|
|

Lombok Timur, Corong Rakyat – Pusat Kajian Antropologi Universitas Indonesia menyambangi kelompok Pengukur curah Hujan Lombok Timur (KPCH) guna untuk mengevaluasi dan berdiskusi terkait hasil observasi dan pengamatan yang di lakukan oleh kelompok tani pengukur curah hujan yang ada di Desa Pandanwangi Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur
Kelompok pengukur curah hujan merupakan kumpulan petani yang di bina secara berkelanjutan untuk aktif menghimpun data tentang kondisi curah hujan dan dampaknya pada tanaman serta ekosistem lahan serta mengevaluasi pertumbuhan tanaman dan hasil pertanian
Prof. Yunita T. Winarto,PH.d guru besar Antropologi UI sekaligus sebagai koordinator tim Riset Knowledge Sector Initiative FISIP- UI mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan rutinitas yang di lakukan oleh kelompok pengukur curah hujan yang di dampingi guna untuk mendiskusikan hasil observasi dan pengamatan yang di lakukan para petani
“ kegiatan diskusi ini kami lakukan sebagai rutinitas setiap bulan untuk mengetahui hasil observasi yang telah di lakukan oleh para petani terkait permasalahan yang di temukan oleh para petani dan mencarikan solusi atas permasalahan yang terjadi,” ungkapnya ketika di temui oleh wartawan Corong Rakyat ketika ketika selesai berdiskusi dengan para petani Pandanwangi (Selasa 03/11/2015)
Selain itu juga Yunita menambahkan bahwa selama satu tahun ini di mulai pada tahun 2014 para petani diberikan pemahaman tentang perubahan iklim, sehingga nantinya di harapkan para petani mampu menjadi petani yang cerdas, tidak hanya itu para petani di berikan alat untuk mengukur curah hujan dan para petani melakukan praktik langsung untuk mengukur curah hujan tersebut.
Dari pemaparan beberapa petani bahwa untuk tahun 2015 di bandingkan tahun 2014 para petani mengalami peningkatan pendapatan kendati ini merupakan musim kemarau, tapi karna sudah mendapatkan edukasi selama satu tahun sehingga bisa mengatur kapan mulai menanam tembakau ataupun padi dan di musim kemarau tidak banyak hama ataupun jamur yang merusak tanaman mereka seperti tanaman tembakau.
Sementara itu Assairul Kabir,S.P.T.,M.Si selaku penyuluh dari BP4K sekaligus pembawa program kerjasama selama satu tahun berjalan ini mengungkapkan rasa kebanggaannya kepada para petani yang telah mampu mengaplikasikan pembelajaran yang di dapatkan, sehingga para petani cerdas secara teori dan praktik dalam mengatasi permasalahan perubahan iklim yang terjadi saat ini.
“ saya merasa bangga terhadap para petani yang telah mampu mengaplikasikan apa yang telah diajarkan. Sehingga meskipun terjadi musim kemarau berkepanjangan namun penghasilan para petani khususnya para petani tembakau mengalami peningkatan dan hal itu tidak terlepas dari tuntunan jaman yang membuat para petani harus cerdas dalam mengatasi perubahan iklim ini” jelasnya(Met)

