Mataram, NTB – Sejumlah massa yang bergabung dalam Barisan Aspirasi Rakyat Nusantara (BARA NTB) menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi NTB, Kota Mataram. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk keprihatinan terhadap maraknya dugaan kasus kekerasan seksual, pelecehan seksual, dan tindakan asusila yang terjadi di sejumlah lembaga pendidikan keagamaan di Nusa Tenggara Barat.
Dalam aksi yang berlangsung secara terbuka tersebut, Pandi Ahmad selaku Kordum mengatakan, massa membawa berbagai tuntutan dan melakukan orasi secara bergantian. Sejumlah peserta aksi membakar ban bekas sebagai simbol perlawanan terhadap lemahnya pengawasan dan penegakan hukum terhadap kasus-kasus yang menimpa korban di lingkungan pendidikan keagamaan.
Kedua Koordinator aksi Ramskey dan Dika dari BARA NTB menyampaikan bahwa lembaganya menilai masih banyak persoalan serius yang harus menjadi perhatian pemerintah, khususnya Kementerian Agama sebagai institusi yang memiliki fungsi pembinaan dan pengawasan terhadap lembaga pendidikan keagamaan.
“Kami hadir untuk menyuarakan keadilan bagi para korban. Tidak boleh ada ruang aman bagi pelaku kekerasan seksual, siapapun mereka dan dari lembaga manapun mereka berasal. Negara harus hadir dan memberikan perlindungan kepada korban,” tegas salah satu orator dalam aksi tersebut.
Soroti Maraknya Kasus Kekerasan Seksual
BARA NTB menilai berbagai kasus kekerasan seksual yang mencuat dalam beberapa tahun terakhir telah mencederai kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi tempat pembentukan moral dan karakter generasi muda. Mereka meminta seluruh laporan dan pengaduan masyarakat terkait dugaan pelecehan seksual di lingkungan pendidikan keagamaan ditindaklanjuti secara transparan dan tanpa tebang pilih.
Massa aksi juga menegaskan bahwa perlindungan terhadap korban harus menjadi prioritas utama, termasuk pendampingan hukum, psikologis, dan jaminan keamanan bagi para korban yang berani melapor.
Tuntutan BARA NTB
Dalam pernyataan sikapnya, BARA NTB menyampaikan sejumlah tuntutan, antara lain:
1. Mendesak Kanwil Kemenag NTB melakukan audit menyeluruh terhadap sistem pengawasan lembaga pendidikan keagamaan di NTB.
2. Mendesak pengusutan tuntas seluruh dugaan kasus kekerasan seksual dan tindakan asusila yang terjadi di lingkungan pendidikan keagamaan.
3. Menuntut transparansi penanganan setiap laporan yang masuk ke Kementerian Agama.
4. Meminta pembentukan satuan tugas khusus pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan pendidikan keagamaan.
5. Mendesak pemberian sanksi tegas terhadap pihak yang terbukti melakukan pelanggaran atau menutupi kasus.
6. Menuntut perlindungan maksimal bagi korban dan saksi.
7. Meminta evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan internal Kementerian Agama di NTB.
8. Mendesak pemerintah memperkuat mekanisme pengaduan yang mudah diakses oleh masyarakat.

