sukses yang berkontribusi bagi bangsa dan umat.
“Mari kita mulai berpikir ke depan, merancang masa depan dengan berani melangkah ke dunia bisnis,” pungkas Muhammad Junaidi.

