
Lombok Timur, CR – Keseharian politisi kawakan H. Najamudin yang selalu bersentuhan dengan debat, intrupsi bahwa tidak jarang dirinya melakukan sidak dibeberapa proyek provinsi yang dianggap tidak beres saat itu, namun kali ini, Politisi senior ini, bergumul dengan lumpur, sabit dan pacul, tidak ayal, ditangan dinginnya, produksi Pare dan Cabe yang digarapnya bersama keluarga, angka produksinya tiga kali lipat.
Di areal 2,5 hektar yang ditanami berbagai jenis tanaman, mulai dari pare, cabe dan padi, hasilnya diluar dugaan.Bermodalkan otodidak, pare yang ditanam di disekeliling pematang sawah telah mampu menghasilkan tidak kurang dari 4 Ton dalam satu kali panen, dengan omzet diatas 50 Juta, selain pare, ia juga menanam bawang merah, kendati musim hujan, tanaman bawang merah ini telah laku terjual oleh tengkulak, karena kualitas produksinya yang bagus.
“ Mau penen, pembeli sudah melepas uang dikita,” jelasnya.
Hal lain yang menjadi diluar kebiasaan petani adalah keberaniannya menanam cabe dimusim hujan, menurut TGH Najam sapan akrabnya, sebenarnya menanam cabe dimusim hujan tidak masalah, asalkan caranya perawatannya disesuikan dengan iklim yang ada.
“ Cabe itu tidak boleh akarnya langsung bersentuhan dengan air, makanya gundukan tanahnya harus tinggi,” jelasnya.
Selama ini petani banyak gagal menanam cabe terkait dua hal, hal pertama adalah, gundukan tanah yang terlalu rendah, sehingga akar cabe menjadi rusak, yang kedua pemilihan jenis pupuk, selama ini petani hanya bergantung pada jenis pupuk urea, padahal untuk jenis cabe tidak cocok dengan jenis pupuk ini.
“ Cabe itu diharamkan akarnya serabutnya bersentuhan dengan air tergenang, dan sebaiknya menggunakan pupuk TSP,” jelasnya.
Saat ini cabe yang terbentang di areal 75 are tersebut telah mengasilkan omzet 64 Juta.
” Saya baru metik dua kali,” Ujarnya.
Dari pantaun CR, di sekeliling sawah politisi PKB NTB ini, memang tidak satupun petani yang menanm cabe, semuanya areal dipenuhi dengan padi, sambil menunjuk sawah sekelilingnya, H. Najamudian mengatakan apa yang dia lakukan saat ini sebagai dakwah bil hal, karena petani sulit percaya kalau tidak melihat bukti.
“ Sekarang banyak petani berguru ke saya dan saya akan tularkan ilmu ini kepada mereka, agar berkah keuntungan ini tidak sekedar saya yang menikmatinya,” jelasnya.( One).

