PT Djarum Tekankan Efisiensi Biaya Produksi Agar Petani Tak Merugi

 

PT Djarum akui melakukan penyesuaian dalam membeli hasil produksi petani tahun ini. Namun, jauh sebelumnya telah dilakukan sosialisasi kepada petani agar melakukan efisiensi dan efektivitas agar biaya yang dikeluarkan proporsional dengan situasi bisnis di masa pandemi.

LOMBOK TIMUR, Corongrakyat.co.id- Deputy Purchasing Manager PT. Djarum, Agung Sofani ditemui di sela rapat koordinasi antara Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur (Bidang Perkebunan, red) menyatakan jika Djarum telah melakukan rapat harga dengan para petani dan dihadiri langsung oleh pihak-pihak terkait.

“Kita sudah rapat harga tanggal 16 Agustus, pada waktu itu kita undang pihak dinas, baik itu dari Provinsi, Lombok Timur dan Lombok Tengah, perwakilan petani termasuk APTI,” kata dia Kantor Dinas Pertanian Lotim, (15/09/2021).

Masih kata dia, pada saat rapat tersebut, disampaikan skema harga pembelian Djarum kepada petani, dan berdalih jika Djarum tidak menurunkan nilai beli, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan. Kendati dia juga mengatakan jika industri tembakau alami penurunan, karena adanya penyesuaian regulasi bisnis (kenaikan cukai 2021, red) ditambah lagi dengan hantaman Pandemi Covid-19 dan daya beli masyarakat yang rendah sehingga secara otomatis berdampak pada harga dan serapan tembakau kualitas premium di pasaran.

“Saya pikir di Djarum tidak turun, tapi disesuaikan dengan kondisi bisnis dan market share penjualan yang menurun dan kebutuhan yang lebih disesuaikan dengan meningkatnya penggunaan bahan baku untuk rokok pada katagori menengah-murah. Memang kita tetap beli yang premium, tetapi memang kebutuhannya sementara ini menurun sebagai imbas pandemi,” imbuhnya.

Lanjut Agung, tidak kurang dari satu pekan lalu, pihaknya telah mengundang 54 perwakilan petani untuk ditanyakan terkait permasalahan yang mereka alami, di mana setelah mendengar informasi itu, kata dia, perusahaan langsung menindaklanjuti dengan menaikkan harga pada beberapa grade. “Besok harinya itu, kita langsung naikkan 13 grade,” sebutnya.

Dijelaskan lebih jauh, pada musim tanam 2021 ini, jumlah petani mitra binaan Djarum 725 orang, dengan kuota pembelian perusahan 4000 ton. Di mana selama 23 hari masa pembelian, dijelaskan baru terserap sekitar 10 persen.

“Berdasar kalender kami, tembakau akan habis di pekan pertama bulan November. Kita tetap akan beli di waktu itu sesuai dengan standar kualitas. Jadi ini masih panjang,” tuturnya.

Kemudian beber dia lagi, Djarum sejak awal Januari tahun ini telah mensosialisasikan kepada para petani binaannya, jika pada masa musim tanam ini akan terjadi siklon La Nina (kemarau basah, red). Dari itu kata dia, petugas lapangan sebagai pengawas teknis budidaya telah mewanti-wanti para petani agar melakukan efisiensi dan efektivitas saat produksi, serta modifikasi areal tanam dengan mengatur jarak tanam dan kedalaman got (drainase, red), agar biaya yang dikeluarkan oleh petani proporsional dengan kondisi bisnis saat ini.

“Djarum dari awal musim sudah mengingatkan petani tentang pentingnya efisiensi biaya produksi dan menyampaikan prediksi cuaca kemarau basah. Djarum sudah melakukan sosialisasi dan pengawalan teknis mengenai hal itu sebagai langkah antisipasi, agar petani kita tidak merugi,” tandasnya. (Pin/*)

BERITA TERKAIT