Lombok Timur — Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Lombok Timur mendorong Pemerintah Kabupaten Lombok Timur untuk segera membangun Rumah Sakit Tipe D di Kecamatan Pringgabaya. Desakan ini muncul karena tingginya kebutuhan layanan kesehatan di wilayah tersebut yang dinilai belum terpenuhi secara optimal.
Ketua IMM Lombok Timur, Yandis, menyampaikan bahwa Kecamatan Pringgabaya merupakan wilayah dengan jumlah penduduk terbesar kedua setelah Masbagik, dengan populasi mencapai kurang lebih 112.373 jiwa. Namun, fasilitas kesehatan yang tersedia saat ini dinilai masih sangat terbatas.
“Dengan jumlah penduduk yang besar, kebutuhan layanan kesehatan yang cepat, terjangkau, dan memadai menjadi hal yang tidak bisa ditunda,” ujar Yandis.
Ia menambahkan, masyarakat Pringgabaya hingga kini masih menghadapi keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan rujukan. Untuk mendapatkan pelayanan medis yang lebih lengkap, warga harus menempuh jarak yang cukup jauh.
Kondisi tersebut dinilai tidak hanya menyulitkan masyarakat, tetapi juga berpotensi memperlambat penanganan pasien, terutama dalam situasi darurat. Oleh karena itu, pembangunan Rumah Sakit Tipe D dianggap sebagai solusi strategis untuk meningkatkan akses layanan kesehatan sekaligus mendorong pemerataan pembangunan di sektor kesehatan di Lombok Timur.
“Pembangunan fasilitas kesehatan harus berbasis pada kebutuhan riil masyarakat. Dengan wilayah yang luas dan jumlah penduduk yang besar, Pringgabaya sudah sangat layak memiliki rumah sakit sendiri,” tegasnya.
Saat ini, lanjut Yandis, Kecamatan Pringgabaya yang terdiri dari 15 desa hanya dilayani oleh dua puskesmas, dengan kondisi geografis yang cukup luas dan jarak antarwilayah yang berjauhan.
Selain itu, Pringgabaya juga dikenal sebagai kawasan dengan potensi ekonomi dan aktivitas tinggi, termasuk sebagai zona industri serta memiliki empat pelabuhan strategis. Hal ini dinilai meningkatkan risiko kecelakaan kerja yang membutuhkan dukungan fasilitas kesehatan yang memadai.
IMM Lombok Timur juga menyoroti adanya wacana alih fungsi fasilitas kesehatan di wilayah tersebut. Menurut mereka, jika fasilitas rumah sakit yang ada justru dialihkan menjadi puskesmas rawat inap, hal itu dinilai sebagai langkah yang kurang tepat.
“Kalau rumah sakit justru dialihkan menjadi puskesmas, ini tentu menjadi pertanyaan besar. Kebutuhan masyarakat justru mengarah pada peningkatan layanan, bukan penurunan,” tutup Yandis.
IMM berharap pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah konkret guna menjawab kebutuhan layanan kesehatan masyarakat, khususnya di Kecamatan Pringgabaya.||Ri CR

