Melihat Lebih Dekat Kehidupan Masyarakat Sekaroh

Papuq Pita, salah seorang dari ribuan warga miskin lainnya di desa Sekaroh.

•Masyarakat Miskin Tak Mendapat Perhatian Pemerintah

Ribuan Kepala Keluarga (KK) miskin di wilayah selatan kabupaten Lombok Timur kurang
mendapatkan perhatian, bahkan tidak tersentuh program atau bantuan baik dari pemerintah daerah
maupun pusat.

LOMBOK TIMUR, Corongrakyat.co.id – Salah satunya adalah desa Sekaroh kecamatan Jerowaru kabupaten
Lombok Timur, wilayah terluar Lombok Timur selatan yang terdiri dari 2667 KK tersebut kondisi
penduduknya sangat memperihatinkan.
Pantauan Corong Rakyat pada Tujuh wilayah kekadusan desa Sekaroh, Selasa (03/10/2017), hanya
sekitar 10 persen KK yang memiliki rumah permanen dengan ukurang tidak kurang dari 6×8 meter,
sedangkan sekitar 90 persennya adalah pemukiman penduduk dengan rumah sangat tidak layak huni
dengan ukuran tidak lebih dari 3×4 meter.
Kondisi rumah sebagian besar warga Sekaroh hanya berdinding bedeg (anyaman bambu-Red) yang
sudah mulai lapuk, atapnya rusak dan ditupi terpal robek alias setengah rusak berat. Uniknya walau
kondidi seperti itu mereka tetap menempati rumah itu.
Pemandangan lain yang kerap kita temui diwilayah itu, banyaknya anak-anak usia sekolah dasara
dengan pakaian lusuh yang tengah asyik mengumpulkan buah sengon yang sudah kering, itu mereka
jadikan camilan.
Tidak ada aktivitas lebih penduduk desa setempat, bahka kebanyakan remaja putus sekolah bahkan
tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang ebih tinggi setelah tamat Seolah Dasar (SD)
karena persoalan biayan dan kurangnnya infrastruktur pendidikan di wilayah itu.
Selain berladang menanam jagung dihamparan tanah kering yang hanya mengandalkan air hujan,
sebagian penduduknya menggantungkan kehidupan keluarganya dari hasil buruh tani dan nelayan.
Adalah Papuq Pita (67), salah satu warga miskin dusun Ujung Ketangga desa Sekaroh saat ditemua
Corong Rakyat sedang duduk termenung seorang diri depan pintu gubuk reotnya, pada gubuk
dengan ukura sekitar 3×4 meter berdinding bedek lapuk, atap rumahnya yang berbahan bedek
terdapat banyak retakannya. Pada gubuk reot dengan dua bilik, yakni satu kamar tidur sekaligus
ruang tamu dan satu ruangan dijadikan dapur itu ia tinggal berdua bersama cucunya.
Tidak ada perabot mewan didalam dafpurnya, selain beberapa peralatan masak sederhana dan
tungu kayu serta Dua buah ember kecil tempat menyiman air minum.
Sesekali berbicara Papuq Pita terlihat menelan air liurnya seakan sedang menahan lapar dan dahaga.
Maklum, selain bahan pangan berupa beras dan lainnya, air juga merupakan masalah terbesar di
desa Sekaroh.
Dengan wajah lesu, badan keriput berbalut pakaian lusuh Papuk Pita bercerita kalau ia dan cucunya
hanya menggantungkan hidupnya dari hasil berburuh di ladang-ladang warga.

“Tapi sekarang sudah tidak ada lagi yang dapat kami kerjakan, sebab saat musim kemarau tidak ada
ladang yang bisa ditanami,” ujar Papuq yang kini sudah mulai renta dengan kulit keriput berbalut
pakaian lusuh itu.
Ditambahkannya, yang mejadi masalah umum bagi masyarakat setempat adalah masalah sarana air
bersih untuk kebutuhan memasak dan minum. Untuk mendapatkan 1 ember air bersih Papuk Pita
dan ribuan warga lainnya harus membayar Rp. 15.000. yang mereka beli dari tangki air yang masuk
diwilayah itu.
“Kecuali kalau musim hujan tiba, kami memanfaatkan air hujan yang berhasil kami tampung,”
tandasnya.
Papuq Pita, merupakan gambaran kehidupan suram ribuan KK desa Sekaroh, sebab sejak puluhan
tahun mereka menetap didaerah kering-kerontang itu tidak ada perubahan yang signifikan terkait
pola dan gaya hidup masyarakat setempat, hal itu seakan menunjukkan bahwa pemerintah daerah
dalam hal ini Bupati Lombok Timur kuran perduli terhadap mereka.
Sementara itu, Pemerintah desa Sekaroh melalui Kaur Trantib, Kasdan, Selasa (03/10/2017)
mengatakan bahwa masyarakat desa Sekaroh sudh terbiasa dengan kondisi seperti itu.
Walau demikian, ia menyebutkab bahwa sejak tahun 2015 – 2017 sebanyak 77 unit Rumah Tinggal
Layak Huni (RTLH), yakni 10 unit dari Bansos dan 67 unit dianggarkan dari Dana Desa (DD) setempat.
“Kedepannya, kami akan coba menganggarkan Tiga unit RTLH per Dusun untuk tiap tahunnya,” ujar
Kasdan.
Selain itu, ia juga membeberkan, bahwa wraga miskin yang ada diwilayahnya hanya mendapatkan
jatah 2 hingga 2,5 kg raskin setiap KK.(cr-max)