Lombok Timur – Pelantikan Ketua DPP HKTI NTB dinilai luar biasa oleh Moeldoko Karena pelantikan tersebut dihadiri langsung oleh Dirjen dan Irjen Kementerian Pertanian.
“Pelantikan Ketua DPP HKTI NTB kali ini sangat luar biasa karena dihadiri oleh Dirjen dan Irjen Pertanian” ucapnya
Moeldoko merasa bangga memiliki Ketua HKTI yang luar biasa karena memiliki semangat dalam memajukan HKTI untuk masyarakat petani, sembari mengucapkan selamat bertugas bagi Ketua HKTI dan jajarannya yang baru dilantik.”Selamat dan sukses” ucapnya kembali

Dalam pidatonya Moeldoko menyampaikan, saya ingin memberikan tantangan kedepan yang harus dan akan kita hadapi, yang pertama pertumbuhan populasi dunia itu 1,7 milyar didalam 10 Tahun, “jadi dalam 10 tahun penduduk dunia itu akan bertambah 1,7 milyar dan mereka perlu makan, yang lainnya boleh diwakili tapi makan tidak bisa diwakili. Berikutnya dalam negeri, Luas lahan baku indonesia dari tahun ketahun mengalami penyusutan kurang lebih seratus duapuluh ribu hektar disebapkan pertumbuhan penduduk, perkembangan investasi dan lain-lain, ditambah lagi dunia pertanian tidak pernah sepi dari ganguan hama yang diakibatkan oleh berbagai faktor lingkungan akibat ulah manusia dan itu tantangan kita kedepan”
Adapun masalah yang dihadapi oleh para petani yang pertama, lahan sempit, rata-rata nasional hanya 0,2 sampai dengan 0,3 hektar
“Sudah sempit tanahnya banyak bermasalah menjadi tidak subur yang diakibatkan oleh penggunaan pestisida dan pupuk yang berlebihan, untuk itu Ketua HKTI NTB hati-hati nanti, karena rata-rata masyarakat penanam bawang putih itu ada di hulu, kalau kemudian mereka menggunakan pupuk dan pestisida secara berlebihan begitu kena hujan maka airnya nanti akan mencemari masyarakat kita yang ada di hilir persoalan ini semoga menjadi perhatian” mbuhnya.
Selanjutnya persoalan permodalan, pemerintah sudah memberikan beberapa kemudahan dalam bentuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), ini sesungguhnya jumlahnya masihbsangat besar tetapi belum bisa diambil seoptimal mungkin oleh para petani.
“untuk itu melalui HKTI kita akan bisa membantu para petani sehingga nanti persoalan permodalan tersebut bisa menjadi ringan”
Persoalan selanjutnya, tehnologi, petani kita tidak terbiasa bekerja dengan pendekatan tehnologi dengan lahan baku yang makin menyusut “tehnologi harus menjadi jawaban, mohon maaf kita tidak bisa lagi bekerja secara tradisional didalam mengelola pertanian kita ini, karena lahan kita makin menyusut maka yang harus kita lakukan intensifikasi bagaimana cara melipat gandakan hasil itu, jadi tolong persoalan tehnologi di adakan riset dan seterusnya, kita harus pandai mengadopsi dan bekerjasama dengan berbagai kalangan termasuk perguruan tinggi yang bisa kita ajak bekerjasama untuk pengembangan tehnologi”
Selain itu, persoalan manajerial, manajemen pertanian kita tidak terbiasa meminit pertanian, tenaga kerjanya tidak pernah dihitung sehingga banyak petani yang tidak mengetahui harga produksi “petani itu rugi atau untuk kebanyakan tidak tau, untuk itu hal-hal seperti ini supaya mulai dilatih sehingga petani itu mengerti dalam setiap penanaman mengetahui perkembangan demibperkembangan”
Terakhir adalah peraoalan pasca panen, itu juga merupakan tugas HKTI nantinya, bagaimana bisa mengkomunikasikan antara para petani dengan market, dengan pasar, petani harus lebih dibudidayakan karena mereka tidak terbiasa berhubungan dengan pasar.
“melalui HKTI harus bisa memberikan jalan keluar agar harga tidak menjadi permainan oleh para tengkulak dan pengijon, disinilah peran HKTI sehingga saya selalu menekankan ada dua hal yang harus dipegang oleh HKTI hadir sebagai solusi jangan justru membebani petani, jika petani hadir ditengah-tengah HKTI maka HKTI harus bersungguh-sungguh bisa menjadi solusi, selanjutnya HKTI juga harus bisa memposisikan diri sebagai institusi menjembatani antara dunia riset dan develovmen, interprice dengan pengusaha, dengan pemerintah, sehingga kalau ada kebijakan-kebijakan yang kurang berpihak kepada petani HKTI harus teriak itu yang saya inginkan” singkatnya. (Rif)


