Lombok Timur – Dugaan adanya tekanan terhadap relawan di Dapur MBG Tanjung 2 Kecamatan Labuhan Haji mencuat ke publik. Sejumlah relawan dikabarkan merasa keberatan setelah diminta ikut berpartisipasi dalam pengumpulan dana kurban yang disebut dilakukan dengan cara penekanan.
Informasi ini disampaikan oleh salah seorang relawan yang bekerja di dapur tersebut. Kepada media, ia mengaku keberatan dengan pola yang diterapkan oleh pihak mitra dapur.
“Beramal itu memang baik, tapi jangan sampai ada unsur paksaan. Kami bekerja di sini untuk membantu kebutuhan keluarga, bukan untuk ditekan,” ujarnya, sembari meminta identitasnya dirahasiakan karena khawatir berdampak pada pekerjaannya.
Menurut keterangan yang dihimpun, para relawan disebut diminta memberikan sejumlah uang untuk kepentingan kurban. Bahkan, beredar informasi bahwa relawan yang tidak ikut berpartisipasi mendapat ancaman akan dikeluarkan dari tempat kerja.
Beberapa relawan dikabarkan akhirnya memilih ikut menyumbang dengan nominal ratusan ribu rupiah karena takut kehilangan pekerjaan. Kondisi ini memunculkan keresahan di internal pekerja yang merasa posisi mereka berada di bawah tekanan.
Jika informasi tersebut benar, maka tindakan itu dinilai tidak mencerminkan hubungan kerja yang sehat dan profesional. Relawan maupun pekerja seharusnya diberikan ruang untuk menentukan sikap secara sukarela tanpa intimidasi ataupun ancaman.
BiLhadi, salah seorang pengamat sosial di Lombok Timur menilai, kegiatan keagamaan seperti kurban semestinya dilandasi niat tulus dan keikhlasan, bukan karena rasa takut atau tekanan dari pihak tertentu.
“Nilai ibadah dan sosial dalam kurban akan kehilangan makna apabila dilakukan dengan unsur paksaan. Partisipasi harus lahir dari kesadaran pribadi,” ujar BilHadi kepada awak media.
Sementara itu, saat dikonfirmasi awak media, pihak mitra Dapur MBG Tanjung 2 memberikan tanggapan terkait persoalan tersebut. Ia menyebut bahwa aturan dan kewajiban bagi relawan sudah disampaikan sejak awal sebelum dapur mulai beroperasi.
“Saya sudah membuat kewajiban dan SOP untuk semua relawan saya, dan sebelum dapur ini berjalan saya juga sudah membuat perjanjian,” ujarnya,(10/05).
Meski demikian, hingga berita ini diterbitkan belum ada penjelasan lebih lanjut dari pihak pengelola terkait dugaan adanya ancaman terhadap relawan yang tidak ikut berpartisipasi dalam pengumpulan dana kurban.
Masyarakat berharap pihak terkait segera melakukan klarifikasi agar persoalan ini tidak menimbulkan keresahan berkepanjangan di lingkungan kerja para relawan dan pekerja MBG. (Ri CR)

