SBMI NTB: Hari Buruh Ditengah Pandemi covid-19.

Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) NTB, di tengah pandemi Corona seperti sekarang ini, Mengajak semua pihak untuk memanfaatkan hari buruh sedunia dengan saling membantu.

LOMBOK TIMUR, Corongrakyat.co.id -Menghadirkan suasana berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Empat bulan berlalu, dunia diselimuti kekhawatiran akan krisis ekonomi akibat pandemi virus corona. Kebijakan penguncian atau lockdown yang diterapkan di sejumlah negara untuk mengatasi virus corona berdampak besar pada iklim ekonomi global saat ini. Berdasarkan catatan Organisasi Buruh Internasional, 7 April 2020, penguncian penuh atau parsial telah berdampak pada hampir 2,7 miliar pekerja atau sekitar 81 persen dari total pekerja di dunia.

Ketua SBMI NTB Usman, S.Pd menuturkan, Laporan terbaru International Labour Organization (ILO), 29 April 2020, menunjukkan angka itu mengalami penurunan dalam dua minggu terakhir menjadi 68 persen, ketika beberapa negara telah melonggarkan penguncian. para pekerja ini dan keluarga mereka tidak akan memiliki sarana untuk bertahan hidup tanpa sumber pendapatan alternatif.

Sebagai akibat dari krisis ekonomi, menyebut, 1,6 miliar pekerja informal berpotensi kehilangan mata pencaharian. Pada bulan pertama krisis, diperkirakan mengakibatkan penurunan 60 persen pendapatan pekerja informal secara global. Artinya, terjadi penurunan 81 persen di Afrika dan Amerika, 21,6 persen di Asia dan Pasifik, dan 70 persen di Eropa dan Asia Tengah. 

Usman menambahkan, Tanggal 1 Mei ditetapkan sebagai Hari Buruh Internasional atau May Day. Menurut sejarahnya, saat itu pada 1 Mei 1886, ada sekitar 350 ribu buruh mogok massal di beberapa wilayah di Amerika Serikat (AS). Mereka diorganisir oleh Federasi Buruh Amerika. Kaum pekerja menuntut perbaikan kesejahteraan dan jam kerja 8 jam sehari. Pada saat itu, buruh dipaksa bekerja hingga 15 jam sehari.

“Pada 3 Mei 1886, pemerintah mengirim sejumlah polisi untuk meredam mogok kerja di pabrik McCormick. Polisi menembaki para buruh yang melakukan aksi mogok. Empat orang tewas, puluhan luka-luka. Kalangan buruh pun marah dan mereka melakukan aksi pada 4 Mei di lapangan Haymart” Tutur Usman.

Masih kata Usman, Aksi yang diikuti puluhan ribu buruh ini awalnya berjalan damai. Namun tiba-tiba sebuah bom meledak. Tidak diketahui siapa yang meledakkan bom. Seorang polisi tewas dan belasan terluka. Polisi membalas dengan menembaki para buruh.Karena kejadian ini, pimpinan buruh dijatuhi hukuman gantung. Masyarakat marah atas hasil hasil pengadilan. Mereka mendesak pemerintah untuk membebaskan para aktivis buruh yang ditahan. Aktivis buruh pun dibebaskan. Sejak saat itulah diperingati sebagai Hari Buruh.

“Sedangkan di Indonesia, setiap tanggal 1 Mei selalu dirayakan oleh buruh dengan melakukan unjuk rasa di berbagai kota. Kala itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan hadiah bagi para buruh. Pemerintah Indonesia menjadikan Hari Buruh Internasional yang diperingati setiap 1 Mei sebagai hari libur nasional. Libur 1 Mei mulai berlaku sejak tahun 2014,”Paparnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2019, jumlah pengangguran terbuka sebesar 5,28 persen atau mencapai 7,05 juta orang. Jika ditambah dengan angka pengangguran akibat pandemi virus corona, maka jumlah pengangguran di Indonesia pada tahun ini akan mencapai sekitar 10-12 juta orang.

Lebih jauh Usman Menyinggung Program Kartu Prakerja, yang awalnya diprioritaskan untuk pencari kerja usia muda, kini juga menyasar para pekerja yang terkena PHK. Mantan Pekerja Migran Indonesia (M PMI) Calon PMI yang tidak jadi di berangkatkan ke Negara Tujuan namun sebagian kecil yang terdaftar untuk mendapatkan Kartu Prakerja tersebut, juga di sampaikan, akan lebih bermanfaat apabila anggaran yang sudah dialokasikan untuk kartu prakerja di-realokasi dan di-refocusing untuk penanganan Covid-19, anggaran sebesar Rp 20 triliun yang digelontorkan pemerintah untuk kartu prakerja akan lebih terasa manfaatnya bila dialihkan untuk memberikan bantuan secara langsung kepada masyarakat yang terdampak pandemi virus corona.  

“Hari buruh di tengah pandemi Corona seperti sekarang ini, Mengajak semua pihak untuk memanfaatkan hari buruh sedunia dengan saling membantu. Hal ini tentu akan berdampak kepada semangat bagi Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) Mantan Buruh Migran Indonesia (M PMI) para buruh yang di PHK akibat Covid19,” Kukuhnya.

Selain itu Usman juga mengatakan, Pekerja  Migran Indonesia baik yang sudah pulang dan Calon Pekerja Migran Indonesia (C PMI) yang gagal di berangkatkan serta buruh yang di PHK dan dirumahkan akibat pandemi Covid-19 atau Corona yang berdampak pada perekonomian. Sehingga  Usman mengajak semua Mantan dan buruh migran dan keluarga  agar May Day atau Hari Buruh 2020 kali ini bisa kempanye lewat media sosial dan lainya dan saling membantu sesama ikuti arahan pemerintah agar Corona Virus Deseise 19 (Covid19) segera berakhir di Negara kita  

“May Day-nya virtual saja, atau mungkin saling membantu sesama Pekerja Migran Indonesia (PMI) Calon Buruh Migran Indonesia ( C PMI) yang gagal berangkat saat lockdwon mereka bersama keluarganya di Negara mereka bekerja. mari saling membantu sesama mungkin dengan diberikan  sembako, berikan bantuan,  dan saling membantu untuk di daptarkan sebagai penerima bantuan dari pemerintah. itu akan menyemangati,” Harap Usman. (CR-Wenk).