
LOMBOK TENGAH, Corong Rakyat – Pada tahun ini upacara adat Perang Timbung dilaksanan pada hari Jum’at 26 Agustus.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Lombok Tengah (Loteng) L. Pathul Bahri, S.IP mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus tetap menjaga tradisi turun temurun yang diwariskan oleh nenek moyang.
“Upacara Perang Timbung ini kita jadikan sebagai ajang silaturrahmi. Perang Timbung ini harus dimasukkan dan menjadi kalender tahunan Pemkab Lombok Tengah supaya acara tahunan ini memiliki waktu yang jelas dalam pelaksanaannya. Peninggalan leluhur kita ini harus dijaga dan dilestarikan,” tutupnya.
Perang Timbung kali ini dilaksanakan di Serewe Desa Pejanggik Kecamatan Praya Tengah di sekitar kawasan makam Raja Pejanggik. Perang Timbung dilaksanakan setiap bulan ke – 4 dari penanggalan Sasak pada hari Jumat.
Setelah sholat Jum’at masyarakat mengawali acara perang timbung ini dengan mengarak air serat yang disemayamkan selama satu malam di Bale Beleq untuk diarak menuju makam.
Kemudian di sekitar area makam dibacakan Al Barzanji dan kemudian dilanjutkan dengan zikir yang dipimpin oleh seorang mangku (penjaga makam). Timbung-timbung tersebut kemudian dikepal dan pemuda pemudi saling melempar timbung.
Acara perang Timbung sendiri dilaksanakan sejak pemerintah Datu Mas Pemban Aji Meraja Kusuma (Raja Kerajaan Pejanggik-Red) pada masa itu.
Perang timbung sendiri bertujuan sebagai acara tolak bala untuk menghindari cobaan dari Tuhan Yang Maha Esa dan dijadikan sebagai ajang silaturrahmi untuk mempererat tali persaudaraan antara warga masyarakat Pejanggik.
Timbung merupakan makanan has lombok berupa pengatan ketan yang diberi santan dalam bambu yang dimatangkan dengan dibakar. (cr-muk)

