SULAWESI UTARA, Corongrakyat.co.id — Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Laut Sulawesi pada Senin (8/6/2016) pagi dan sempat memicu peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah Indonesia bagian timur.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan kondisi saat ini telah berangsur normal, meski masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi gempa susulan.
Berdasarkan data BMKG, gempa terjadi pada pukul 06.37 WIB dengan episenter berada sekitar 236 kilometer barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada kedalaman sekitar 105 kilometer.
Gempa tersebut merupakan bagian dari aktivitas tektonik di zona subduksi Laut Filipina yang dikenal aktif secara seismik.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG menyampaikan bahwa gempa tersebut berpotensi menimbulkan tsunami sehingga peringatan dini segera dikeluarkan untuk wilayah Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Kalimantan Timur.
“Peringatan dini tsunami dikeluarkan sebagai langkah antisipasi cepat untuk melindungi masyarakat pesisir. Namun, berdasarkan hasil pemantauan, potensi tersebut tidak berkembang menjadi ancaman signifikan,” ujar Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG dalam keterangan resminya.
Sejumlah wilayah pesisir dilaporkan sempat mengalami kenaikan muka air laut dalam skala kecil. Meski tidak menimbulkan dampak besar, kondisi tersebut cukup membuat masyarakat panik dan bergegas menjauhi area pantai.
Salah satu warga di Manado, Andi (34), mengaku merasakan getaran cukup kuat selama beberapa detik.
“Getarannya terasa jelas, cukup lama. Kami langsung keluar rumah karena khawatir terjadi gempa susulan atau tsunami,” katanya.
BMKG kemudian mengakhiri peringatan dini tsunami setelah hasil pemantauan menunjukkan kondisi laut kembali stabil. Meski demikian, aktivitas gempa susulan masih tercatat di wilayah sekitar Sulawesi dengan kekuatan yang lebih kecil.
BMKG menjelaskan bahwa gempa susulan merupakan fenomena umum pascagempa besar sebagai bagian dari proses penyesuaian kerak bumi.
“Gempa susulan dengan magnitudo kecil hingga sedang masih mungkin terjadi. Masyarakat diimbau tetap tenang namun tidak lengah,” lanjut pernyataan BMKG.
Secara geologis, wilayah Sulawesi berada di pertemuan beberapa lempeng tektonik aktif, sehingga memiliki tingkat kerawanan gempa yang cukup tinggi. Oleh karena itu, kesiapsiagaan masyarakat menjadi faktor penting dalam meminimalisir risiko bencana.
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk selalu mengikuti informasi resmi dari lembaga terkait, menghindari bangunan yang berpotensi rusak, serta menjauhi kawasan pesisir jika terjadi gempa kuat. (CR-Red)



