Oleh: Bang Wan
OpiniAda ungkapan yang sesekali terlontar dari masyarakat Sasak ketika mereka berada di titik lelah menghadapi kerasnya kehidupan: Pndaq Jlng. Sebuah ungkapan lokal yang, dalam konteks ini, dapat dimaknai sebagai jeritan batin seseorang yang sudah terlalu lama bergulat dengan kesulitan dan ingin segera keluar dari keadaan yang menyesakkan.
Namun, di balik ungkapan tersebut, tersimpan dua sisi kehidupan manusia. Di satu sisi, ada kelelahan akibat kemiskinan, terbatasnya kesempatan, dan panjangnya perjuangan memenuhi kebutuhan hidup. Di sisi lain, ada harapan bahwa kesulitan bukanlah keadaan yang harus diwariskan selamanya. Selalu ada kemungkinan perubahan, baik melalui ikhtiar manusia, dukungan lingkungan sosial, kebijakan negara, maupun pertolongan Tuhan.
Dalam perspektif sosiologi, Pndaq Jlng dapat dibaca sebagai metafora tentang keinginan memutus rantai kesulitan hidup. Ia bukan semata-mata ekspresi keputusasaan, melainkan juga dapat menjadi energi sosial untuk mencari jalan keluar. Tentu, pemaknaan ini merupakan pembacaan kontekstual atas ungkapan tersebut, bukan klaim bahwa seluruh masyarakat Sasak menggunakan atau memaknainya dengan cara yang sama.
Semangat itulah yang relevan untuk membaca penyelenggaraan MotoGP Indonesia 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok Tengah, pada 9–11 Oktober 2026. Pertanyaannya bukan sekadar seberapa meriah balapan berlangsung, berapa banyak penonton yang datang, atau seberapa besar perhatian dunia tertuju kepada Mandalika.
Pertanyaan yang lebih mendasar ialah: sejauh mana momentum MotoGP mampu membantu masyarakat NTB keluar dari kesulitan ekonomi dan membangun kehidupan yang lebih sejahtera?
MotoGP: Lebih dari Sekadar Perlombaan
Penyelenggaraan MotoGP di Mandalika merupakan bagian dari strategi menjadikan NTB sebagai destinasi pariwisata internasional. Kehadiran pembalap, tim, penonton, pelaku industri, dan wisatawan membuka peluang perputaran uang melalui sektor perhotelan, transportasi, kuliner, perdagangan, jasa, serta ekonomi kreatif.
Dalam teori ekonomi pembangunan, kegiatan semacam ini dapat dipahami melalui konsep multiplier effect atau efek pengganda. Pengeluaran wisatawan tidak berhenti pada tiket, hotel, dan biaya penyelenggaraan. Uang tersebut berpotensi mengalir ke sopir, pedagang makanan, pengusaha penginapan, perajin cendera mata, petani pemasok bahan pangan, pekerja harian, dan berbagai pelaku usaha lainnya.
Ketika wisatawan membeli makanan dari pedagang lokal, misalnya, pendapatan yang diterima pedagang dapat digunakan untuk membeli bahan baku dari petani atau pemasok setempat. Pemasok kemudian membayar pekerja dan memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Rangkaian transaksi ini menciptakan perputaran ekonomi yang lebih luas.
Akan tetapi, efek pengganda tersebut tidak terjadi secara otomatis. Besarnya manfaat bagi masyarakat sangat bergantung pada seberapa besar kebutuhan penyelenggaraan dan wisatawan dipenuhi oleh pelaku usaha lokal, seberapa banyak tenaga kerja setempat terserap, serta seberapa besar pendapatan yang benar-benar tinggal di daerah.
Apabila sebagian besar kebutuhan dipasok dari luar daerah, sementara masyarakat lokal hanya memperoleh pekerjaan berupah rendah dan bersifat sementara, manfaat ekonomi yang diterima warga dapat jauh lebih kecil daripada besarnya aktivitas ekonomi yang terlihat.
Karena itu, keberhasilan MotoGP tidak cukup diukur dari kemegahan sirkuit atau jumlah penonton. Ukuran yang lebih substantif ialah seberapa jauh kegiatan tersebut memperluas kesempatan kerja, menaikkan pendapatan masyarakat, memperkuat usaha lokal, dan mengurangi kerentanan rumah tangga miskin.
Membaca Semangat Gubernur Iqbal
Di bawah kepemimpinan Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhamad Iqbal, penyelenggaraan MotoGP relevan ditempatkan dalam agenda pembangunan daerah yang berorientasi pada peningkatan aktivitas ekonomi dan penguatan daya tarik investasi.
Event internasional dapat menjadi instrumen promosi daerah, membuka ruang kolaborasi pemerintah dan swasta, serta memperluas pasar bagi produk lokal. Dari sisi fiskal, aktivitas ekonomi yang meningkat juga berpotensi memperbesar penerimaan negara dan daerah melalui berbagai sumber penerimaan yang sah.
Namun, ada satu pembedaan penting yang perlu dijaga: potensi pendapatan tidak sama dengan pendapatan yang telah terealisasi, dan besarnya perputaran uang tidak sama dengan besarnya penerimaan pemerintah.
Uang yang dibelanjakan wisatawan merupakan aktivitas ekonomi. Penerimaan pajak dan retribusi merupakan bagian tertentu dari aktivitas tersebut sesuai ketentuan yang berlaku. Sementara itu, manfaat bersih bagi pemerintah harus memperhitungkan pula biaya dukungan infrastruktur, pelayanan publik, keamanan, transportasi, dan kebutuhan penyelenggaraan lainnya.
Demikian pula, keuntungan ekonomi daerah tidak boleh semata-mata disimpulkan dari ramainya kawasan Mandalika. Pemerintah perlu memperlihatkan data yang dapat diuji: berapa penerimaan yang benar-benar masuk ke kas negara dan daerah, berapa tenaga kerja lokal yang terserap, berapa nilai transaksi UMKM, berapa lama kesempatan kerja bertahan, serta bagaimana dampaknya terhadap kesejahteraan warga di sekitar kawasan.
Dengan demikian, semangat menghadirkan event internasional akan lebih bermakna apabila disertai tata kelola yang transparan dan evaluasi yang terukur. Popularitas Mandalika harus diterjemahkan menjadi manfaat publik yang nyata.
UMKM: Jalan dari Keramaian Menuju Kemandirian
Salah satu aspek yang patut mendapat perhatian dalam penyelenggaraan MotoGP 2026 adalah keterlibatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kehadiran ratusan pelaku usaha dalam ekosistem kegiatan ini membuka peluang bagi masyarakat untuk menjual makanan, minuman, kerajinan, pakaian, serta berbagai produk khas NTB.
Bagi pedagang kecil, kesempatan bertemu langsung dengan konsumen dari berbagai daerah dan negara merupakan pengalaman ekonomi yang berharga. Mereka tidak hanya memperoleh kemungkinan peningkatan omzet, tetapi juga kesempatan memahami selera pasar, meningkatkan kualitas pelayanan, memperbaiki kemasan, dan membangun jaringan pelanggan.
Akan tetapi, kita perlu membedakan antara omzet sesaat dan pertumbuhan usaha yang berkelanjutan. Pedagang yang memperoleh pendapatan tinggi selama tiga hari balapan belum tentu mengalami peningkatan kesejahteraan jangka panjang. Setelah wisatawan pulang dan kegiatan berakhir, mereka tetap harus menghadapi persoalan modal, akses pasar, biaya produksi, persaingan, dan kesinambungan permintaan.
Karena itu, pemberdayaan UMKM tidak seharusnya berhenti pada pemberian lapak selama event berlangsung. Pemerintah daerah perlu mendorong pembinaan usaha, sertifikasi produk sesuai kebutuhan, akses pembiayaan yang sehat, pemasaran digital, pencatatan keuangan, serta kemitraan dengan hotel, restoran, biro perjalanan, dan pusat oleh-oleh.
Produk yang diperkenalkan ketika MotoGP berlangsung seharusnya dapat terus dipasarkan setelah balapan selesai. Dengan cara itu, event internasional tidak hanya menciptakan pasar sementara, tetapi menjadi pintu masuk bagi UMKM untuk memasuki rantai pasok pariwisata secara lebih permanen.
Di sinilah semangat Pndaq Jlng memperoleh bentuk yang konkret. Keinginan keluar dari kesulitan tidak cukup dijawab dengan keramaian sesaat. Ia membutuhkan jalan ekonomi yang memungkinkan keluarga memperoleh penghasilan lebih stabil, mengembangkan usaha, membiayai pendidikan anak, dan menghadapi guncangan ekonomi tanpa mudah jatuh kembali ke dalam kemiskinan.
Nenek Penjual Suvenir dan Anak Sekolah: Pelajaran tentang Modal Manusia
Ada pemandangan yang menarik dalam interaksi pariwisata: seorang nenek yang cekatan menawarkan suvenir kepada wisatawan asing, atau seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan menengah yang berani menyapa pengunjung menggunakan bahasa asing.
Pemandangan seperti ini mengandung pelajaran penting tentang pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia.
Bahasa dalam interaksi sehari-hari sering dipelajari melalui kebutuhan nyata. Pedagang ingin menjual produknya, wisatawan ingin memahami barang yang ditawarkan, dan keduanya berusaha menemukan cara untuk berkomunikasi. Dalam proses tersebut, kosakata, ungkapan sederhana, keberanian berbicara, serta pemahaman konteks sosial berkembang melalui praktik berulang.
Fenomena ini sejalan dengan gagasan pembelajaran kontekstual: pengetahuan lebih mudah digunakan ketika dipraktikkan dalam situasi yang relevan dengan kehidupan seseorang. Anak yang menyapa wisatawan atau pedagang yang menjelaskan harga suvenir sedang menghubungkan bahasa dengan tujuan yang nyata.
Sebaliknya, pembelajaran bahasa asing di sekolah terkadang dirasakan membosankan apabila terlalu berpusat pada hafalan, latihan tertulis, dan penguasaan tata bahasa tanpa cukup kesempatan berkomunikasi. Persoalannya bukan berarti sekolah tidak penting atau pembelajaran formal harus ditinggalkan. Justru pengalaman di lapangan dapat menjadi bahan untuk memperkaya pembelajaran formal.
Sekolah dapat mengembangkan simulasi pelayanan wisata, percakapan dengan penutur asing, proyek pembuatan katalog produk berbahasa Inggris, kunjungan edukatif, dan kegiatan kewirausahaan. Bahasa asing dipelajari bukan semata-mata untuk menjawab soal ujian, melainkan untuk membuka akses terhadap ilmu pengetahuan, pekerjaan, teknologi, dan pasar global.
Dalam teori modal manusia, keterampilan seperti bahasa, literasi digital, kemampuan berkomunikasi, dan pelayanan pelanggan dapat meningkatkan produktivitas seseorang. Namun, keterampilan tersebut baru memberikan manfaat optimal ketika ditopang oleh pendidikan yang baik, kesehatan, akses pekerjaan, perlindungan tenaga kerja, dan kesempatan ekonomi yang adil.
Karena itu, nenek penjual suvenir dan anak-anak yang berani berkomunikasi dengan wisatawan seharusnya tidak hanya menjadi objek kekaguman. Mereka adalah pengingat bahwa kemampuan masyarakat dapat tumbuh melalui praktik, lingkungan yang mendukung, dan kesempatan yang terbuka.
Tugas pemerintah dan lembaga pendidikan ialah mengubah kemampuan spontan tersebut menjadi kompetensi yang lebih kuat, terstruktur, dan berkelanjutan. Jangan sampai masyarakat mampu melayani wisatawan, tetapi tidak memiliki kesempatan naik kelas menjadi pengusaha yang mandiri, pekerja terampil, atau pelaku ekonomi yang memiliki daya tawar.
Keluar dari Kemiskinan: Mengukur Dampak, Bukan Sekadar Merayakan Event
Kemiskinan merupakan persoalan multidimensi. Ia tidak hanya menyangkut rendahnya pendapatan, tetapi juga keterbatasan akses terhadap pendidikan, kesehatan, pekerjaan layak, permodalan, infrastruktur, dan kesempatan berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi.
Oleh sebab itu, dampak MotoGP terhadap pengentasan kemiskinan perlu dianalisis dengan indikator yang jelas. Pemerintah daerah, penyelenggara, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian dapat menyusun evaluasi pascaevent dengan mengukur setidaknya lima aspek.
Pertama, dampak terhadap pendapatan masyarakat. Berapa perubahan pendapatan pedagang, pekerja, pengemudi, penyedia penginapan, dan pemasok lokal dibandingkan dengan periode biasa?
Kedua, kualitas kesempatan kerja. Berapa banyak tenaga kerja lokal yang terlibat, berapa lama mereka bekerja, berapa upah yang diterima, dan apakah keterampilan yang diperoleh dapat digunakan kembali setelah event berakhir?
Ketiga, kinerja UMKM. Berapa omzet dan keuntungan bersih pelaku usaha, berapa banyak usaha yang memperoleh pelanggan baru, dan berapa yang masih bertahan serta berkembang setelah kegiatan selesai?
Keempat, distribusi manfaat ekonomi. Apakah manfaat terkonsentrasi pada perusahaan besar dan pelaku usaha tertentu, atau menjangkau masyarakat desa, keluarga berpendapatan rendah, perempuan pelaku usaha, dan kelompok yang selama ini memiliki akses terbatas terhadap pasar?
Kelima, manfaat fiskal dan biaya publik. Berapa penerimaan pemerintah yang benar-benar terealisasi, berapa biaya yang dikeluarkan, dan seberapa besar manfaat bersih yang dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat?
Evaluasi semacam ini perlu menggunakan data sebelum dan sesudah event, pembanding yang relevan, serta pemisahan antara dampak langsung, tidak langsung, dan dampak yang hanya diperkirakan. Dengan metode yang memadai, pemerintah dapat mengetahui apakah kenaikan pendapatan benar-benar berkaitan dengan MotoGP atau juga dipengaruhi faktor lain.
Hasilnya harus dipublikasikan secara terbuka. Dengan demikian, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh penilaian penyelenggara, tetapi juga dapat diuji oleh masyarakat, akademisi, media, dan lembaga pengawasan.
Tanpa pengukuran tersebut, klaim bahwa MotoGP telah meningkatkan kesejahteraan atau mengurangi kemiskinan berisiko berhenti sebagai narasi promosi. Sebaliknya, evaluasi yang baik dapat menjadi dasar untuk memperbaiki kebijakan dan memastikan manfaat event semakin luas pada penyelenggaraan berikutnya.
Mandalika Harus Menjadi Tangga Mobilitas Sosial
NTB membutuhkan lebih dari sekadar kunjungan wisatawan. Daerah ini membutuhkan sistem ekonomi yang mampu mengubah kunjungan menjadi transaksi lokal, transaksi menjadi keuntungan usaha, keuntungan menjadi investasi produktif, dan investasi menjadi pekerjaan layak.
Artinya, pembangunan pariwisata perlu terhubung dengan sektor lain. Petani lokal dapat menjadi pemasok hotel dan restoran. Perajin dapat memasok produk cendera mata. Sekolah kejuruan dapat menyiapkan tenaga kerja pariwisata. Perguruan tinggi dapat membantu penelitian pasar dan inovasi produk. Pemerintah desa dapat memperkuat destinasi penyangga agar manfaat wisata tidak berhenti di kawasan sirkuit.
Di saat yang sama, pemerintah perlu memastikan masyarakat tidak hanya menjadi penonton atas pertumbuhan ekonomi di wilayahnya sendiri. Masyarakat harus mempunyai akses terhadap informasi, pelatihan, pembiayaan, kemitraan, dan ruang usaha yang adil.
Keberhasilan pembangunan semestinya terlihat dari meningkatnya kemampuan warga untuk menentukan masa depan mereka sendiri. Seorang pedagang kecil yang mampu mengembangkan usaha, seorang anak yang memperoleh pendidikan lebih baik, seorang pekerja yang memiliki keterampilan baru, dan sebuah keluarga yang tidak lagi hidup dalam kecemasan memenuhi kebutuhan pokok merupakan bagian penting dari ukuran keberhasilan pembangunan.
Dalam pengertian itu, Mandalika bukan sekadar sirkuit balap. Ia seharusnya menjadi tangga mobilitas sosial bagi masyarakat NTB: tempat peluang global bertemu dengan kemampuan lokal, tempat investasi menghasilkan pekerjaan, dan tempat promosi pariwisata membuka jalan bagi kemandirian ekonomi.
Pndaq Jlng: Dari Keluhan Menjadi Agenda Pembangunan.
Pada akhirnya, Pndaq Jlng dapat kita tempatkan sebagai metafora tentang batas kesabaran masyarakat menghadapi kesulitan hidup sekaligus keinginan untuk segera melihat perubahan.
Tetapi harapan tidak boleh hanya dibebankan kepada masyarakat. Tidak adil meminta warga terus bersabar, bekerja keras, dan beradaptasi jika akses terhadap pendidikan bermutu, pekerjaan layak, modal, dan pasar masih terbatas. Semangat untuk bangkit harus dijawab dengan kebijakan yang membuka kesempatan nyata.
MotoGP 2026 memberikan momentum bagi NTB untuk memperkenalkan diri kepada dunia. Tantangan sesungguhnya ialah memastikan bahwa perhatian dunia tersebut membawa manfaat yang bertahan lebih lama daripada deru mesin di lintasan Mandalika.
Gubernur dan pemerintah daerah memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa promosi, investasi, dan penyelenggaraan event terhubung dengan agenda pengentasan kemiskinan. Pelaku usaha perlu memperluas kemitraan dengan pemasok lokal. Sekolah harus menyiapkan generasi yang memiliki keterampilan relevan. Sementara itu, masyarakat perlu memperoleh ruang untuk berinovasi dan meningkatkan daya saingnya.
Kita tentu ingin suatu hari nanti anak-anak NTB tidak lagi memandang kemiskinan sebagai nasib yang diwariskan, dan para orang tua tidak lagi harus mengungkapkan kelelahan karena hidup yang terus menekan. Kita ingin mereka memiliki pilihan, kemampuan, dan kesempatan untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Sebab ukuran paling penting dari sebuah event internasional bukan hanya seberapa cepat motor melintasi garis finis, melainkan seberapa jauh masyarakat mampu bergerak meninggalkan kemiskinan.
MotoGP boleh selesai dalam beberapa hari. Namun, semangat pembangunan harus bekerja sepanjang tahun. Jika Mandalika mampu membuka jalan bagi pekerjaan yang layak, UMKM yang mandiri, pendidikan yang relevan, dan pendapatan yang lebih merata, maka Pndaq Jlng tidak berhenti sebagai ungkapan kelelahan. Ia menjadi seruan untuk bangkit—dari kesulitan menuju kemandirian, dari keterbatasan menuju kesempatan, dan dari kemiskinan menuju kesejahteraan.

