Diskusi Daring Bertema Pengembangan Keaksaraan Anak Sejak Dini

Hari Aksara Internasional dicanangkan UNESCO pada tanggal 8 September 1965. Sehingga setiap tanggal 8 September disebut sebagai Hari Aksara atau Literasi Sedunia. Adanya peringatan ini agar masyarakat dunia menyadari betapa pentingnya literasi terkait dengan martabat dan Hak Asasi Manusia.

LOMBOK TIMUR, Corongrakyat.co.id- Menurut UNESCO tantangan saat ini setidaknya ada 773 juta orang dewasa di seluruh dunia yang kekurangan keterampilan aksara dasar. Tahun 2020 ini juga sudah dirayakan di Indonesia, khususnya oleh Kemendikbud dengan tema Pembelajaran Literasi di Masa Pandemi Covid-19, Momentum Perubahan Paradigma Pendidikan.

Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019, jumlah penduduk buta aksara telah mengalami penurunan yang signifikan. Persentase buta aksara tahun 2011 sebanyak 4,63 persen dan pada tahun 2019 turun menjadi 1,78 persen.

Dalam rangka Hari Aksara Sedunia, hari Rabu, 9 September 2020 ini Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Lombok Timur mengadakan Bincang Literasi Daring (BILING#2) dengan tema “Kembangkan Keaksaraan Awal Anak Usia Dini melalui Buku, Bercerita, dan Perpustakaan”, Rabu (09/09/2020).

Pemateri kegiatan dalam acara ini antaranya Muh. Amin Kutbi, S.Sos selaku Kepala Bidang Perpustakaan DPK Lotim dengan materi Kebijakan Pengembangan Minat Baca dan Pengelolaan Perpustakaan, Baiq Vina Handayani, S.Pd selaku Pamong Belajar PAUD BPPAUD dan Dikmas Provinsi NTB dengan materi Kembangkan Keaksaraan Anak Usia 5-6 Tahun melalui Buku Cerita Budaya Lokal dan Kuni Ismailia, A.Md selaku Pustakawan Berprestasi Provinsi NTB Tahun 2019 Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB.

Amin Kutbi menjelaskan jika perpustakaan memiliki peran strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa seperti tercantum dalam pembukaan UUD 1945 sehingga mesti mengambil peran lebih.

“Perpustakaan sebagai institusi penyedia, pengelola dan penyebarluasan informasi dan ilmu pengetahuan harus ambil peran sebagai garda terdepan dalam meningkatkan keaksaraan masyarakat. Perpustakaan menyediakan berbagai macam sumber informasi baik tercetak dan noncetak yang hajatannya dapat dimanfaatkan oleh semua lapisan masyarakat,” katanya.

Sambungnya ” kemampuan literasi masyarakat harus ditingkatkan. Sebab literasi tidak hanya diartikan sebagai membaca dan menulis saja tetapi juga kemampuan menganalisa bacaan dan tulisan untuk menghasilkan produk, jasa dan menjadi solusi dalam pemecahan masalah di kehidupan sehari-hari,” imbuhnya.

Baiq Vina selaku pemateri kedua menyatakan jika pengenalan aksara kepada anak sejak usia dini merupakan salah satu cara untuk memberantas buta huruf.

“Tidak salah mengenalkan huruf atau buku bacaan kepada anak-anak. Khusus usia 5-6 tahun kita bisa menggunakan buku cerita budaya lokal,” paparnya.

Terkait itu terdapat beberapa metode yang penting diaplikasikan pada usia dini tersebut.

“Ada beberapa metode yang digunakan seperti menggunakan panduan model keaksaaran anak usia dini, buku cerita budaya lokal, alat permainan edukatif, kartu gambar dan kartu kata serta alternatif kegiatan permainan,” ulasnya.

Dalam paparannya, diketahui jika BPPAUD juga telah menerbitkan buku cerita budaya lokal yang disertai dengan kartu gambar dan kartu kata yang menarik full warna dan gambar.

“Dalam buku itu anak diajak bermain sambil belajar karena dengan cara ini anak dapat mudah mengenali jenis huruf dan angka bahkan seperti apa wujud benda yang ada di kartu-kartu tersebut tentu diselaraskan dengan buku bacaan tadi,” tuturnya.

Vina mencontohkan isian materi yang diterbitkan oleh BPPAUD, “contoh tentang begibung, dimana ini merupakan adat kebiasan di Lombok yang perlu diketahui anak. Caranya dengan membuat buku tentang begibung dengan ilustrasi gambar dan sesuai dengan pola pemahaman anak. Sehingga mereka bisa mengenal huruf, kata dan kalimat bahkan dengan ilustrasi gambar sehingga semakin lengkap kemampuan keaksaraan dari anak,” imbuhnya.

Kuni Ismailia di materi ketiga menjelaskan tentang storytelling sebagai cara jitu dalam mengenalkan keaksaraan pada anak usia dini.

Dalam penjelasannya ada beberapa manfaat dari bercerita atau story telling yaitu mengembangkan kemampuan bahasa dan komunikasi, kemampuan berimajinasi, mendekatkan ikatan kekeluargaan antara orang tua dan anaknya, menanamkan nilai-nilai budi pekerti yang luhur dan banyak lainnya yang mampu membangun karakter dan watak anak.

“Jika kita harus mengkondisikan anak sebelum mendengarkan cerita kita seperti dengan permainan, ice breaking ataupun lagu-lagu. Ini untuk membuat anak merasa nyaman dan dalam kondisi siap menerima cerita kita. Kemudian pencerita atau pendongeng pun harus siap dengan mater ceritanya yang menarik yang bisa bersumber dari buku cerita anak yang sederhana dengan menceritakan kehidupan sehari-hari, khususnya yang bergambar. Apalagi di masa pandemi ini agar anak tidak kecanduan gadget sebab sekolah tatap muka yang belum diizinkan,” tegasnya.

Tanggapan peserta kegiatan sangat antusias. Dari target 50 peserta, ternyata dalam pelaksanaannya mencapai 60 orang peserta yang mengikuti secara daring melalui aplikasi video conference.

Kabid Perpustakaan, Muh.Amin Kutbi menyatakan melihat antusias peserta tentu perlu diteruskan kegiatan BILING ini untuk meningkatkan minat baca dan promosi perpustakaan apalagi September ini dicanangkan sebagai bulan gemar membaca.

“Melihat antusiasme peserta dalam kegiatan BILING, maka akan diteruskan. Karena peserta akan mendapat materi dari narasumber yang tentu akan dibaca dan jika digali lebih dalam lagi maka akan mencari referensi yang terkait isi materi dengan buku-buku yang salah satunya ada di perpustakaan daerah,” pungkasnya. (Cr-Pin)