Musa Alhadi: Gagasan Tak Pernah Kemarau

Pukul 16.17 WITA, sebuah pesan duka masuk ke grup WhatsApp Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kabupaten Lombok Timur. Kabar itu membuat saya terdiam. Gita Purnadi—sahabat seperjuangan di HMI, mantan pengurus HMI Cabang Selong pada masa saya menjadi Ketua Umum tahun 2007–2009—mengabarkan salah satu senior telah berpulang ke rahmatullah.

Saya matikan laptop. Pikiran saya langsung tertuju pada sosoknya. Saya masih setengah tak percaya. Untuk memastikan, saya menghubungi salah satu keluarganya, Zatul Akmal, mantan Sekretaris Bakesbangpoldagri. Jawabannya menegaskan: kabar itu benar. Gita telah tiada.

Beberapa minggu sebelumnya, saya masih sempat berbincang dengannya dalam perjalanan pulang ke Teros usai rapat bulanan Baitul Maal wat Tamwil (BMT). Di dalam mobil, seperti biasa, kami larut dalam diskusi—bukan basa-basi kosong, melainkan percakapan serius tentang ekonomi umat, pengelolaan keuangan syariah, hingga situasi politik lokal dan nasional.

“Ekonomi syariah ini, Pak Wan, bukan sekadar alternatif. Ini solusi. Metode paling relevan di tengah krisis sistem ekonomi konvensional yang makin rapuh,” katanya tegas, dengan sorot mata tajam namun teduh

Almarhum  juga menyebut rencana Muhammadiyah mendirikan bank syariah sendiri sebagai langkah monumental. Ia melihat langkah itu sebagai representasi dari visi jangka panjang untuk membangun perekonomian umat berbasis nilai dan integritas. “Bank syariah Muhammadiyah bisa menjadi panduan perilaku dan sistem bagi perbankan syariah di Indonesia,” ujarnya.

Setibanya kami di Perempatan Tanjung, ia kembali mengulas kebijakan Pemda saat itu yang membagikan paket sembako untuk menekan inflasi.

“Kebijakan itu tepat, Pak Wan. Asal sembako itu sampai pada mereka yang betul-betul membutuhkan. Lebih baik itu daripada uang tunai yang rawan disalahgunakan—buat beli paket data HP, nonton Facebook,” ucapnya, menyelipkan ironi.

Percakapan kami hari itu ditutup dengan pernyataan yang belakangan saya yakini sebagai wasiat.

“KAHMI harus terus mendorong ekonomi kerakyatan. Jangan lupa, kita punya tanggung jawab meneruskan gagasan para senior—termasuk berdirinya BAZNAS Lombok Timur.”

Kini, kalimat itu bergema dalam hati saya. Itu bukan sekadar opini. Itu adalah amanat. Wasiat ideologis yang harus dijaga, dirawat, dan diteruskan.

 

Musa dan Para Pemikir Tanpa Lelah

Musa Alhadi bukan hanya seorang aktivis. Ia adalah pemikir yang tidak pernah berhenti menggali, mencipta, dan menyalurkan gagasan. Bersama dua sahabat dekatnya—Lalau Gafar Ismail, M.M., mantan Kepala Bappeda Lotim, dan Muhammad Nahdi, M.Pd.—ia menjadi bagian dari lingkaran kecil pemikir yang melahirkan banyak inisiatif. Dari pendirian BMT di berbagai tempat, pengembangan ekonomi berbasis masjid, hingga edukasi literasi keuangan umat.

Saya mengenalnya sebagai sosok negarawan lokal—bukan karena jabatan, tetapi karena integritasnya. Ia selalu terbuka pada diskusi, bahkan saat berbeda pandangan. Salah satu momen penting yang saya kenang adalah ketika meletus kontroversi zakat profesi di masa pemerintahan Dr. H. Ali Bin Dachlan. Musa termasuk barisan terdepan pendukung zakat profesi. Ia ikut mendirikan organisasi tandingan guru: Persatuan Guru Muslim Indonesia (PERGUMI), dan pasukan advokasi sosial bernama GEMPITA (Gerakan Pembela Tanah Air).

Sebaliknya, saya—sebagai Ketua Umum HMI Cabang Selong kala itu—memilih menolak zakat profesi atas alasan teknis. Namun, Musa tidak pernah mempermasalahkan perbedaan itu. Malah ia memberi apresiasi:

“Kalian punya alasan teknis yang rasional. Itu perlu dihargai. Jangan pernah takut berbeda.”

Saya sempat khawatir akan terjadi ‘embargo’ terhadap kegiatan cabang akibat perbedaan itu. Tapi dugaan saya keliru. Ia justru terus memberi dukungan, baik moril maupun ide. Tidak ada sikap baper. Tidak ada intrik. Hanya diskusi, kerja, dan gagasan.

Vitamin Bernama Diskusi

Ketika saya mulai menjadi “purnawirawan” HMI dan aktif di Majalah Ghiroh, Musa kembali hadir sebagai rekan diskusi yang tak tergantikan. Majalah ini didirikan oleh Lalu Gafar Ismail bersama sahabat-sahabat pemikir lainnya. Bagi Musa, diskusi bukan sekadar sarana berbagi pendapat. Diskusi adalah vitamin pikiran. Bahkan, ia pernah berkata:

“Sehari saja saya tidak berdiskusi, rasanya badan saya langsung kurang sehat.”

Kami sering begadang hingga tengah malam, membahas tema-tema strategis seperti “Politik Syariah: Berhenti Makan Sebelum Kenyang”. Ia tidak pernah lelah menyusun kisi-kisi wawancara, mencari tokoh narasumber, dan menyempurnakan narasi.

Tak cukup sampai di situ. Untuk mewujudkan idealismenya, kami mendorongnya untuk maju sebagai komisioner di Komisi Pemilihan Umum (KPU). Saat menjabat, ia membuktikan integritasnya. Tidak pernah ada titipan. Bahkan untuk mengangkat sanak saudara jadi Ketua KPPS pun ia tolak. Prinsip dan independensi adalah kompas hidupnya.

 

Warisan Gagasan yang Tak Boleh Mati

Kini, Musa telah berpulang. Tapi ia tak pergi dengan tangan kosong. Ia meninggalkan warisan besar: gagasan dan integritas. Ia meyakini bahwa perubahan besar berawal dari diskusi kecil. Dari obrolan di dalam mobil, dari bincang di teras masjid, dari rapat-rapat kecil yang tidak diliput media.

Ia mengajarkan bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tapi untuk memperkaya perspektif. Bahwa kesetiaan pada ide jauh lebih penting dari kesetiaan pada kepentingan. Bahwa aktivisme tanpa gagasan hanyalah euforia sesaat.

Selamat jalan, Kakanda Musa Alhadi. Engkau telah menunaikan tugasmu dengan jujur dan bermartabat. Kami—adik-adikmu, sahabat-sahabatmu, dan generasi penerus di KAHMI dan HMI—akan terus melanjutkan warisan ide dan semangatmu.

Karena sesungguhnya, orang besar tidak benar-benar pergi. Mereka hidup dalam gagasan yang terus menginspirasi.

Marsoan (Direktur Pusat Kajian Jalan Tengah NTB