
Lombok Timur, CR- Penderita Kanker Payudara di Lombok Timur sudah mencapai zona merah, dilihat dari data yang terhimpun sejak bulan Juni 2016 persentasi perempuan yang terserang kanker payudara dibeberapa wilayah Lombok Timur semakin meningkat di beberapa Desa dan Kelurahan diantaranya, Desa Labuhan Haji,Teros,Tanjung, Selong, Pancor, Sandubaya, Sekarteja dan Kembang Kerang, ungkap Nur Janah selaku Koordinator Program Bakti-Mampu (Maju Prempuan Indonesia Untuk Penanggulangan Kemiskinan) merupakan satu dari Lembaga Pegiat Sosial yang mengabdikan dirinya bersama kader binaannya dalam berbagai kegiatan sosial bersama kader-kader yang didominasi oleh kaum hawa tersebut.
Saat diwawancarai wartawan Corong Rakyat dalam diskusi media di Selong (1/8/2016) dan beberapa awak media dalam Diskusi Issu MAMPU terkait dengan meningkatnya para penderita Kanker Payudara yang merupakan penyakit berbahaya dan mematikan bagi kaum hawa yang tidak melihat batasan umur, butuh penanganan dan perhatian serius khususnya Pemda Lombok Timur dan Dinas Kesehatan.
Menurutnya yang terpenting adalah bagaimana mengenal kanker payudara dan cara mengatasi dan serta pendekatan secara personal terhadap penderitanya, pada umumnya mereka yang terserang Kanker Payudara satu diantaranya adalah gen (keturunan) dan pola hidup yang tidak sehat.
Sedangkan paradigma yang berkembang bahwa Kanker payudara tidak tergolong penyakit yang menular dan sangat mematikan yang sangat perlu antisipasi lebih awal dalam penanganannya. khususnya masyarakat miskin menggunakan pengobatan alternatif dikarenakan biaya pengobatan kanker yang sangat mahal serta minimnya sosialisasi dari pihak terkait akan bahaya kanker payudara. Karena, bukan tidak mungkin penderita yang dinyatakan sembuh akan bisa terjangkit kembali. Untuk itulah ahli medis menyarankan untuk melakukan pola hidup sehat.
Dalam kesempatan yang sama saat sesi diskusi tanya jawab Bakti-Mampu juga menghadirkan Kadernya yang selamat dari kanker payudara stadium 4 sejak tahun 2010, yaitu masiah (33tahun) asal Pancor Lauk Mesjid yang memaparkan betapa kanker payudara yang diderita sejak 6 tahun silam yang hampir merenggut nyawa, lebih-lebih situasi ekonominya yang tergolong pas-pasan butuh perjuangan panjang dan bantuan para dermawan untuk biaya pengobatan dari kemoterafi hingga operasi di RSU Sanglah Denpasar Bali yang membutuhkan biaya puluhan juta meski dia menggunakan BPJS miskin.
”Kalau tidak ada uluran tangan dari para dermawan untuk biaya pengobatan yang begitu mahal karena kanker payudara yang saya derita mungkin saya sudah meninggal dunia” tutur Masiah pada peserta diskusi.
Menyikapi hal tersebut lembaga Bakti-Mampu NTB berharap kepada Pemda Lotim khususnya para Stage Holder dan pemangku kebijakan pada instansi terkait dan semua elemen masyarakat untuk bersama mencarikan solusi bagi Penderita kanker payudara dan berharap pada Pemda Lotim untuk menjadikan Skala Prioritas dalam Pengentasan penyakit yang sangat mematikan tersebut. (Jhon)

