Tentang Puteri

Bab 2

Tentang Puteri

Penulis : Haerul Ansor R / Bang Erul

Mata adalah jendela yang melahirkan persepsi. Setiap pribadi punya tafsirnya sendiri, dan karenanya perdebatan pun tak pernah sepi dalam kehidupan. Bila semua alasan sudah habis terucap, yang tersisa hanyalah debat kusir sekadar mempertahankan persepsi tanpa tujuan.

Dan biarlah aku ceritakan siapa itu Puteri.
Aku memiliki pandangan yang berbeda tentangnya. Sebuah persepsi yang kujaga rapat-rapat, bukan hanya agar tidak terbantahkan oleh orang lain, melainkan juga supaya tak lapuk dimakan waktu. Aku hanya berharap, Puteri yang kukenal hari ini tidak akan jauh berbeda dengan Puteri yang kutemui di hari-hari mendatang.

Ia cantik. Senyumnya ibarat bunga yang mekar di musim semi. Sorot matanya teduh, seperti langit senja yang menenangkan. Suaranya,,,,ah, suaranya bak kidung alam yang menyejukkan telinga. Dalam dirinya aku menemukan satu paket keindahan semesta, yang sanggup membuatku bertahan ketika dunia nyata hanya menghadiahkan dinding beton tanpa jendela.

Puteri menebar benih kerinduan melalui setiap hal yang ia perlihatkan kepadaku. Senyumnya muncul di mana-mana, bahkan pada benda-benda yang kuamati. Kadang sampai aku sulit tidur, karena wajah dan senyumnya menempel di pelupuk mata. Aneh, senyum itu menular kepadaku. Aku jadi seperti orang linglung, tersenyum pada apa saja.

Kadang aku ingin semua orang melihat Puteri dari sudut pandangku. Aku ingin mereka mengakui betapa istimewanya ia. Namun di sisi lain, aku juga berharap mereka tetap pada pendirian masing-masing. Biarlah hanya aku yang melihat Puteri dengan cara yang berbeda, agar ia benar-benar merasa istimewa. Bukankah percuma aku jungkir-balik mencari makna kehadirannya, bila pada akhirnya Puteri terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang?

Puteri adalah gadis pemalu. Usianya enam tahun lebih muda dariku. Aku sadar, rentang usia itu menciptakan jurang wawasan dan pengalaman. Masa kecilnya berbeda jauh dari masa remajaku. Ia bisa mengejar masaku, tapi aku mustahil kembali ke masanya.

Namun bagiku, umur hanyalah angka, dan angka sekadar simbol. Simbol bisa dimaknai sesuai kehendak. Maka aku yakinkan diriku, yang terpenting adalah hati yang saling berdekatan. Dunia boleh menertawakan, menyebutku jatuh hati pada gadis belia yang mungkin masih lugu memandang hidup. Seakan aku tak mampu mencari perempuan sebaya, yang telah sama-sama jatuh bangun ditempa waktu.

Aku tak peduli.
Cinta adalah cinta senyawa yang lahir dari partikel peduli dan atom rindu. Ia seharusnya mampu melumat usia, jarak, status sosial, bahkan identitas apa pun, menjadi debu tak berarti.

Hari-hari berjalan, kenangan tentang Puteri menumpuk seperti gunung. Di dalamnya bergejolak lahar rindu yang sewaktu-waktu bisa meledak. Dan sebelum letusan itu terjadi, aku harus menemukan jalan untuk menuntaskan rinduku, meski telinga ini perih mendengar tawa kawan-kawan yang mencibir: bagaimana bisa aku jatuh hati pada seorang bocah SMP?

Tak mengapa. Anggap saja aku sedang beramal memberi mereka hiburan.

Saat bertemu kembali, Puteri tetaplah Puteri. Senyum malu-malunya masih sama, begitu pula suara lembutnya yang wangi di telinga. Aku menikmatinya seolah itu adalah perjumpaan terakhir. Hari itu, Desember 2015, untuk pertama kalinya aku mengambil potret bersamanya.

Namun ada satu hal yang selalu mengganjal.
Satu hal yang membuat Puteri ragu menjaga perasaannya, dan membuatku ingin sekali mengubah sejarah. Sebab aku dan Puteri… adalah sepupu.

Sejak kecil kami memang tak pernah dekat, barangkali karena jarak usia itu pula. Aku tak pernah tahu seperti apa Puteri kecil dulu. Andaikan ada mesin waktu, aku tak akan ragu menungganginya, kembali ke masa itu hanya untuk bermain bersamanya, menjaga setiap tawa dan air matanya.

Sayang, mesin waktu hanyalah dongeng. Bualan orang-orang yang tak puas pada masa kini. Mereka lupa: waktu hanya mengenal satu arah maju, tak pernah mundur.