Dompu, corongrakyat.co.id – Penelitian kepurbakalaan di Situs Dorobata bersama tim Balai Arkeologi Denpasar bertempat di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Dompu, Rabu (02/03/2016). Dimana dalam acara ini diikuti oleh Kepala Dinas Pariwisata beserta Jajarannya, polsek kota, Danramil dan budayawan Dompu.
Dorobata merupakan salah satu situs di Kabupaten Dompu, yang menyisakan banyak misteri. Jika dilihat kondisinya sekarang hanya terlihat bukit gundul, sulit dibayangkan kalau dahulunya pernah berdiri bangunan megah yang terdiri atas berbagai lapisan budaya.

“ Berdasarkan hasil penelitian dari tahun 1989, 1991, 1994, 1997, 2006, 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, 2013, 2014 terhitung telah dilaksanakan 12 tahap penelitian di situs ini. Dari tahapan ini telah berhasil direkonstruksi dinding bangunan di situs ini yang berupa teras berundak sebanyak enam undakan, dengan tangga berada di sebelah barat. Bangunan ini diduga merupakan bangunan pemujaan warisan tradisi prasejarah dan telah ada sebelum Dompu mendapatkan pengaruh Hindu-Buddha,” jelas I Nyoman Rema.
Ketika masuknya pengaruh Hindu, sebagai pengaruh dari Kerajaan Majapahit mulai pada tahun 1357 di Pulau Sumbawa menyebabkan terdapatnya bangunan yang bersifat Hindu-Buddha. Dorobata salah satunya, awalnya adalah bangunan prasejarah kemudian dimanfaatkan menjadi bangunan pemujaan untuk para dewa.
“ Hal ini didasarkan atas bukti berupa batu bata berukuran besar berbingkai sisi genta, ada pula yang salah satu sisinya berbentuk setengah lingkaran dan bata berhias garis yang semuanya itu lazim terdapat pada bangunan candi yang memiliki hiasan relief. Masyarakat setempat menyebut istilah bata tersebut dengan sebutan prasada, yang jika dibandingkan istilah tersebut dalam bahasa Bali dan Jawa mengacu kepada bangunan pemujaan berupa candi yang terbuat dari bata. Temuan lain yang memperkuat adalah temuan fragmen pedupaan, kendi, kereweng, keramik, uang kepeng yang cenderung digunakan sebagai sarana upacara,” tambah I Nyomaan Rema.
Temuan yang sangat menarik di puncak bukit Dorobata adalah temuan nisan polos dan berhias yang dikelilingi oleh struktur bata persegi empat panjang yang diduga jirat kubur, merupakan bukti pemakaman masa Islam.
“ Hal ini diketahui berdasarkan hasil rekonstruksi dan perbandingan dengan temuan sejenis di wilayah lain Pulau Sumbawa. Masuknya Islam ke wilayah ini menimbulkan perubahan mendasar pada masyarakat pendukung Dorobata. Pergeseran tersebut dapat dilihat dari alih fungsi Dorobata yang dulunya merupakan tempat pemujaan menjadi makam, meskipun demikian data arkeologi menunjukan bahwa situs ini tidak sepenuhnya dijadikan makam. Berdasarkan kesimpulan di atas penelitian Situs Dorobata dilanjutkan ditahun 2015 dan sampai saat ini yang merupakan tahap ke XIII,”tutur I Nyoman.
Hasil ekskavasi tahap XIII tahun 2015 sampai saat ini berupa struktur batu kali berbentuk persegi panjang berukuran 1,5 x 2,5, pada awalnya diduga sebuah jirat makam, akan tetapi setelah dilakukan penelusuran dengan memperdalam spit pada kotak tersebut, ternyata tidak ditemukan indikasi penguburan. Struktur batu kali berbentuk persegi panjang ini diduga sebagai penguat struktur permukaan, bangunan di atasnya dan dinding selatan Bukit Dorobata. Hal ini berdasarkan atas temuan tanah isian yang berupa tanah lempung yang bercampur pecahan batu bata dan batu kali yang sangat padat, serta teknik pemasangan batu bata yang tidak berada tepat di atas struktur batu kali. Berdasarkan temuan tersebut batu kali dipasang terlebih dahulu sebagai penguat, setelah itu baru dilakukan pemasangan batu bata. Temuan serta berupa fragmen tembikar dan keramik, memunculkan asumsi bahwa di tempat ini pernah terjadi aktivitas manusia, baik bersifat sakral maupun profan.
Khusus untuk temuan keramik juga membuktikan bahwa manusia pendukung budaya Dorobata sudah melakukan kontak dengan pedagang dari luar.
” Aspek kesejarahan Dorobata, berdasarkan hasil wawancara dengan tiga budayawan Dompu yakni H. Nurdin Umar, Haji Hasan Amin, dan Mohammad Chaidir, bahwa Dorobata diduga sebagai pusat kekuasaan atau pemerintahan Dompu pada akhir masa Hindu dan awal masa Islam. Kebenaran akan dugaan ini perlu ditunjang dengan penelitian lanjutan melalui penelusuran dokumen-dokumen yang relevan,”tandasnya. (BC)

