
LOMBOK TIMUR, Corong Rakyat- Kepala Desa (Kades) Ramban Biak Kecamatan Aikmel, Rumitang,akan mengoptimalkan potensi yang dimiliki desanya.Desa Ramban Biak merupkan salah satu desa yang baru mekar dan mengalami geliat pembangunan yang cukup dinamis. Potensi Desa Ramban Biak Kecamatan Aikmel dimulai dari sektor pertanian,wisata serta budaya. Potensi ini jarang dimiliki oleh desa lain di Lombok Timur.
Potensi-potensi desa tersebut menurut Kades Ramban Biak, akan mampu mendongkrak pendapatan asli desa(PADes).Dana yang bersumber dari pendapatan asli desa tersebut diikhtiarkan sebagai modal pembangunan desa tersebut.
Sebagai desa baru, Rumitang membuat konsep dasar desa yang dipimpinnya. “Sebagai Kades pertama saya harus mengetahui ke arah mana dan seperti apa desa ini kedepannya,”paparnya kepada Corong Rakyat di ruang kerjanya, Rabu (6/9).
Hal pertama yang dilakukannya adalah memastikan sember kehidupan warganya. “Tugas pemeritah desa memastikan sumber pendapatan warga harus ada dan berkelanjutan,”ucapnya yakin.
Dia berharap, warganya tidak ada yang berpangku tangan akibat tidak memiliki pekerjaan, namun bekerjanya tidak mesti harus keluar daerah atau keluar negeri mencari pekerjaan.
Namun, Rumitang juga menyadari, sekaya apapun potensi yang ada di desa Ramban Biak kalau tidak dikelola dengan baik maka akan tidak ada faedahnya.Pendapingan untuk warga desa yang tidak memiliki pekerjaan tetap inilah yang akan pertama disentuh oleh Rumitang.
Propesi sebagai pengerajin bata merah adalah salah satu pilihan warga setempat.Pekerjaan ini dilakoni oleh warga yang kebetulan tidak memiliki sawah untuk bercocok tanam.
Pekerjaan sebagai pengerajin bata merah ini tidak membutuhkan keahlian tertentu.Proses pembuatan yang mudah membuat warga tidak terlalu berat mengerjakannya.
“Hanya butuh sedikit tenaga saat pencampuran tanah saja yang agak berat, selanjutnya akan lebih mudah saat mencetaknya,”ucap Muhsin, salah seorang pengerajin bata merah, warga Ramban Biak.
Untuk pemasaran bata merah ini juga tidak terlalu sulit,para pembeli akan datang dan rata-rata sudah mnegetaui harga per seribu biji bata merah tersebut.Harga Bata merah ini juga berpengaruh bila akses jalan menuju lokasi pembuatan bata merah belum terjangkau angkutan.
Selain itu, pertanian adalah pekerjaan kebanyakan warga Desa Ramban biak. Hortikultura, seperti tanaman sayuran dan jagung adalah andalan hasil pertanian warga setempat.
Uasha pemerintah desa membantu petani maupun pengerajin bata merah adalah membuka jalan penghubung desa maupun pembukaan jalan pertanian.Pembukaan akses jalan ini akan membuat mobilisasi warga tidak mahal dan hasil alam maupun kerajinan bata merah penduduk setampat akan meningkat.
“Hampir lebih dari setengah anggran desa kita maksimalkan untuk membuka akses jalan di desa ini,” terang Rumitang.
Saat ini, dengan pembukaan jalan tersebut, terutama yang menuju lahan pertanian dan tempat kerajinan pembuatan bata merah telah terhubung langsung.Manfaatnya, petani maupun pengerajin bata merah tidak terbebani oleh biaya tambahan.
“Dulunya kami harus mengeluarkan ongkos angkut untuk sampai dijalan raya,kini biaya tersebut tidak ada dan menjadi tambahan hasil,” ucap H. Sulihun, pemilik lokasi pengerajin bata merah.
Para pemilik lokasi pengerajin bata merah ini bisa mempekerjakan 10 sampai 20 orang.Menurut data pemerintah desa Ramban Biak saat ini terdapat 80 lokasi aktifpengerajin usaha bata merah ini.
Permintaan bata merah dari luar wilayah desa Ramban Biak, bahkan kecamatan lain yang ada di Lombok Timur sangat tinggi. Setiap harinya minimal 40 ribu bata merah yang terjual.
“Kalau seribu biji bata dengan harga Rp 500 ribu dikalikan 40 ribu biji maka sehari uang yang masuk ke desa ini sebesar Rp20.000.000,” terangnya.
Laris manisnya bata merah Ramban Biak ini tentu mendongkrak tingkat daya beli masyarakat.Kesejahteraan warga desa Ramban Biak juga mengalami peningkatan.Perputaran uang dari hasil usaha kerajinan bata merah,hasil pertanian dan sumber lainya ini membuat pemerintah desa Ramban Biak yakin kedepan desa yang dimpin oleh Rumitang ini akan berkebang maju.
Melihat potensi desa, Rumitang dan Badan Perwakilan Desa (BPD) Setempat berinisiatif membentuk Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Bumdes ini nantinya akan menjalankan usaha pembuatan bata merah.
Bumdes akan membeli usaha kerajinan bata merah yang sudah tidak aktif berproduksi lagi. Terlibatnya Bumdes ini diharapkan akan menjadi salah satu sumber pendapatan desa.
“Yang akan mengelola Bumdes ini nantinya adalah warga setempat juga,”terangnya.
Dana untuk Bumdes itu sendiri dianggarakan dari Alokasi Dana Desa (ADD) dengan modal awal Rp 30 juta, dan akan ditambah pada tahun anggaran berikutnya.
Selain mengelola usaha pembuatan bata merah,Rumitang berharap Bumdes ini bisa memberikan pinjaman modal lunak untuk usaha bakulan disekitar lokasi wisata alam Loang Gali.
Obyek wisata alam Loang Gali akan dimaksimalkan oleh pemerintah desa. Dengan menggunakan ADD, pemerintah setempat melakukan revitalisasi obyek wisata alam Loang Gali.
“Kamar ganti sudah kami bangun,tinggal penambahan kolam untuk anak-anak,” terangnya.
Penambahan fasilitas obyek wisata alam Loang Gali diharpakan mampu meningkatkan jumlah pengunjung. Untuk anggaran desa perubahan inipemerintah desa mengalokasikan dana Rp 100 juta.
Pendapatan dari karcis masuk obyek wisata alam Loang Gali Rp 5.000.000 pertahun dari target desa Rp 8.000,000.
Sebagai bagian dari desa tua Lenek,Ramban biak memiliki budaya yang masih lestari dan terjaga hingga saat ini. Salah satu jenis tarian langka yang masih ada dan terpelihara dari Ramban Biak adalah tarian Pakon. Tarian ini memiliki keunikan tersendiri, para penari tarian Pakon ini akan berjalan diatas bara api sambil terus menari.
Konon, dulunya tarian Pakon ini adalah media yang digunakan oleh leluhur masyarakat Lenek untuk penyembuhan penyakit.Tarian yang berumur 100 tahun ini sampai kini masih terpeliharan dan kerap ditampilkan dalam even-even budaya.
Selain itu, cagar budaya Bale Sabuk Belo masih terpelihara hingga sekarang. Rumah Bale Sabuk Belo ini oleh masyarakat Lenek dianggap sakral.
Bale Sabuk Belo ini masih utuh dan dapat dijumpai hingga sekarang.Kenapa disebut Bale Sabuk Belo?,karena di rumah tua itulah disimpan salah satu warisan leluhur penduduk Lenek yang berupa ikat pinggang dari kain tenun.
Kedepan, potensi alam dan wisata religi ini akan dikembangkan oleh pemerintah desa Ramban Biak sebagai bentuk usaha pelestarian tarian-tarian dan kesenian lainnya.Pemerintah desa memberikan dana pembinaan Rp 15 juta untuk masing-masing sanggar.
Untuk menuju desa yang mandiri dari segi ekonomi,pemerintah desa melakukan pembenahan dasar.Kebutuhan vital warga seperti air bersih menjadi hal yang mutlak.Untuk mengalirkan air ke rumah-rumah warga,bukan hal yang mudah. Mengingat letak geografis desa Ramban Biak yang berada di atas sumber mata air Loang Gali.
Setidaknya perlu usaha keras dari Kades dan warga untuk mengalirkan air tersebut.
“Tiga kali gagal saya melakukan usaha jemput program dari pemerintah, dan setelah terus mencoba,akhirnya bantuan dari pemerintah provinsi memberikan program pembangunan saluran air baku sepanjang 5.800 meter dengan nilai Rp1,7 miliar.
Dengan adanya bantuan saluran air baku ini,warga dan pemerintah desa berswadaya membuat jaringan yang masuk ke masing-masing dusun.”Alhamdulillah kini air bersih warga kami terpenuhi,” ucap Rumitang bersyukur.
Dengan penduduk sekitar 2000 jiwa,desa Ramban Biak memilki kesempatan untuk mengembangkan diri,apalagi jika pemerintah desa mampu mengelala sumber daya alam dan potensi lainnya.
Untuk melayani dan menjamin kesejahtraan warganya, Kepala Desa yang masih energik ini mengoptimalkan ADD dan sumber dana lainnya.
Program pembangunan rumah tidak layak huni untuk warga kurang mampu telah dilkaukan. Dari 200 unit rumah warga tidak mampu di desa Ramban Biak, 40 persen sudah direhab.
Begitu juga dengan kebersihan dan kesehatan warga setempat.Saluran pembuangan limbah rumah tangga secara bertahap dibangun.
“Sebagai salah satu desa wisata,tentu persoalan sanitasi lingkungan harus di perhatiakan,” ucap Rumitang.
Kloset dan satu zak semen diberikan secara cuma-cuma untuk warga.Pembangunan WC dan tempat mandi umum akan dibangun di masing-masing dusun.Semua pemabngunan fasiliats publik yang ada di desa Ramban Biak melibatkan peran serta masyrakat.
Sementara, untuk sarana pendidikan di wilyah kerja Desa Ramban Biakcukup memadai.Beberapa lembaga pendidikan dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga menengah atas sudah dibangun di desa ini.
“Kami berharap keberadaan lembaga pendidikan yang dikelola oleh yayasan ini memberikan jaminan pendidikan yang baik bagi warga kami,”ucapnya.
Sebagai desa yang berada di pinggir hutan lindung,Desa Ramban biak dianugerahi beberapa titik sumber mata air. Sumber mata air ini sekarang yang dimanfaatkan oleh desa tetangga Ramban Biak yakni Lenek. Keberadaan mata air tersebut diharapkan terpelihara dengan baik.
“Kami dan beberapa desa yang memampaatkan sumber mata air ini akan melakukan penanaman pohon,” paparnya.
Reboisasi ini dihajatkan sebagai upaya pelestaraian hutan dan menjaga debit mata air.
Selain potensi wisata alam,kerajinan pembuatan bata merah dan sektor pertanian,sumber mata air yang ada di Ramban Biak juga direnacanakan akan dimasukan sebagai sumber PADes.
Pemerintah desa akan meminta desa yang memanfaatkan sumber mata air tersebut untuk memberikan bagi hasil untuk masuk sumber PADes.
“Saya sudah bersurat ke pemerintah desa Lenek selaku penanggung jawab Pamdes Lenek supya memberikan bagi hasil pengelolaan air bersih yang bersumber dari mata air Lenek Pesiraman,” harapnya.
Namun hingga kini Kepala Desa Lenek, Suhardi dikatakan belum memberikan jawaban.Alasan dimintanya bagi hasil sumber mata air inikarena keuntungan yang didapat Pamdes Lenek hasil penjualan mata air desa Ramban Biak. (cr-mil*)

