Siswa SMKN 1 Keruak Keluarkan Biaya Prakrin yang Diduga Tak Wajar

Siswa SMKN I Keruak
Siswa SMKN I Keruak

Lombok Timur , CR – Kurang lebih 18  siswa jurusan NKPI yang ada di Sekolah Menengah Kejuruan ( SMK) Negeri  1 Keruak, Kabupaten Lombok Timur, beberapa hari lalu diberangkatkan keluar daerah oleh pihak sekolah untuk melakukan Praktik Kerja Industri dan Basic Safety Training (BST) ke Pelabuhan Hkan Benoa Bali selama 4 Bulan.

Sebelum para siswa tersebut  diberangkatkan ke Hkan Benoa Bali untuk melaksanakan Praktik Kerja Industri dan Basic Safety Training (BST) diperusahaan Kinta Mani. Diketahui dari data yang diperoleh CR, 18  siswa yang ikut praktik diharuskan masing-masing mengeluarkan biaya sebesar Rp. 3.750.000.-

Menurut penjelasan dari kepala sekolah SMKN I Keruak Mahmuza. S.Pd yang dikonfirmasi media ini diruang kerjanya Selasa  (15/11/2016) menyampaikan  bahwa memang benar dari iuran yang dikeluarkan oleh masing-masing siswa  dengan total keseluruhan mencapai  Rp. 67.500.000 tersebut, dana tersebut nantinya akan diperuntukkan untuk membiayai keperluan prakrin siswa dan kepengurusan surat-surat pelayaran, jelasnya.

Ditempat terpisah Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Timur (Kadis Dikpora Lotim) Drs Lalu Suandi, saat dikonfirmasi terkait dengan tingginya biaya Prakrin yang dibebankan oleh pihak sekolah  ke siswa, Kadis Dikpora tersebut tidak banyak menanggapinya.

“Kalau Prakrin memang harus seperti itu, Sekolah kesehatan saja kalau praktik dirumah sakit siswa harus bayar,” katanya sembari ia juga menyampaikan, terkait dengan kegiatan internal sekolah seperti itu kami yang ada di dinas tidak terlalu jauh untuk masuk, terangnya.

Lalu Suandi juga membenarkan, terkait dengan 18 jumlah siswa yang dikirim Praktik Kerja Industri dan Basic Safety Training (BST) ke Hkan Benoa Bali oleh pihak sekolah tersebut tidak ada koordinasinya serta pemberitahuannya ke dinas, karena itu merupakan program internal manajemen sekolah SMKN 1 Keruak itu sendiri, lanjutnya.

Namun demikian di tempat terpisah saat wartawan media ini mempertanyakan hal tersebut ke Kasi Kesiswaan yang ada di dinas dikpora kabupaten Lombok Timur. Azizurahman, sangat menyayangkan sikap pihak sekolah SMKN I keruak yang tidak melaporkan serta memberitahukan pihak dinas terkait dengan pengiriman siswa keluar daerah tersebut.

“Semestinya harus ada surat dari perusahaan terkait kedinas yang di koordinasikan oleh pihak sekola. Kalau tidak ada surat dari perusahaan yang masuk kedinas pasti ini ilegal duganya, lalu kalau terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan di tempat praktik kerja para siswa, siapa yang harus bertanggungjawab, tentu kami yang di dinas yang dicari, mestinya dikoordinasikan terlebih dulu ke dinas. begitu juga kaitan dengan biaya yang dibebankan ke siswa tergolong cukup tinggi,” katanya.

Selain itu, Pihak Dikmen juga tidak memungkiri kalau pihak SMKN I Keruak tidak pernah melayangkan  surat pemberitahuan terkait 18 siswa yang Praktik Kerja Industri dan Basic Safety Training (BST) ke pelabuhan Hkan Benoa Bali.

“Kami di Dikmen baru mengetahui soal itu dari teman-teman media hari ini, kalau 18  siswa kita di Lotim dikirim untuk prakrin ke Hkan Benoa Bali, akan tetapi karena ini menyangkut siswa kita di Lotim kami akan mendatangi kepala sekolah SMKN I keruak besok untuk mempertanyakan hal tersebut,” janji Amin.

Adapun Nama – Nama 18 Siswa kelas XI yang Peraktik Kerja Industri dan Basic Safety Training (BST) di salah satu PT yang ada di Pelabuhan Hkan Benoa Bali diantaranya , Abdul Aziz, Abdul Azis Sukron, Aksy Kumar Pandriansyah, Azizal Azmi Galih Aldian Putra, Muh Azwanto, Muh Yusron Hidayatullah, Muh Rozi Wahyudi, Muhammad Rifa’i, Muhammadun, Farman Sapoan, Edi Rahmayadi, Johari Efendi, Zakiasa, Wahyu Hidayatullah, Zainurrahman Syah, Zul Fikri, Zulhan Azhar, Rizal Hanafi.

Sementara itu ditempat terpisah, pihak sahbandar yang ada di Benoa Denpasar Bali Gede Astawe, saat dikonfirmasi wartawan melalui via hand phone beberapa hari lalu menyampaikan, modus seperti itu memang sering terjadi.

diterangkan Gede Astawe, semestinya kalau ada siswa yang praktik kerja seperti itu, sekolah harus mengirim surat permintaan ke KSOP yang ada di Sah Bandar Benoa Bali.

Setelah pihak sekolah mengirim permintaan sesuai dengan prosedur, maka kami yang ada di KSOP akan mengirim siswa-siswa yang praktik tersebut ke perusahaan-perusahaan yang memiliki legalitas.

Namun demikian, ceritanya akan lain apabila dalam proses praktik perusahaan merekrut siswa maka dugaan kita siswa-siswa yang praktikum bisa saja akan dijadikan ABK bukan siswa praktik, duganya.

Made Astawe, juga menilai beban biaya yang dibebankan kepada siswa dalam kegiatan praktikum tersebut dinilai cukup pantastis padahal untuk biyaya buku pelaut itu tidak dibayar alias gratis, jelasnya. (Ari)