Pertemuan Tak Berencana

 

Pertemuan Tak Berencana

 

Penulis: Haerul Ansor R / Bang Elong

Opini|Aku membuka mata, dan langit masih sama dengan semalam, hitam legam, sunyi, seperti selembar kain kabung yang menutup cahaya. Aku tidak tahu bagaimana rupa bulan semalam: apakah ia bulat sempurna, separuh kehilangan dirinya, sabit tipis yang pemalu, atau justru terhapus oleh gerhana? Bagiku, malam selalu serupa. Ia hanya pengulangan tak berujung.

 

Percayakah kau pada ucapanku? Sebenarnya aku berbohong. Sebab hidup ini tak melulu seragam. Ada momen yang menyala seperti lentera, ingin kita jaga, kita ceritakan berulang-ulang seolah hanya kita yang diberi kesempatan merasakannya. Namun ada pula yang getir, yang ingin kita buang sejauh mungkin. Dan ada pula sesuatu yang indah namun justru kita bungkamkan, karena ada hal lain yang jauh lebih dahsyat menuntut ruang. Itulah yang kini terjadi padaku, Kawan.

 

Semuanya berawal dari sebuah anggukan kecil. Ringan, seakan kepalaku ditiup angin, ketika seorang teman mengajakku singgah di sebuah pondok pesantren. Aku pun melangkah tanpa sempat bertanya mengapa. Barangkali hanya intuisi.

 

Namun di sanalah, sebuah getar meletup.

Getar halus yang bernama Puteri.

Ah, betapa terlambat aku menangkapnya. Getar itu bukan gelombang keras, melainkan riak kecil yang hanya bisa dirasakan bila hati sedang sunyi. Dan aku baru benar-benar mendengarnya ketika jarak puluhan kilometer sudah memisahkan aku darinya.

 

Ingatan pun berputar seperti pita tua dalam kepalaku. Terbayang kembali suasana pondok yang teduh, wajah-wajah santriwati yang bersahaja, dan tentu saja: senyum Puteri. Senyum yang menahan waktu. Semua berakhir pada satu adegan: tatapan kami bersilang, seulas senyum singkat bertukar tempat, dan aku diam-diam tercerabut dari diriku sendiri.

 

Aku mencoba mencari di mana letak getar itu. Namun aku gagal. Ia begitu samar, seperti oksigen yang masuk tanpa suara, lalu tiba-tiba menyalakan api dalam darahku. Ia menjelma memori, lalu bermetamorfosis menjadi emosi.

 

Dan kau tahu, Kawan, emosi adalah dalang licik. Ia bisa memperdaya logika, menggeser rasio, hingga aku tersenyum sendirian di tengah hening. Hidup yang semula sepi mendadak berisik oleh desir yang tak kuundang.

 

Aku bukan pengembara yang mabuk bunga. Aku tidak hinggap dari satu kelopak ke kelopak lain hanya untuk mencicipi manisnya madu. Aku hanyalah pencari satu bunga tunggal, bunga yang ingin kusunting. Namun, pencarian itu kerap menjadi pengulangan melelahkan. terbang, singgah, pergi lagi. Hingga akhirnya aku menyerah, memilih berhenti, menenggelamkan diri dalam dunia pendidikan, dan menikmati kebebasan bersama sahabat-sahabatku.

 

Dunia ini luas, Kawan. Jangan biarkan kita terkungkung menjadi katak dalam tempurung. Masa muda terlalu sebentar untuk disia-siakan. Teguklah ia sampai kau temukan dasar gelas yang kosong.

Dan kemudian tibalah hari itu.

Hari Puteri.

Siapa sangka seseorang mampu merobek kebosanan pengulangan hari-hariku? Hidup memang misteri, tak pernah sepenuhnya bisa kita terka. Kadang ia menampar dengan luka, kadang ia mengejutkan dengan bahagia.

 

“Apa arti getaran ini?” tanyaku dalam hati. Aku mengobrak abrik ingatan, seakan tong sampah yang dikais kucing demi sepotong tulang. Aku berusaha menemukan detail kecil yang membuatku terguncang.

 

Getar itu manis. Terlalu manis, hingga perutku kenyang tanpa pernah menyentuh nasi. Getar itu menyeretku pada satu pengakuan yang tak bisa kutampik:

 

Aku jatuh cinta.

Kepada Puteri.

 

Kini aku tahu, cinta itu memang tak kasat mata, tapi nyata. Ia tidak tumbuh seperti pohon, tidak berpendar seperti matahari, tidak menetes seperti hujan. Ia hanya bisa ditangkap lewat tanda-tanda yang kita sepakati bersama: seulas senyum, sekejap tatap, sebaris nama yang berulang kali mengusik doa.

 

Cinta membuat jantungku berdetak seperti genderang perang. Darahku berlari deras seperti sungai yang tak sabar bertemu muara. Pikiranku buntu, tak sanggup melahirkan satu kalimat pun di hadapan Puteri.

 

Namun dialah yang meruntuhkan lelahku, hingga aku rela memeluk lamunan setiap detik.

Dialah yang mematikan sepi, hingga aku tak lagi merasa sendiri.