Selong, Maret 2025 – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Lombok Timur kembali merilis Statistik Kesejahteraan Rakyat 2024, yang memotret berbagai aspek kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Laporan ini merupakan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilaksanakan pada Maret 2024, dengan melibatkan 910 rumah tangga responden yang tersebar di 22 kecamatan di wilayah tersebut.
Pertumbuhan Penduduk dan Struktur Usia
Berdasarkan data kependudukan, proporsi penduduk usia produktif (15–64 tahun) di Lombok Timur mencapai 66,35%, sementara penduduk anak-anak (0–14 tahun) sebesar 27% dan lansia (65 tahun ke atas) sebesar 6,66%. Secara gender, laki-laki mendominasi kelompok usia 0–19 tahun, sedangkan perempuan lebih banyak ditemukan di kelompok usia lanjut.
Pendidikan: Capaian dan Kesenjangan
Di sektor pendidikan, 67,62% penduduk berumur 5 tahun ke atas di Lombok Timur sudah tidak bersekolah lagi, 5,44% masih melanjutkan pendidikan tingkat SMA/SMK sederajat, dan hanya 2,33% yang sedang menempuh pendidikan tinggi. Ketimpangan terlihat jelas ketika dibedakan berdasarkan kelompok pengeluaran. Kelompok 40% penduduk terbawah hanya mencatat 1,50% yang melanjutkan ke perguruan tinggi, jauh dibandingkan 2,72% pada kelompok 20% teratas.
Lebih jauh, sebanyak 16,32% penduduk berusia 15 tahun ke atas tidak memiliki ijazah pendidikan formal. Mereka yang menyelesaikan pendidikan hingga tingkat SMA/SMK sederajat berjumlah 22,56%, sementara lulusan perguruan tinggi hanya mencapai 8,76%.
Kesehatan: Akses Jaminan dan Pola Hidup
Kondisi kesehatan masyarakat Lombok Timur masih menyimpan tantangan. Angka kesakitan tercatat sebesar 17,44%, dengan tingkat keluhan kesehatan yang ditangani melalui rawat jalan menggunakan jaminan kesehatan mencapai 35,70%. BPJS Kesehatan menjadi jaminan kesehatan utama yang dimiliki oleh 60,48% penduduk, namun sebanyak 39,07% lainnya masih belum memiliki akses jaminan kesehatan sama sekali.
Perilaku merokok juga menjadi isu penting. Sebanyak 31,61% penduduk berusia 15 tahun ke atas dilaporkan merokok tembakau dalam sebulan terakhir, dengan rata-rata konsumsi mencapai 87 batang rokok per minggu. Kebiasaan ini lebih tinggi pada kelompok 40% menengah, yaitu sebesar 34,44%.
Perumahan dan Akses Fasilitas Dasar
Di sektor perumahan, mayoritas rumah tangga di Lombok Timur sudah memiliki tempat tinggal sendiri. Namun, masih ada tantangan dalam hal sanitasi dan air bersih. Sebagian rumah tangga, terutama pada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, belum sepenuhnya mengakses fasilitas MCK layak dan sumber air minum aman.
Konsumsi, Pengeluaran, dan Kesejahteraan Ekonomi
Rata-rata konsumsi kalori per kapita per hari di Lombok Timur adalah 1.989 kkal, masih di bawah standar kebutuhan energi rata-rata nasional. Konsumsi protein mencapai 52,9 gram per kapita per hari. Dari sisi pengeluaran, rata-rata pengeluaran per kapita sebulan di Lombok Timur menunjukkan ketimpangan, dengan 20% penduduk teratas mencatatkan angka pengeluaran jauh di atas 40% kelompok terbawah.
Perlindungan Sosial dan Kepemilikan Aset
Sebanyak 60% rumah tangga di Lombok Timur menerima manfaat dari program perlindungan sosial, seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Namun, kepemilikan aset seperti lahan produktif, kendaraan bermotor, dan alat elektronik lebih banyak dimiliki oleh kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke atas.
Harapan dan Rekomendasi
Kepala BPS Kabupaten Lombok Timur, Ir. Muhadi, dalam pengantarnya menyatakan bahwa data ini menjadi acuan penting bagi pemerintah daerah dalam merumuskan dan mengevaluasi kebijakan pembangunan. Ia menekankan pentingnya peningkatan kualitas pendidikan, akses layanan kesehatan, serta penguatan program perlindungan sosial untuk mengatasi ketimpangan ekonomi di wilayah ini.
Dengan berbagai tantangan tersebut, Lombok Timur diharapkan terus mendorong kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan, demi meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakatnya.|| Analis ekonomi corong rakyat

