Bencana Sumatera Alarm untuk NTB

 

Opini || Bencana yang terjadi di Pulau Sumatera baru-baru ini menambah panjang daftar peristiwa yang menumbuhkan kerugian besar dan menewaskan banyak orang. Peristiwa ini mengakibatkan kehancuran yang sangat masif, ratusan manusia kehilangan nyawa, ratusan orang menjerit, menangis, ketakutan, mengerang kesakitan, ratusan orang terguncang psikoliginya, kegiatan ekonomi lumpuh, dan infrastruktur hancur porak poranda.

Sebagai masyarakat Indonesia yang sejatinya memiliki kultur yang selalu memuliakan nilai-nilai kemanusian, mempunyai kecintaan yang mendalam terhadap persaudaraan, dan senantiasa menjalin cinta dan kasih sayang terhadap sesama, tentunya kita empati dan turut merasakan kesedihan yang mendalam.

Beberapa pihak mengemukakan bahwa faktor cuaca adalah penyebab utama terjadinya bencana banjir bandang dan tanah longsor di Pulau Sumatera tepatnya di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Curah hujan yang begitu ekstrem yang turun secara terus-menerus dalam beberapa waktu, adanya fenomena atmosfer dalam hal ini Siklon Tropis Senyar yang mempengaruhi meningkatnya intensitas hujan sebagai penyabab utama terjadinya tragedi ini. Hal ini mempertegas bahwa bencana ini merupakan peristiwa alamiah yang terjadi di luar kuasa manusia.

Namun dalam pandangan penulis, bencana yang terjadi merupakan pesan dari bumi, bumi menyampaikan berita tentang apa yang diperbuat manusia di atasnya. Dilansir dari beberapa media, kerusakan ekologis yang terjadi di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat memperburuk dan memperparah situasi dan kondisi. Curah hujan ekstrem tidak serta-merta menimbulkan bencana sedahsyat ini. Fakta menunjukkan, cuaca ekstrem menjadi jauh lebih berbahaya ketika bertemu dengan alam yang telah rusak. Alam tidak berubah secara tiba-tiba, kerusakan terjadi perlahan, lalu bencana datang mendadak.

Deforestasi,illegal logging, alih fungsi lahan, adanya praktik-praktik penyimpangan yang mengakibatkan rusaknya alam, nyata dan benar terjadi di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Tragedi yang melanda ketiga daerah itu seolah membenarkan informasi tersebut.

Persis di sinilah NTB harus bercermin.

Rangkaian bencana di Pulau Sumatera ini harus menjadi alarm atau sinyal dini bagi Nusa Tenggara Barat (NTB).  Kawasan NTB saat ini terus menghadapi tekanan alih fungsi lahan, tambang ilegal dan illegal logging, serta eksploitasi sumber daya alam yang belum sepenuhnya memperhatikan keseimbangan ekosistem.

Selain itu dilansir dari kompas.com perluasan lahan jagung secara masif di Pulau Sumbawa adalah biang keladi rusaknya hutan. Kegiatan pembukaan lahan ini berlangsung dari daerah pinggir laut sampai ke perbukitan karst dan lereng curam, hal ini menyebabkan hilangnya vegetasi alami yang berperan menahan tanah dan air. Hutan yang rusak di Pulau Sumbawa membuat erosi lahan serta memicu berbagai macam bencana alam.

Selanjutnya derasnya alih fungsi lahan di Pulau Lombok harus mendapatkan perhatian lebih, laju alih fungsi lahan pertanain atau lahan produktif menjadi perumahan harus di tekan. Sebab laju pembangunan yang tidak terkendali berpotensi bisa mengikis area terbuka hijau, zona resapan air, dan daerah lindung  yang sejatinya menjadi benteng ekologi. Perubahan sawah serta lahan basah menjadi area pemukimam yang tidak berbasis pada kajian akademis dan berdasarkan daya dukung lingkungan akan meningkatkan ancaman banjir, tanah longsor serta kekeringan musiman.

Di Kabupaten Lombok Tengah, tepatnya di kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika potensi bencana ekologis juga mengancam, seiring pesatnya pembangunan infrastruktur pariwisata yang tidak selalu diimbangi dengan perlindungan lingkungan yang memadai. Maraknya pembangunan homestay dan villa di area perbukitan berpotensi menjadi pupuk bagi tumbuh suburnya bencana. Pembukaan lahan besar-besarsan dan secara ugal-ugalan khususnya di area perbukitan meningkatkan ancaman banjir lokal serta longsor di wilayah sekitarnya.

Jika pola pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan terus berlanjut, NTB berpotensi menunggu “giliran” menjadi berita bencana nasional.

Pembelajaran dari Sumatera mengantar kita pada satu kenyataan pasti. Bencana itu bukan semata perkara cuaca ekstrem, melainkan persoalan hubungan manusia-lingkungan. Bencana bukan semata dampak cuaca ekstrem, melainkan hasil dari kebijakan tata ruang. Bukan hanya musibah, tetapi merupakan konsekuensi dari pilihan sosial dan politik yang tidak mempedulikan lingkungan alam.

Bagaimana jika gambaran tentang kiamat yang selama ini kita anggap berada di luar kendali manusia ternyata tidak sepenuhnya benar?. Bagaimana jika, tanpa kita sadari, manusialah yang sedang membangun kiamat itu perlahan-lahan untuk dirinya sendiri?. Kiamat itu diciptakan bukan melalui ledakan kosmis, melainkan melalui pembangunan yang ugal-ugalan, penggundulan hutan, perusakan laut, dan pengabaian terhadap keseimbangan alam. Ketika alam rusak, bencana menjadi langganan. Banjir, longsor, kekeringan, dan krisis pangan bukan lagi sekadar musibah, melainkan alarm keras atas kesalahan yang terus diulang.

Kesadaran tentang merawat dan menjaga alam harus kita tumbuhkan, bila kesadaran itu telah tumbuh, kita harus senantiasa mengkerangkeng kesadaran itu dalam jiwa dan pikiran. Narasi usang dan kolot ( mengejar investasi, melupakan lingkungan, pertumbuhan ekonomi diprioritaskan, lingkungan menyusul kemudian) harus menjadi musuh bersama yang dienyahkan.

Penulis: Muhammad Yazid Khofi