Pilkada serentak tinggal beberapa bulan lagi, para Bakal Calon (Balon) Bupati dan Wakil Bupati Loteng, dibaca hanya berlomba pasang spanduk, dan menggambarkan ekspektasi dan halusinasi berlebih
LOMBOK TENGAH, Corongrakyat.co.id– Pada acara ngopi bareng aktivis mahasiswa dan pemuda Loteng, tersaji isu hangat terkait isu kedaerahan, termasuk banyaknya spanduk-spanduk Balon Bupati dan Wakil Bupati Loteng,Kamis (09/07/2020).
Menurut Ketua DPD PGK Loteng, L. Panji, Trend dan gaya politik para politisi yang saat ini tengah familiar maju menajdi Balon Bupati dan Wabup Loteng masih sama, dan terbaca oleh publik menampilkan ekspektasi berlebih yang terkadang tidak rasional.
“Gaya atau trend politik para bakal Calon Bupati dan Bakal Calon Wakil Bupati di Lombok Tengah seragam semua dan masih dengan kebiasaan politik 5 atau 10 tahun lalu. Hanya menang pada spanduk, baliho yang penuh halusinasi, itu pun merusak tatanan ruang permukiman,” katanya.
Untuk itu, ia meminta kepada dinas terkait agar memberikan teguran atau sanksi terhadap para balon, akibat dari kesemrawutan yang ditimbulkan.
“Memaku di pepohonan yang saya liat dari ujung timur, barat selatan dan utara. Secara pribadi kami resah apakah kebiasaan-kebiasaan seperti itu menjadi budaya para politisi di Lombok Tengah, hingga lupa bagaimana menawarkan visi-misinya yang sesuai dengan era atau zamanya untuk kepentingan ummat. Kami rasa pemerintah daerah khususnya Dinas Permukiman Umum Kabupaten Lombok Tengah untuk segera menegur pihak-pihak yang bersangkutan,” ucapnya.
Menyambung ungkap Panji, Wakil Sekjen PB. HMI, Saiful Hadi mengatakan berdasarkan pengamatannya, tidak ada para Balon yang menawarkan gagasan yang membedah permasalahan yang ada di Loteng.
“Dari beberapa yang saya soroti saat ini tidak ada para bakal calon bupati dan Wakil bupati yang menyoalkan, menggiring, dan membedah persoalan-persoalan yang ada di Lombok Tengah. Sehingga persoalan itu bisa menjadi acuan atau parameter untuk melakukan perbaikan, serta masyarakat akan melek hal tersebut,” cetusnya.
Saiful mencontohkan, sampai saat ini tidak ada Balon yang menyoalkan masalah KEK Mandalika, penanganan Covid-19, pendidikan dan dunia kesehatan.
“Tidak ada bakal calon yang membicarakan dampak Covid-19, KEK Mandalika, Pendidikan, dan Dunia Kesehatan. Kita hanya digiring dengan janji-janji khayalan, dan harapan saja. Kita patut khawatir, mereka para pemberi harapan dan janji lagi berhalusinasi,” ulasnya.
Menyambung dua pembicara sebelumnya, Ketua HGM Loteng, Nasrullah memberikan komentar dari wacana penguasaan masalah yang ada di Loteng yang sangat penting, artinya para Balon harus mengetahui persoalan daerah, sehingga jelas apa yang akan dikerjakan nantinya.
“Dengan mengetahui persoalan daerah seorang calon bupati akan mengetahui jalan keluarnya. Dari situlah seharusnya program kerja disusun sehingga apa yang akan dikerjakan setelah terpilih menjadi bupati menjadi jelas. Ini yang belum terlihat dari para pasangan calon kita ini,” pungkasnya. (Red)



