Oleh: ILHAM
21 Juni 2025 akan tercatat dalam sejarah sebagai hari yang penuh makna, tidak hanya bagi masyarakat Desa Pejanggik, tetapi juga bagi seluruh bangsa Indonesia. Pada hari itu, Menteri Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Bapak Natalius Pigai, menetapkan Desa Pejanggik sebagai Desa Sadar HAM, satu-satunya desa di Indonesia yang secara resmi menyandang predikat ini.
Ironisnya, pada saat yang sama di belahan dunia lain, tepatnya di kawasan Timur Tengah, perang antara Iran dan Israel kembali memanas. Roket-roket diluncurkan, ribuan nyawa melayang, dan suara tangis anak-anak menggema di puing-puing bangunan yang hancur. Dunia kembali mempertontonkan sisi kelam dari kemanusiaan yang gagal dirawat.
Namun, di tengah kabut darah dan dendam yang membungkus bumi, Pejanggik berdiri sebagai secercah cahaya peradaban. Cahaya yang lahir bukan dari kekuatan senjata atau kecanggihan teknologi, melainkan dari kearifan lokal dan nilai-nilai luhur budaya yang telah hidup ratusan tahun lamanya.
Ketika Dunia Terpecah, Pejanggik Memeluk Kemanusiaan
Penetapan Desa Pejanggik sebagai Desa Sadar HAM bukan sekadar seremoni atau penghargaan simbolik. Ini adalah pengakuan atas tradisi masyarakat Pejanggik yang secara alami telah mengamalkan prinsip-prinsip dasar hak asasi manusia jauh sebelum istilah “HAM” dikenal luas.
Di Pejanggik, setiap persoalan diselesaikan lewat musyawarah, bukan pertikaian. Dalam budaya begibung, setiap orang makan dari satu dulang, sebagai simbol kesetaraan tanpa sekat kelas. Belangar Di hari duka, menandakan semua ikut berkabung. Tradisi Begawe adalah bentuk dari Rasa Syukur yang harus dinikmati bersama, sehingga semua akan ikut bersyukur. Inilah bentuk konkret solidaritas sosial dan penghargaan atas martabat manusiia. nilai-nilai yang justru sering terlupakan dalam dinamika global saat ini.
Sementara di Timur Tengah, manusia saling menembaki karena bendera dan doktrin, di Pejanggik, manusia saling menguatkan karena nilai dan rasa.
Nilai-Nilai Lokal, Solusi Global
Apa yang terjadi di Iran dan Israel adalah puncak dari konflik panjang yang dipicu oleh perebutan tanah, identitas, dan klaim kebenaran. Ketika nilai-nilai kemanusiaan dikorbankan demi kepentingan politik dan ideologi, maka yang tersisa hanyalah kehancuran.
Berbeda dengan itu, budaya Pejanggik mengajarkan bahwa perbedaan bukan untuk dimusuhi, melainkan untuk dimengerti. Di balai adat, suara anak muda dan orang tua sama-sama didengar. Di ladang dan sawah, kerja dilakukan bersama tanpa melihat status atau garis keturunan.
Inilah filsafat hidup yang relevan secara universal, meski lahir dari akar lokal. Pejanggik menunjukkan bahwa desa kecil bisa memiliki jiwa yang besar. Bahwa solusi global terkadang justru berakar dari lokalitas yang tulus.
Menyalakan Obor Harapan dari Tanah Sasak
Penetapan Desa Pejanggik sebagai Desa Sadar HAM oleh Menteri HAM RI Natalius Pigai adalah momentum yang mengingatkan kita bahwa Indonesia memiliki model peradaban yang damai dan manusiawi—tanpa harus meniru barat atau terjebak dalam konflik Timur Tengah.
Pejanggik kini bukan hanya milik Lombok atau NTB, tapi menjadi contoh hidup bahwa peradaban tidak selalu dibangun dengan gedung tinggi dan teknologi canggih, tapi dengan nilai-nilai penghormatan terhadap sesama.
Di saat dunia menangis, Pejanggik mengajarkan bagaimana menangis bersama dan saling menghibur. Di saat dunia saling menyalahkan, Pejanggik menawarkan cara untuk saling memahami. Di saat dunia menghancurkan demi kekuasaan, Pejanggik membangun untuk kehidupan.
Dari Pejanggik untuk Dunia
Dari tanah yang dahulu menjadi pusat kerajaan Sasak, kini tumbuh benih peradaban baru—peradaban yang menjunjung tinggi martabat manusia, yang merawat nilai-nilai kearifan leluhur, dan yang menjadi pengingat bahwa damai itu mungkin, jika hati tetap terbuka dan tangan tetap terulur.
Pejanggik adalah bukti bahwa di tengah kelamnya konflik dunia, Indonesia masih punya cahaya. Dan mungkin, dari desa kecil inilah, dunia bisa belajar kembali menjadi manusia

