oleh

Kisah Amaq Yoni, di Usia Renta Digugat Putrinya

banner 300500

Soal harta nyatanya mematikan nurani dan membekukan empati. Seperti yang terjadi di Sembalun Bumbung, seorang anak tega menggiring ayahnya ke kursi hijau Pengadilan. Tak lain, sebabnya adalah soal warisan.

LOMBOK TIMUR, Corongrakyat.co.id- Perselisihan antara anak dan orang tua kandung kembali terjadi. Kali ini terjadi di Dusun Lauk Rurung, Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun. Adalah Amaq Yoni, sosok lelaki lanjut usia yang digugat oleh anak kandungnya yang bernama Inaq Suhelin.

Awal mula perkara, berdasar informasi yang didapat media ini, Amaq Yoni sebelumnya menghibahkan sebidang tanah kepada Inaq Suhelin (anak, red) dengan catatan sang anak mesti merawatnya di usia senja, namun apa hendak dikata, ternyata diakui dia, sang anak malah tidak pernah melakukan seperti yang diharapkan (merawat, red), sehingga oleh musabab perlakuan anaknya itulah kemudian dirinya memutuskan menjual tanah yang telah dihibahkannya itu kepada H. Mahrup dan H. Nil. Itulah alasan kenapa dirinya digugat oleh sang anak ke Pengadilan Negeri Selong aku Amaq Yoni lirih.

“Perbuatan dia seharusnya tidak dilakukan seorang anak, dari dulu dia tidak pernah merawat saya. Itu sudah termasuk namanya anak durhaka,” kata Amaq Yoni terbata dalam bahasa Sasak, Jumat (13/08/2021).

Gugatan sang anak sontak membuat Amaq Yoni seperti disambar petir. Cukup beralasan, katanya sebelum berposes sengketa di Pengadilan, tidak pernah ada mediasi yang dilakukan, walaupun di tingkat desa sekalipun. “Tiba-tiba saya langsung dihantarkan surat panggilan gugatan dari Pengadilan,” sebutnya.

Tetangga terdekat Amaq Yoni, yaitu Amaq Mahilum ditemui di tempat yang sama membenarkan dan memperkuat dengan kesaksian secara tegas tentang apa yang dituturkan tetangganya. “Saya menyaksikan sendiri bagaimana perlakuan Inaq Suhailin kepada ayahnya yang sengaja menelantarkan orang tuanya, beruntung kami sebagai tetangga peduli dengan keadaan orang tuanya, yang kadang makan dan tidak. Itu namanya anak durhaka,” urainya lirih.

Memperkuat informasi yang didapat media ini dari Amaq Yoni terkait gugatan yang dialamatkan sang anak kepadanya, media ini menghubungi Kepala Desa Sembalun Bumbung. Dalam keterangannya via jaringan seluler, kepala desa membenarkan hal itu terjadi. Malahan ia menyatakan baru mengetahui sengketa antara bapak dan anak itu setelah surat Pengadilan Negeri Selong singgah di kantornya.

“Hal ini (sengketa, red) baru saya ketahui setelah adanya surat panggilan oleh Pengadilan Negeri Selong kepada Amaq Yoni. Jadi tidak ada upaya yang kami lakukan sebagai pemerintah desa,” ungkapnya.

Atas peristiwa yang menimpa Amaq Yoni itu, nyatanya mengundang simpati dari salah seorang pengacara, yaitu Santi Mandasari, S.H yang mengaku siap mendampingi Amaq Yoni dalam persidangan nantinya secara sukarela dengan alasan kemanusiaan.

Terlepas dari sisi normatif hukum, Mandasari cukup menyesalkan perlakuan Inaq Suhelin kepada ayah kandungnya sendiri. Setidaknya kata dia, sebelum persoalan itu bermuara di Pengadilan, harusnya ditempuh mediasi dan diselesaikan berdasarkan azas kekeluargaan.

“Karena ini masalah keluarga yaitu hubungan ayah dan anak, maka selayaknya diselesaikan secara keluarga tanpa melalui jalur hukum,” sesalnya. (Cr-Pin)