Cerita Keluarga Korban Ambruknya Jambatan Penghubung Muhajirin Dan Sekarteja

“Mimpi Melihat Kapal Jatuh” itulah yang dialami salah satu istri korban sebelum terjadinya peristiwa naas yang menimpa suaminyaa beberapa hari yang lalu,  Namun mimpi tersebut tak membuat pikirannya negative ia tetap berpikiran positif walaupun pada kenyataannya suaminya sudah tiada karena musibah jembatan ambruk yang juga merenggut nyawa suaminya.

Istri kedua korban jembatan ambruk yusruandi
Istri kedua korban jembatan ambruk yusruandi, Haeratul Isnaeni

Lombok Timur, CR- Ambruknya proyek jembatan penghubung antara Kampung Muhajirin Kelurahan Pancor dengan Kelurahan Sekarteja menghilangkan kurang lebih sekitar enam nyawa dan lima luka berat dan ringan, wartawan corong rakyat pun mencoba menelusuri keluarga korban meninggal, salah satunya Yusruandi yang lahir di Sekarteja pada tanggal (01-07-1975 ) adalah salah satu korban dari ambruknya jembatan maut tersebut.

Berdasarkan pengakuan isteri kedua almarhum Yusruandi yakni Haeratul Isnaini (23 tahun) dimana Yusruandi mempunyai anak dari isteri pertama dua orang yakni Dayus Iswandi Ramadani yang sekarang kelas tiga SMP dan Genraya Ramadhan kelas enam Sekolah Dasar sedangkan dari Isteri kedua Haeratul Isnaini (23 Tahun) mendapatkan satu anak bernama Gandi Erlang yang sekarang berumur dua tahun empat bulan.

Sehari Sebelum ambruknya jembatan yang menghilangkan nyawa Yusriandi selaku tulang punggung keluarga tersebut,  Haeratul Isnaini bermimpi melihat pesawat jatuh, namun dia tetap berpikir positif dan tidak pernah terfikir bahwa mimpi itu bagaikan tanda bahwa suami tercintanya mau di panggil oleh sang pencipta

“Sebelum kejadian, saya mimpi kalau ada kapal yang jatuh, tapi saya selalu berfikir positif,” ungkapnya

Haeratul Isnaini juga menceritakan bahwa almarhum suaminya tersebut merupakan laki- laki yang sangat bertanggung jawab dan beberapa hari yang lalu almarhum berjanji akan selalu taat dalam menjalankan ibadah puasa dan sholat, untuk menafkahi keluarganya Yusruandi sehari-hari sebagai buruh bangunan dan selain itu tidak ada yang dikerjakan.

Sementara itu di tempat terpisah Jumhuriah ibu tiri Dahi Mulhuri asal Sekarteja salah satu korban mengungkapkan bahwa sebelum kejadian dia pernah melarang Dahi Mulhuri untuk ikut ngecor tapi Dahi Mulhuri mengatakan bahwa  agar ada dipakai bayar fitrah dan baju lebaran buat anak- anaknya.

“Kami sudah ingatkan agar dia tidak ikut, karna ini bulan puasa takutnya dia capek, tapi almarhum Dahi Mulhuri bilang biar ada di pake untuk membayar zakat dan baju lebaran untuk anak- anak dan keluarga lainya,” ungkap Jumhuriah ketika di temui oleh Corong Rakyat di rumah duka pada hari Kamis (16/06/2016).

Meninggalnya Dahi Mulhuri anak kedua dari empat bersaudara tersebut meninggalkan anak satu yang bernama Muhammad Janwar Apandi yang sekarang berumur empat tahun dan isterinya bernama Halimatussa’ Diah.

Pada malam itu juga salah satu korban yang bernama Yasiruddin dengan alamat Sekarteja lagi berkumpul di rumah almarhum Mulhuri dan saat itu Yasiruddin menulis namanya dan nama pacarnya di tanganya sendiri, saat itu  Jumhuriah menegur almarhum Yasiruddin agar tidak menulis tanganya tapi almarhum bilang bahwa ini sebagai tanda pengenal kalau dia terik tumpah( kena musibah,red)

“Almarhum Yasiruddin juga pada malam sebelum kejadian dia berada di rumah ini sambil menulis namanya dan nama pacarnya di tanganya sendiri, pas saya tegur dia jawab kalau itu sebagai tanda pengenal jika suatu saat terkena musibah,”ungkap Jumhuriah meneritakan pengalaman para korban sebelum kejadian (Met)