Nusa Tenggara Barat dan Bayang-Bayang Kesejahteraan Semu

Opini || Di tengah berbagai informasi mengenai perbaikan kesejahteraan di NTB, kita sering menemukan narasi bahwa jumlah penduduk miskin menurun. Tapi di waktu yang bersamaan, dalam aktivitas keseharian di lapangan, realita yang ada menunjukkan bahwa semakin banyak warga malah berkeluh kesah tentang sulitnya mendapatkan pekerjaan yang layak.

Kita bisa melihat adanya jarak antara laporan dan realitas. Sekalipun belum menukik pada angka (data), isyarat yang timbul dari percakapan masyarakat, dan realita lapangan memberitahu satu hal yaitu ada kegelisahan sosial yang nyata terkait ketersediaan lapangan kerja.

Fenomena ini melahirkan pertanyaan di benak kita, mungkinkah kemiskinan menurun, tetapi pengangguran tetap memburuk?

Hal ini bukan sesuatu yang tidak mungkin. Pemberian bantuan sosial dari pemerintah, pekerjaan informal, dan pendapatan rumah tangga bisa menjadi pagar yang menahan orang jatuh ke garis kemiskinan, namun hal demikian tidak selalu berarti tersedianya pekerjaan yang layak dan stabil.

Bila keadaan ini berlangsung dalam waktu yang lama, maka kita perlu mewaspadai akan timbulnya gejala yang lebih serius yaitu masyarakat yang bertahan hidup tanpa benar-benar sejahtera atau masyarakat dalam kesejahteraan semu.

Pembangunan pada dasarnya bukan hanya menghitung berapa manusia yang telah berjalan meninggalkan kemiskinan, namun juga mengawal dan memastikan mereka bisa berjalan masuk ke dalam sistem kerja yang layak dan stabil tanpa hambatan yang signifikan. Tanpa itu, data yang berupa angka akan hanya menjadi hiburan semu, sementara kerisauan rakyat terus berkobar.

Maka dari itu, saya tidak bermaksud mengklaim data. Saya sedang menyuarakan perasaan. Perasaan tertekan generasi muda yang lulus tanpa pekerjaan, perasaan khawatir para ibu dan ayah, dan rasa ketidak pastian para buruh yang hidup dari hari ke hari.

Masyarakat sipil, akademisi dan mereka yang diberikan mandat oleh rakyat (pemerintah) perlu duduk bersama, membicarakan hal ini secara jujur dan terbuka, apakah keberhasilan hari ini benar-benar dirasakan oleh warga, atau hanya kita rayakan dalam rilis statistik?

Penulis: Muhammad Yazid Khofi