LOMBOK TIMUR – Gelombang penolakan terhadap rencana pembangunan Sekolah Garuda di kawasan wisata Lemor, Kecamatan Suela, kembali disuarakan. Puluhan mahasiswa menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Bupati Lombok Timur, menuntut agar proyek tersebut segera dibatalkan.
Dalam orasinya, massa menilai pembangunan sekolah itu sarat kepentingan segelintir pihak dan justru berpotensi merusak tatanan lingkungan di kawasan hutan Lemor. Mereka menegaskan, lokasi yang dipilih tidak logis karena berada jauh dari pemukiman warga dan berdiri di atas kawasan yang seharusnya dijaga kelestariannya.
“Sekolah-sekolah di Lombok Timur saat ini masih banyak yang luput dari perhatian pemerintah. Fasilitas rusak, guru terbatas, dan murid kekurangan sarana belajar. Bukannya memperbaiki yang ada, malah mau bangun sekolah baru di tengah hutan dengan cara tergesa-gesa. Ini jelas janggal dan patut dicurigai ada kepentingan tersembunyi,” teriak salah satu orator aksi.
Mahasiswa juga menyoroti keputusan pemerintah yang dianggap tidak melibatkan masyarakat sekitar dalam proses perencanaan. Menurut mereka, pembangunan Sekolah Garuda bukan hanya tidak relevan dengan kebutuhan pendidikan lokal, tetapi juga menimbulkan ancaman kerusakan lingkungan di kawasan wisata Lemor yang selama ini menjadi salah satu aset alam Lombok Timur.
Menanggapi aksi tersebut, pemerintah yang diwakili Asisten I Bupati Lombok Timur akhirnya menemui massa aksi. Ia menyampaikan bahwa pemerintah akan menindaklanjuti tuntutan mahasiswa sesuai dengan regulasi yang berlaku.
“Apa yang menjadi aspirasi teman-teman mahasiswa akan kami sampaikan langsung kepada pimpinan daerah untuk ditindaklanjuti,” ujar Asisten I di hadapan massa aksi.
Meski demikian, mahasiswa menegaskan akan terus mengawal tuntutan ini hingga rencana pembangunan Sekolah Garuda benar-benar dibatalkan.||Ri CR.

