BTNGR Teken Kemitraan Konservasi, Masyarakat Sekitar Hutan Pesugulan Diharap Tidak Fakir Air

Masyarakat di sekitar pinggang Gunung Rinjani semakin giat menyongsong Kemitraan Konservasi. Upaya kemitraan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) diharapkan mampu membebaskan masyarakat di sekitaran hutan Pesugulan dari krisis air bersih.

LOMBOK TIMUR, Corongrakyat.co.id- Masyarakat di pinggang Gunung Rinjani kini bergiat menyongsong Kemitraan Konservasi. Dalam 2 tahun belakangan, upaya kemitraan dengan BTNGR diharap mampu menjadi jawaban atas persoalan tenurial yang ada. Kemitraan konservasi juga menjadi upaya agar masyarakat di sekitar Hutan Pesugulan tidak lagi mengalami kekurangan air bersih.

“Musim kemarau tahun 2019 lalu sawah kami kekeringan. Kami gagal panen karena air sulit diperoleh. Jangankan untuk sawah, untuk kebutuhan mandi dan cuci juga sudah sulit,” kata Amak Nofi, Ketua Kelompok Sadar Lingkungan (Pokdarling) Bebidas Lestari, Desa Bebidas Kecamatan Wanasaba, Lotim (15/11/2020).

Amaq Nofi menceritakan, Kawasan Hutan Pesugulan sudah mulai dirambah sejak 2015. Sejak perambahan terjadi, dirinya dan warga desa lainnya terus mengalami kekeringan.

Hal tersebut diakui Kepala Balai TNGR, Dedy Asriady. Menurutnya, kawasan Hutan Pesugulan harus diperbaiki dari Penggunaan Kawasan Tanpa Izin (PKTI).

Dedy mengungkapkan, konflik tenurial di Kawasan Hutan Pesugulan memerlukan penyelesaian yang komprehensif. Pihak TNGR telah mengimbau pelaku PKTI dengan berbagai kegiatan sosialisasi, mediasi, dan penegakan hukum. Bersamaan dengan itu, TNGR melakukan pemberdayaan masyarakat.

“TNGR menggandeng semua pihak untuk menyelesaikan PKTI. Termasuk Pemerintah Kabupaten Lombok Timur,” kata Dedy.

Setidaknya, lanjut dia, 113 hektar lahan hutan mulai direvitalisasi bersama masyarakat desa Bebidas sejak awal 2020.

Menurut Dedy, Pemerintah telah menyediakan ruang regulasi untuk menyelesaikan konflik tenurial di kawasan konservasi melalui Kemitraan Konservasi.

Di kawasan Hutan Pesugulan sendiri, lanjutnya, masyarakat (Pokdarling) dan Balai TNGR akan menerapkan skema Pemulihan Ekosistem seluas 50 Hektar yang kedepan akan dapat diakses dan sisanya Hektar melalui Pemulihan Ekosistem murni untuk mempertahankan tata guna air dan menjaga kelestarian kawasan.

“Pelibatan dan partisipasi masyarakat adalah kunci keberhasilan resolusi konflik tenurial, sekaligus tiang utama Kemitraan Konservasi. Upaya ini juga didukung Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN),” ungkap Dedy jelang penanda-tanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara pihaknya dengan Pokdarling Bebidas Lestari.

Upaya lain yang sudah berjalan adalah pemberian ijin usaha pemanfaatan jasa wisata alam ke kelompok masyarakat Bebidas dalam mengelola beberapa destinasi wisata yang ada di wilayah TNGR ungkap Dedy.

Dalam kesempatan terpisah, Kordinator Program Latin, Arif Aliadi membenarkan penanda tanganan Perjanjian Kerjasama (PKs) dilakukan pada 16 November 2020.

Menurut Arif, usai PKs perlu ada penyusunan rencana kerja secara partisipatif, dan menekankan jika keterlibatan masyarakat menjadi kunci. Melalui dukungan USAID-BIJAK, LATIN mendukung penyusunan Rencana Pelaksanaan Program (RPP) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT).

“Kami dan Balai TNGR sudah sepakat mengembalikan fungsi hutan Pesugulan. Kami berharap agar di tahun-tahun mendatang tidak ada lagi kekeringan,” tandas Amaq Nopi. (Cr-Pin)

BERITA TERKAIT