oleh

Masjid Kuno Songak, Masjid Tua yang Masih Terawat Hingga Kini

banner 300500
Masjid Tua Songak
Masjid Tua Songak

Kendati sudah berumur 705 tahun, Masjid kuno desa Songak Kecamatan Sakra Kabupaten Lombok Timur yang berdiri kokoh sejak tahun 1309 itu hingga kini masih kokoh berdiri dengan  konstruksi bangunan aslinya.

Oleh : Kamaruzzaman

BELUMditemukan catatan resmi kapan Masjid Songak yang saat ini bernama Masjid Alfalah didirikan. Namun berdasarkan penuturan secara turun-temurun, konon masjid ini didirikan pada awal abad ke 14 Masehi atau sekitar tahun 1309 oleh Sembilan orang wali yang dikenal dengan sebutan Sangapati.

Demikian dituturkan oleh Murdiah (53) pelestari situs bersejarah tersebut kepada Corong Rakyat, Rabu (03/10/2013).

Keberadaan masjid Songak tidak terlepas dari sejarah desa Songak, konon desa ini awalnya bernama desa Leaq yang berarti desa lama. Saat invansi pertama Anak Agung Raja Karang Asem Bali pada awal abad 14 berganti nama menjadi desa Leak.

Dalam bahasa,Bali kata Leak dikenal dengan hal-hal yang bersifat magis. Karena adanya berbagai macam penderitaan yang dialami oleh masyarakat akibat tekanan dari pemerintahan Anak Agung, lambat laun desa Leak ditinggal pergi oleh penduduknya sehingga oleh masyarakat desa lain yang biasa melintas di desa tersebut menyebutnya dengan desa Suwung yang berarti kosong.

Sepinya desa tersebut konon mendapatkan perhatian dari sembilan wali yang kemudian menempati desa tersebut, Sembilan wali tersebut yang kemudian dikenal sebagai Sangapati. Menetapnya Sangapati membuat desa Suwung dikenal dengan desa Sangapati.

Dibawah kekuasaan Raja Selaparang,desa tersebut berganti nama dengan menjadi desa Sebengak, kemudian dibawah kekuasaan Purwadadi berganti menjadi desa Sengake.

Pada tahun 1920 datanglah Tuan Guru Lopan dari Darmaji Lombok Tengah mengajak masyarakat desa tersebut  mulai menegakkan ajaran syariat Islam dan sholat berjama’ah di masjid, pada tahun inilah desa tersebut berganti nama menjadi desa Songak.

Karena adanya perubahan system pemerintahan, pada tahun 1967 desa Songak berganti nama menjadi desa Keselet dan pada tahun 2011 namanya dikembalikan menjadi desa Songak.

Ada sederet keunikan dalam bangunan masjid yang menjadi kebanggaan masyarakat Lombok Timur ini,diantaranya adalah bagian dinding yang terbuat dari bongkahan tanah yang dikepal-kepal,ini dapat dilihat dari tekstur dinding tersebut.

Berdasarkan keterangan salah seorang saksi sejarah, Murdiah, bongkahan tanah tersebut dahulunya adalah bahan yang ditanam sebagai pondasi bangunan seluas 9 kali 9 meter, saat itu dindingnya terbuat dari bata mentah yang oleh masyarakat desa Songak menyebutnya kitakan berukuran 30 X 60 cmyang pembangunannya dipelopori oleh Tuan Guru Lopan.

Pada tahun 1999, saat masyarakat ingin merenovasi masjid tersebut dengan mengganti pondasinya menggunakan batu kali,mereka dibuat heran dengan masih utuhnya tanah yang dikepal-kepal digunakan sebagai pondasi. Berdasarkan kesepakatan masyarakat saat itu akhirnya tanah tersebut digunakan sebagai dinding.

Dibagian dalam masjid, tepatnya dibagian atap kita dapat melihat palang kayu yang dihiasi ukiran sederhana dengan bentuk yang berbeda. Oleh Murdiah dijelaskan palang kayu tersebut menunjukkan berbagai symbol, di antaranya adanya empat madzhab dalam faham ahli sunnah wal jama’ah, yaitu Syafi’I, Hambali, Hanafi dan Maliki.

Simbol empat anasir asal kejadian manusia yaitu tanah, air, api dan udara. Simbol dari empat khulafa’urrasyidin yaitu Abu Bakar, Umar Bin Khattab, Usman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib. Serta symbol rempat penjuru mata angin sebagai tujuan manusia menebar setelah menjalankan kewajibannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Beberapa benda bersejarah yang sampai saat ini masih dijaga keberadaannya oleh Murdiah adalah Jungkat atau Tanjekan dalam bahasa Indonesia disebut tombak yang digunakan oleh khotib saat membaca khutbah jum’at, Idul Fitri dan Idul Adha.

Naskah khutbah Idul Adha yang ditulis dalam aksara arab melayu terbuat dari kulit binatang yang masih tergulung rapi di dalam tabung bambu.

Sebenarnya ada lagi peninggalan yang nilainya tidak terhingga yaitu kitab Al-Qur’an besar yang terbuat dari kulit binatang. Qur’an tersebut hilang pada tahun 1980 saat terjadi kebakaran dan hingga saat ini tidak diketahui keberadaannya.

Ada beberapa tradisi yang kembali dibangkitkan oleh masyarakat setempat sejak tahun 1999, yaitu tradisi Bubur Puteq (bubur putih-red) yang dilaksanakan setiap perayaan tahun baru hijriyah pada bulan Muharram.

Bubur tersebut terbuat berbagai biji-bijian dan umbi-umbian. Tradisi Bubur Beaq (bubur merah;red) pada bulan Shafar, bubur tersebut terbuat dari ketan hitam dan gula merah.

Tradisi selanjutnya adalah Maulid Nabi Muhammad SAW, pada tanggal 12 Rabi’ul Awal. Pada saat itu juga dilakukan tradisi pembuatan minyak Songak yang cukup dikenal oleh masyarakat Lombok Timur akan khasiatnya yang luar biasa. Minyak tersebut dibuat dari kelapa dan berbagai rempah-rempah pilihan.

Kini keberadaan masjid kuno tersebut tidak lagi dipelihara secara turun temurun, tapi dipelihara secara bersama-sama oleh masyarakat Songak. Dalam catatan Murdiah ada beberapa nama yang pernah berjasa dalam menjaga masjid yang disebut oleh masyarakat Songak dengan nama Musigit Bengan tersebut, yaitu Baloq Penghulu wafat dalam usia 120 tahun pada tahun 1985.

Jauh sebelum wafat,tugas tersebut Ia wariskan kepada putranya bernama Baloq Sawi. Oleh Baloq Sawi kemudian mewariskan kepada putranya yang bernama Amaq Riwa kemudian oleh Amaq Riwa diwariskan kepada putranya yang bernama  Amaq Sarah yang wafat pada tahun 1979.

Masjid kuno Songak saat ini masih berdiri tegak dengan mempertahankan bentuk atap bertingkat seperti aslinya yang terbuat dari alang-alang dan ijuk. Bagian dalam atap masih menggunakan material aslinya,demikian juga dengan tiang dibagian dalamnya. Masyarakat Songak juga masih terus menjaga kelestarian tradisi yang melekat padanya. ()