Akademisi UMY Teliti Desa Wisata Berkelanjutan di NTB, Dorong Penguatan Ekonomi dan Kearifan Lokal

Mataram — Akademisi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sakir Ridho Wijaya, tengah melakukan penelitian lapangan di sejumlah desa wisata di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Riset ini berfokus pada pengembangan model desa wisata berkelanjutan yang mampu mendukung pengembangan kebijakan dan praktik tata kelola pariwisata yang lebih partisipatif dan berkelanjutan.

Dalam keterangannya kepada Corong Rakyat, Sakir Ridho menjelaskan bahwa NTB memiliki potensi wisata berbasis alam dan budaya yang sangat kuat, namun belum sepenuhnya dikelola dengan prinsip keberlanjutan.

“Kami ingin menggali pandangan, pengalaman, serta praktik kolaborasi dalam pengelolaan pariwisata berkelanjutan.” ujarnya, (14/11/2025).

Penelitian tersebut melibatkan observasi wawancara langsung dan menyebar kusioner di beberapa lokasi, seperti Desa Wisata Aik Berik dan Bonjeruk  (Lombok Tengah), Desa Wisata Tetebatu  (Lombok Timur), Desa Wisata Sedau (Lombok Barat), Desa Wisata Senaru dan Desa Wisata Genggelang (Lombok Utara).  Beberapa wilayah ini dikenal sebagai destinasi unggulan dengan kekayaan alam dan tradisi lokal yang masih kuat.

Menurut Sakir Ridho, kesadaran dan partisipasi masyarakat menjadi faktor kunci keberhasilan desa wisata. Namun, dukungan regulasi dan pendampingan pemerintah daerah serta kerjasama dengan pihak eksternal dinilai masih perlu diperkuat.

“Aktor formal dan informal dalam pengelolaan desa wisata harus tau peran dan tanggung jawabnya. Harus ada koordinasi yang efektif antaraktor, hubungan kerja harus berjalan harmonis dan produktif serta kepentingan antaraktor dapat disinergikan untuk tujuan bersama. Tanpa itu, desa wisata sulit berkembang secara mandiri dan berkelanjutan,” tambahnya.

Penelitian yang dilakukan Sakir Ridho ini dijadwalkan berlangsung hingga awal tahun 2026 dan diharapkan menghasilkan model konseptual pengelolaan desa wisata berkelanjutan berbasis partisipasi masyarakat lokal.

Corong Rakyat mencatat, dalam beberapa tahun terakhir, Nusa Tenggara Barat (NTB) terus berusaha untuk memperkuat sektor pariwisata yang berbasis desa. Namun, berbagai hambatan masih muncul, mulai dari kapasitas sumber daya manusia hingga pengelolaan limbah sampah hasil wisata. Penelitian seperti yang dilakukan akademisi UMY ini diharapkan mampu memberi solusi serta dapat membuka jalan menuju tata kelola wisata yang lebih adil, berkelanjutan, dan berdaya saing.