oleh

Meluruskan Kebingungan Asnaf “ASN Gharimin”

banner 300500

TERMINOLOGI Zakat selalu menarik, Saat terminologi Zakat menyentuh Ranah Publik maka muncul Stigma Darmawan, Aghniya dan Muzakki. Ketiganya adalah Kasta Suci, Maqam Mulia, siapapun yang berada pada Level tersebut kemuliaannya di hadapan Allah Akan terangkat, dan disisi Manusia Mereka akan dirindukan oleh Mustahiqnya (Penerima ) Zakat mereka, Karena balasan yang demikian Kasta ini kemudian menjadi Rebutan oleh mereka yang memiliki kelebihan harta dan mengharap derajat mulia disisi Allah ditambah lagi sebagai orang yang dirindukan kaum dhuafa.

Menyebut Terminologi Zakat tidak mungkin dipisahkan dengan dua terminologi lain yang melengkapinya, kedua istilah tersebut adalah Mustahiq atau Asnaf dan Muzaqqi (Penerima dan Pemberi) Zakat. Asnaf/Mustahiq yang jelas, disebutkan Oleh Allah Dalam Alqur’an jumlahnya Delapan, Diantara Mustahiq atau penerima yang berjumlah Delapan itu salah satunya adalah “Gharimin”. Dalam kitab-kitab Fiqih, Gharimin adalah Orang yang berhutang untuk membiayai suatu keperluan Umum, orang dengan Model ini sangat layak mendapatkan jatah atau bagian. Pada waktu pembagian Zakat.

Zakat sebagai sebuah system Retribusi Harta/Kebutuhan, dari Orang Kaya (MUzaqqi) kepada Asnaf/Mustahiq (Penerima) harus menjadi “Problem Solving” atau Solusi Pemecahan Masalah. Meskipun dengan durasi yang tidak Konstan/Tetap, namun dapat menimbulkan efek Psikologis yang baik, sebagai bentuk pembenaran akan janji Allah Dan Rasulullah Kepada Muzaqqinya, sedang bagi Asnaf/Mustahiqnya adalah Bentuk pengamalan “Taawun Alal Birri wattaqwa” secara Horizontal. Pada kondisi semacam ini Zakat dan Dua istilah pelengkapnya menjadi penting dan sangat perlu.

Sarat utama untuk keberhasilan tujuan pembayaran, pengumpulan, dan penyaluran Zakat adalah Lembaga terpercaya yang mampu mengelola zakat secara tepat dan Profesional, diantaranya adalah LAZIS dan BAZ, yang ada di daerah pemungutan, pengumpulan dan Penyaluran Zakat. Lembaga tersebut secara Yuridis harus dan mesti memiliki Legalitas dan didukung dengan perangkat yang lengkap agar dalam pelaksanaan ketiga kegiatannya dapat berjalan dengan Mulus, apabila terdapat ketimpangan pada salah satunya maka konsekwensinya adalah melahirkan “Gejolak” atau Sosial Stunting.

BAZDA (Badan Amil Zakat Daerah) Kabupaten Lombok Timur, sebagai lembaga Pengumpul dan penyalur mesti dan harus “Selektif dan bersungguh-sungguh” dalam menjalankan Fungsi distribusi, sebagai bentuk Kelanjutan atas seleksi ketat dalam penentuan Mustahiqnya/Asnaf Zakat, Calon Penerima haruslah melalui mekanisme Seleksi yang sesuai Prosedur, memenuhi Kriteria, dan Faktual sebagai Penerima. dengan adanya “Real Men” atau Penerima yang tepat, Gejolak atau Stunting Sosial akan dapat ditekan, namun apabila sebaliknya maka justru akan menjadi Sumbu Ledak “Sosial Disturbing”.

Dikotomi ASN dan Non ASN merupakan Matarantai yang tidak dapat diputus dalam kehidupan Masyarakat, ASN lebih Dominan sebagai Kelas Menengah Keatas sedang Non ASN lebih Dominan sebagai Kelas Menengah Kebawah, Domain kelas yang dibentuk oleh kedua Dikotomi tersebut adalah Kutub yang saling menarik, Saling Mendorong, Saling Menekan, Hubungan keduanya tidak boleh Faralel, sejajar, atau Horizon, untuk menyelaraskan diperlukan Posisi Vertikal yang berfungsi sebagai Pemotong matarantai “Sosial Gate” atau Pembedaan Sosial.

Sebagai Konsekwensi dari Penunjukan ASN sebagai Asnaf/Mustahiq dengan Kategori “Gharimin” Oleh BAZNAS yang kemudian menimbulkan kegaduhan di Kabupaten Lombok timur, harusnya di tangkap sebagai sebuah signal Kemajuan dalam mencari solusi Alternatif, dengan tidak membiarkan biasnya meluber kearah kecemburuan sosial, mestinya dari awal BAZDA harus mensyaratkan ASN yang menjadi Gharimin, dengan Dokumen pendukung kepemilikan, atau kepengelolaan Mereka atas Amal Usaha Milik Umum yang menjadi Alasan bagi ASN “Gahrimin” untuk mendapatkan Hak-hak Zakat mereka.

Kelengkapan kepemilikan dokumen diharapkan, akan menjadi Pancuran yang akan memberikan Air segar, dalam kehausan ASN “Gharimin” untuk mendapatkan Pemenuhan kebutuhan dan penuntutan atas hak-hak Zakat mereka. Masyarakat Umum yang Non ASN juga, semestinya memahami Kapasitas dan Kapabilitas BAZNAS sebagai Penyalur, apabila mereka tidak mendapati Nama mereka tercantum sebagai Asnaf/Mustahiq Zakat, semestinya mereka tidak akan menuntut terlalu Kuat, dengan menimbang Jumlah Muzaqqi yang ada diKabupaten Lombok Timur. (*)

Oleh : Abu Ikbal Fatahillah (Penyuluh Agama Islam)

BERITA TERKAIT