Oleh : Wahid Hasyim, Pegiat Sekolah Kebangsaan dan HI rumah Produktif Indonesia
Corongrakyat.co.id -Dunia dimana kita berpijak Sudah benar-benar menjadi lahan yang menyidihkan, kesengsaraan tidak benar-benar menjadi kebatingan sebagian manusia ditengah problemnya. Lahirnya ide dan hati yang tulus menjadi suatu yang kita cita-citakan dalam perang bertarung melawan pandemi covid-19.
Sementara iman dan imun menjadi perdebatan para masyarakat dengan para relawan, tokoh agama dengan tokoh bangsa, sementara saat adu mulut virus terus berjalan dalam sendi-sendi kehidupannya bahkan teknologi yang diagungkan bagaikan singa menjelma menjadi kucing.
Virus telah melampaui cepat dari kebijakan pemerintah yang dibuat, tidak kenal tua dan muda, virus tetap gegap gepita memperlihatkan bisanya menerkam dunia bahkan pada kesombongan para penguasa.
Keringat kepedulian bercucuran tapi banyak pula keringan citra diri demi eksistensi dan politisasi sengala hal yang menguntungkan kepentingan diri, meski agamanya telah menyakini bahwa kepalsuan bisa dibaca oleh Tuhan-Nya, dan kepalsuan akan menyengsarakan tapi masa bodoh katanya, yang penting mereka bisa membalikan mata manusia sehingga lupa Tuhan menjadi lupa segalanya.
Sementara masyarakat yang menjadi instrumen terpenting dalam perang melawan Covid-19, bertolak belakang mengenai kemengannya sendiri, sikap acu yang di perlihatkan semakin menjadi-jadi bukan suatu tanpa alasan, menurut mereka kami kerja hari ini untuk makan hari ini, kami taat aturan tapi pemerintah sendiri yang mengajarkan agar tidak taat. Memberikan kebijakan yang pinjang di dunia nyata kami, aturan longgar sana, longar sini, pilih kasih sana, pilih kasih sini. (rakyat).
Sementara sifat membangkan menjadi kedaraan virus tercepat dan menjadi kawan setia dalam perjalanan, sehingga tak heran apabila ada kata “indonesia terserah aja” itu semua dilahirkan dari sifat membangkang, yang bisa lahir dari penguasa yang salah dan bisa saja lahir dari masyarakat yang keliru.
Harus ada ide yang mampu mengisolasikan pembakangan agar hajat hidup ummat ini terselamatkan, entah itu teori hukum dengan regulasinya, teori ekonomi dengan strateginya, maupun teori pendidikan dengan gagasannya atau kita lahirkan ide Rasulullah di zaman ini.
Kita telah menjadi penikmat derita yang kejam, karena menciptakan rindu anak kecil kepada ayah dan ibunya yang tidak akan kembali lagi dari kehidupannya.
Kita telah menjadi penikmat yang paling zholim, membiarkan mereka terpapar sakit dengan perih dan pedihnya lapar, sementara hasilnya kayaan kalian dari keringatnya. Kita telah menjadi penikmat yang serakah, karena penguasa tidak memberikan senjata, perisai dalam berperang kepada perajuritnya.
Pemimpin kejahatan (setan) telah berhasil menghasut nafsu menjadi tama’ dan serakah. Sehingga ke zholiman penguasa atas tahta, pengusaha dengan hartanya, dan masyarakat dengan kesadarannya yang membuat kita terasingkan bersama sifat buruk sendiri.
Mengasingkan keputusasaan adalah senjata yang akan membunuh kita sendiri, membiarkan mereka terpapar dengan kelalaian atas pemangku kebijakan akan membuat Tuhan mengutuk dirimu atas prilakumu.
Iya… kita akan mati tapi demi kemulian dan Kepedulian, kemanfaatan atas hidup lahir dari kemanisan iman, tanamkan iman lalau angkat pedangmu dan mulailah dengan nama Tuhanmu.
Secerca asas dan hati tulus akan meredam emosi dan merasakan keberdaannya mereka dan saya yakin kita akan menjemput bahagia karena itulah Rindu yang paling kita nanti.
Teluk kemuning, _jumat 12-Juni-2020

