Lombok Timur – Aksi demonstrasi lanjutan yang digelar oleh Aliansi Cipayung Plus di depan gedung DPRD Lombok Timur, Rabu (3/9), berubah menjadi gelombang kemarahan. Mahasiswa dari berbagai organisasi diantarnya HMI MPO, PMII, GMNI, IMM, hingga Ek LMND turun ke jalan dengan satu tuntutan tegas: copot H. Ahyan, SH, MH dari jabatan Sekretaris Dewan (Sekwan).
Pemicu utama amarah massa adalah tindakan memalukan dan tak beretika Sekwan yang membagikan nasi bungkus di halaman kantor DPRD saat aksi mahasiswa masih berlangsung pada Senin lalu. Sebuah tindakan yang dianggap sebagai bentuk pelecehan terbuka terhadap gerakan mahasiswa dan upaya terang-terangan membungkam suara kritis rakyat.
“Ini bukan soal nasi bungkus. Ini penghinaan terhadap idealisme dan semangat perjuangan. Kami menuntut agar Sekwan dicopot dengan tidak hormat dan status ASN-nya dievaluasi oleh Mendagri,” tegas salah satu orator aksi dengan suara menggema.
Aliansi Cipayung Plus menilai langkah tersebut bukan hanya tidak etis, tapi juga sarat nuansa psikologis untuk meredam semangat aksi. Mereka mengecam keras upaya “menyuap moral” mahasiswa dengan dalih empati, yang justru membuktikan bagaimana buruknya etika pejabat publik di tubuh DPRD Lotim.
“Kalau memang ingin menunjukan empati, lakukan dengan cara bermartabat. Bukan melempar nasi bungkus seperti memberi makan burung,” kecam seorang perwakilan dari PMII.
Klarifikasi Sekwan: Menyalahkan Wartawan, Bikin Blunder Tambahan
Alih-alih meminta maaf secara terbuka, H. Ahyan justru memperkeruh suasana dengan klarifikasi yang menuding wartawan sebagai biang masalah. Di hadapan massa aksi, ia mengatakan:
“Saya ditodong oleh wartawan waktu itu. Tidak ada niat sedikit pun mencederai aksi mahasiswa, tapi semua ini digoreng dan diframing ke arah yang salah oleh media.”
Pernyataan tersebut kontan memicu gelombang reaksi keras dari kalangan jurnalis di Lombok Timur. Beberapa wartawan menyebut klarifikasi tersebut sebagai “blunder fatal dan bentuk penghinaan terhadap profesi pers”.
“Pernyataan Sekwan ini bukan hanya ngawur, tapi berbahaya. Seolah-olah wartawan di Lotim suka main todong. Ini bisa menjadi preseden buruk dan menciptakan opini sesat di masyarakat,” ujar salah satu jurnalis senior di Lombok Timur.
Ketua DPRD Janji Tindaklanjuti Semua Tuntutan Masa Aksi.
Ketua DPRD Lotim, Muhammad Yusri, AM.KP, akhirnya angkat bicara di tengah massa yang terus mendesak pencopotan Sekwan. Ia menyatakan akan menindaklanjuti tuntutan mahasiswa secara serius.
“Kami terima semua tuntutan rekan-rekan dengan lapang dada. Semua akan kami tindak lanjuti,” ujarnya singkat, namun dinilai oleh massa sebagai pernyataan normatif tanpa komitmen konkret.
Sementara itu, seorang akademisi dari salah satu kampus ternama di NTB menilai tindakan Sekwan sebagai manipulasi psikologis terhadap massa aksi dan mencoreng institusi legislatif.
“Pemberian makanan di tengah aksi bukan tindakan netral. Itu manipulatif, dan bisa dianggap strategi pembungkaman halus. Ini sangat berbahaya bagi demokrasi lokal,” tandasnya.
Tuntutan Tegas Aliansi: Copot Sekwan Sekarang Juga!
Aksi ini dipastikan bukan yang terakhir. Aliansi Cipayung Plus bersiap mengirim surat resmi kepada Kementerian Dalam Negeri dan Badan Kepegawaian Nasional untuk mengevaluasi status ASN H. Ahyan.
“Jika tuntutan ini tidak direspons dengan serius, kami akan turun dengan jumlah yang lebih besar. Jangan uji kesabaran kami!” seru salah satu koordinator aksi dengan nada tajam.||Asrori CR

