Kaltim – Upaya pengembangan model budidaya tambak berkelanjutan berbasis ekologi atau yang dikenal dengan Silvofishery terus mendapat perhatian dari berbagai pihak. Dalam rangka memperkuat pemahaman dan implementasi di lapangan, Wahana Visi Indonesia (WVI) memfasilitasi kegiatan studi banding ke Kalimantan Timur pada tanggal 20–24 Juni 2025, dengan melibatkan 10 peserta dari berbagai unsur. Kegiatan ini menjadi salah satu langkah penting dalam rencana penerapan konsep Silvofishery MARVEL di Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur.
Rombongan terdiri dari 3 orang perwakilan WVI, 2 orang dari unsur pemerintah daerah yaitu Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) serta Bappeda Lombok Timur, dan 5 orang dari Desa Sugian—termasuk kepala desa dan empat masyarakat petani tambak. Salah satunya adalah Suhirman, petani tambak sekaligus penulis catatan ini, yang mengikuti secara langsung setiap proses dan pembelajaran di lokasi kunjungan.
Setibanya di Kalimantan Timur, peserta studi banding menginap terlebih dahulu di Hotel Grand Tjokro, Balikpapan. Pada hari kedua, 21 Juni, rombongan bergerak menuju lokasi pertama, yaitu Tambak Silvofishery di Desa Manggar, Kecamatan Balikpapan Timur. Tambak ini relatif baru beroperasi, sekitar empat bulan, dan dikelola oleh sebuah perusahaan milik pejabat di Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Tambak seluas 4 hektar ini menerapkan sistem ploting atau zonasi untuk masing-masing jenis komoditas seperti ikan bandeng, ikan nila salin, udang, dan kepiting. Sistem pengelolaan airnya memanfaatkan pintu air permanen dari beton yang terhubung ke kolam penampung, difungsikan sebagai filterisasi sebelum dialirkan ke kolam-kolam budidaya. Sirkulasi air masih menggunakan pola tradisional pasang-surut, sedangkan pakannya mengandalkan sumber alami yang didukung oleh proses pemupukan awal menggunakan pupuk kandang dan kapur, serta tambahan pakan buatan non-pabrikan berbasis dedak, daun pepaya, singkong, dan bahan lokal lainnya.
Model konstruksi tambaknya menggunakan plastik HDPE sebagai pelapis tanggul tanah untuk mencegah erosi. Yang menarik, sebagian area tambak juga mempertahankan keberadaan mangrove alami, sementara penanaman mangrove tambahan dilakukan baik langsung di tanah maupun menggunakan planter bag. Integrasi dengan konsep ekowisata terlihat jelas, mulai dari fasilitas kantor yang representatif, gazebo, hingga penanaman aneka buah di sekitar tanggul.
Meski baru beroperasi, nilai investasi di tambak ini tergolong besar dan belum menunjukkan hasil panen. Informasi teknis banyak diperoleh dari Ismail, salah satu pengelola tambak yang aktif mendampingi kunjungan.
Perjalanan berlanjut ke Samarinda, di mana rombongan menginap di Hotel Aston. Pada 22 Juni pagi, mereka bertolak ke Desa Muara Badak Ula, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara. Kunjungan ini istimewa karena turut didampingi oleh Prof. Esti Handayani Hardi, Guru Besar Fakultas Perikanan Universitas Mulawarman.
Untuk mencapai tambak, rombongan harus naik speed boat secara bergantian, karena lokasi tambak berada di kawasan hutan lindung yang telah diberikan hak kelola 35 tahun melalui skema Perhutanan Sosial sejak 2021. Luas areal yang dikelola Kelompok Perhutanan Sosial Ramah Lingkungan Salo Sambala mencapai 350 hektar, dengan masing-masing anggota mengelola 2–4 hektar lahan tambak secara turun-temurun sejak 1986.
Sistem budidaya yang diterapkan adalah polikultur, yakni memadukan beberapa jenis komoditas dalam satu petak tambak—antara lain udang, nila salin, bandeng, dan kepiting soka. Petakan tambak berukuran 1–2 hektar, jauh lebih luas dibandingkan rata-rata tambak di Lombok. Untuk melindungi dari predator seperti buaya dan biawak, tanggul tambak dilengkapi pagar jaring (waring), dan pintu air dibuat dari beton dengan palang kayu.
Kisah dan semangat para anggota kelompok Salo Sambala sangat menginspirasi. Mereka rela menempuh perjalanan jauh menggunakan perahu demi mengelola tambak, berbeda dengan kondisi di Sugian yang relatif dekat dari permukiman. Motivasi, kesabaran, dan kerja keras terbukti menjadi kunci keberhasilan mereka.
Pada 23 Juni, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi evaluatif di Fakultas Perikanan Universitas Mulawarman. Prof. Esti memandu peserta untuk menyusun strategi implementasi berdasarkan hasil observasi di lapangan. Beberapa catatan penting yang menjadi perhatian antara lain:
- Manajemen Salinitas dan Filterisasi Air Pembuatan pintu air dan kolam penampung untuk penyaringan sangat penting agar kualitas air tambak tetap terjaga.
- Pemupukan Dasar dan Pengapuran Sebelum tebar benih, tambak perlu dikeringkan dan diberi pupuk organik serta kapur untuk menstabilkan pH dan memunculkan plankton.
- PH Ideal untuk Tebar Benih pH air ideal antara 6–7. Bila di atas itu, perlu pengeringan ulang setelah pengapuran.
- Pemberian Pakan Tambahan Pakan tambahan mempercepat pertumbuhan dan masa panen. Pakan dapat diramu dari bahan lokal yang mudah diperoleh.
- Komposisi Pakan Mandiri Kandungan nutrisi pakan harus mencakup protein, karbohidrat, dan asam amino, yang bisa didapat dari bahan seperti dedak, daun singkong, azolla, limbah sayuran, dan lainnya.
Sebagai hasil dari studi banding yang telah dilakukan ke Kalimantan Timur, para peserta yang berasal dari Desa Sugian bersama unsur pemerintah daerah dan Wahana Visi Indonesia (WVI) menyepakati serangkaian langkah konkret yang akan menjadi panduan implementasi tambak silvofishery di Desa Sugian pada tahun 2025. Langkah awal yang akan dilakukan adalah menyusun rencana anggaran biaya secara partisipatif melalui skema kolaboratif antara masyarakat, pemerintah daerah, dan WVI sebagai mitra pendukung. Setelah rencana anggaran disepakati, tahap selanjutnya adalah melakukan pembersihan lahan yang akan digunakan sebagai lokasi tambak, untuk memastikan kondisi lahan bebas dari hambatan fisik dan siap diolah. Kemudian akan dibangun pintu air sebagai sarana vital untuk pengaturan sirkulasi masuk dan keluarnya air, yang juga akan berfungsi sebagai sistem penyaringan untuk menjaga kualitas air yang masuk ke kolam. Setelah infrastruktur dasar tersebut siap, lahan akan diolah melalui proses pengeringan, pengapuran, dan pemupukan dengan menggunakan pupuk organik seperti bokashi dari kotoran ternak. Pengolahan ini bertujuan untuk meningkatkan kesuburan tanah, menormalkan kadar pH, dan memicu pertumbuhan plankton sebagai pakan alami di dalam kolam.
Tahapan berikutnya adalah penebaran benih ikan, udang, dan kepiting sesuai dengan spesifikasi dan daya dukung lahan yang telah disiapkan. Sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat, akan diselenggarakan pelatihan bersama mengenai teknik pembuatan pakan mandiri berbahan lokal seperti dedak, daun papaya, daun singkong, umbi-umbian, azolla, dan limbah organik lainnya. Ini bertujuan untuk menekan biaya operasional serta memperpendek masa panen melalui asupan nutrisi yang seimbang bagi komoditas yang dibudidayakan.
Pemeliharaan tambak akan dilakukan secara rutin, termasuk pemberian pakan tambahan dan pemantauan kualitas air agar tetap sesuai dengan standar budidaya silvofishery. Untuk menjamin keberlangsungan dan efektivitas program, proses monitoring dan evaluasi akan dilaksanakan secara berkala oleh tim gabungan yang melibatkan unsur kelompok tani tambak, perangkat desa, instansi teknis pemerintah, dan WVI.
Keseluruhan proses ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi perikanan budidaya yang ramah lingkungan, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat pesisir Desa Sugian secara berkelanjutan.
Model tambak Silvofishery memberikan peluang besar untuk meningkatkan produktivitas perikanan budidaya secara berkelanjutan. Melalui sistem pakan alami dan efisiensi biaya operasional, petani tambak bisa memperoleh hasil yang baik tanpa ketergantungan pada pakan pabrikan.
Namun, keberhasilan tidak hadir tanpa kerja keras. Ketekunan, konsistensi, dan pendampingan teknis yang berkelanjutan adalah faktor krusial. Dalam hal ini, peserta sangat berharap WVI dan pemerintah tidak hanya berhenti pada tahap tebar benih, tetapi juga terus mendampingi dari awal hingga pascapanen, termasuk aspek hilirisasi produk.
“Semoga hasil studi banding ini menjadi pemicu semangat dan inspirasi bagi kami di Sugian untuk mengembangkan budidaya tambak yang ramah lingkungan, produktif, dan berkelanjutan,” tutup Suhirman.|| Anshori


